Sebaik-baik Manusia Adalah Orang yang Bermanfaat Bagi Sesama (H.R Buchori Muslim)
“Hidup adalah perjalanan waktu dan perpindahan tempat. Kapan pun dan di mana pun kita berada, haruslah memberi manfaat bagi sesama, karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Learn, Share, Success! (Muhammad Ali Murtadlo)”
Tampilkan postingan dengan label Suara Samin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Suara Samin. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Oktober 2012

Mengenal Samin dan Ajarannya


Tulisan ini merupakan salah satu dari teks historis-sosiologis yang mencoba disuguhkan untuk mengenal suatu masyarakat secara komprehensif dan mendalam. Tulisan ini diharapkan menjadi suguhan kepada pembaca secara berbeda, karena sampai saat ini masih kentalnya pengetahuan masyarakat akan orang Samin tidak beda dengan masyarakat yang terbelakang, terisolir, dan anti kemajuan. Karena penulis khawatir dari kesekian kalinya kekerasan pada pemeluk aliran kepercayaan sering dipertontonkan, dan sangat mungkin terjadi pada pada entitas masyarakat Samin.
Tulisan ini merujuk dari berbagai sumber, termasuk buah tangan Sastroatmodjo (2003), film dokumenter mas Arto di Studio 12 Ungaran, dan hasil diskusi hasil KKL (Kuliah Kerja Lapangan) pada saat duduk di bangku kuliah di Program Studi Pendidikan Sosiologi & Antropologi Unnes.

Sejarah Munculnya Saminisme
Otak intelektual gerakan Saminisme adalah Raden Surowijoyo. Pengetahuan intelektual Kyai Samin ini didapat dari ayah, yaitu anak dari pangeran Kusumaniayu (Bupati Sumoroto, yaitu kawasan distrik pada kabupaten Tulungagung Jawatimur). Lelaki kelahiran tahun 1859 di Ploso ini sejak dini dijejali dengan pandangan-pandangan viguratif pewayangan yang mengagungkan tapabrata, gemar prihatin, suka mengalah (demi kemenangan akhir), dan mencintai keadilan.
Beranjak dewasa, dia terpukul melihat realitas yang terjadi, yaitu banyaknya nasib rakyat yang sengsara, dimana Belanda pada saat itu sangat rajin melakukan privatisasi hutan jati dan mewajibkan rakyat untuk membayar pajak. Pada saat itulah, Raden Surowijoyo melakukan perampokan pada keluarga kaya dan hasilnya dibagi-bagi kepada fakir miskin. Dia juga menghimpun para berandalan di Rajegwesi dan Kanner yang di kemudian hari menyusahkan pihak Gupermen. Pada saat itulah, Kyai keturunan bangsawan ini dikenal oleh masyarakat kecil dengan sebutan Kyai Samin yang berasal dari kata “sami-sami amin” yang artinya rakyat sama-sama setuju ketika Raden Surawijoyo melakukan langkah memberandalkan diri untuk membiayai pembangunan unit masyarakat miskin.
Kyai Samin Surosantiko tidak hanya melakukan gerakan agresif revolusioner, dia juga melakukan ekspansi gagasan dan pengetahuan sebagai bentuk pendekatan transintelektual kaum tertindas (petani rakyat jelata) dengan cara ceramah di pendopo-pendopo pemerintahan desa. Isi ceramah ini yaitu keinginan membangun kerajaan Amartapura. Adapun pesan substantif yang didengung-dengungkan yaitu meliputi; jatmiko (bijaksana) dalam kehendak, ibadah, mawas diri, mengatasi bencana alam, dan jatmiko selalu berpegangan akan budi pekerti.
Namun, akhir pergerakan dari Kyai Samin Surosantiko dicekal oleh Belanda dan ia dibuang ke Tanah Lunto pada tahun 1914, yang belum sempat mengaktualisasikan seluruh ide-idenya. Bukan hanya otak pergerakannya, bahkan kitab orang Samin yang ditulisnya juga disita yang berjudul Serat Jamus Kalimasada, demikian pula dengan kitab-kitab pandom kehidupan orang-orang Samin.
Kyai Samin Surosantiko merupakan generasi Samin Anom yang melanjutkan gerakan dari sang Ayah yang disebut sebagai Samin Sepuh. Sehingga pada masa kepemimpinannya, ajaran Saminisme terbagai dalam dua sekte, yaitu sekte Samin Sepuh dan sekte Samin Anom. Siklus kepemimpinan ini secara mati-matian berusaha menciptakan masyarakat yang bersahaja lahir dan batin. Kyai Samin memiliki sikap puritan, dia bukanlah petani biasa, namun dia adalah cucu dari seorang pangeran. Kyai Samin adalah orang yang gigih dalam menggoreskan kalam untuk membagun insan kamil dengan latar belakang ekonomi yang mapan.

Inti Ajaran
Masyarakat Samin (Saminisme) memiliki tiga unsur gerakan. Pertama, gerakan yang mirip organisasi proletariat kuno yang menentang sistem feodalisme dan kolonial dengan kekuatan agraris terselubung. Kedua, gerakan yang bersifat utopis tanpa perlawanan fisik yang mencolok. Ketiga, gerakan yang berdiam diri dengan cara tidak membayar pajak, tidak menyumbangkan tenaga untuk negeri, menjegal peraturan agraria dan pengejawantahan diri sendiri sebagai dewa suci.
Menurut Kartodirjo, gerakan Samin adalah sebuah epos perjuangan rakyat yang berbentuk “kraman brandalan” sebagai suatu babak sejarah nasional, yaitu sebagai gerakan ratu adil yang menentang kekuasaan kulit putih. Ajaran Samin bersumber dari agama Hindhu-Dharma. Beberapa sempalan ajaran Kyai Samin yang ditulis dalam bahasa Jawa baru yaitu dalam bentuk puisi tradisional (tembang macapat) dan prosa (gancaran).
Secara historis ajaran Samin ini berlatar dari lembah Bengawan Solo (Boyolali dan Surakarta). Ajaran Samin berhubungan dengan ajaran agama Syiwa-Budha sebagai sinkretisme antara Hindhu-Budha. Namun pada perjalanannya ajaran di atas dipengaruhi oleh ajaran ke-Islaman yang berasal dari ajaran Syeh Siti Jenar yang dibawa oleh muridnya yaitu Ki Ageng Pengging. Sehingga patut dicatat, orang Samin merupakan bagian masyarakat yang berbudaya dan religius.
Daerah persebaran ajaran Samin menurut Sastroatmodjo (2003) di antaranya di Tapelan (Bojonegoro), Nginggil dan Klopoduwur (Blora), Kutuk (Kudus), Gunngsegara (Brebes), Kandangan (Pati), dan Tlaga Anyar (Lamongan). Ajaran di beberapa daerah ini merupakan sebuah gerakan meditasi dan mengerahkan kekuatan batiniah guna menguasai hawa nafsu.
Perlawanan orang Samin sebenarnya merefleksikan kejengkelan penguasa pribumi setempat dalam menjalankan pemerintahan di Randublatung. Tindakan perlawanan ini dalam bentuk gerakan mogok membayar pajak, mengambil pohon kayu di hutan semaunya, bepergian tanpa membayar karcis kereta, dan sebagainya. Perbuatan di atas membuat Belanda geram dan menyinggung banyak pihak yang menimbulkan kontradiksi yang tak kunjung padam dan membara.
Pandangan orang Samin terhadap pemimpinnya sampai saat ini masih mengakui bahwa Kyai Samin tidak pernah mati, Kyai Samin hanya mokhsa dan menjadi penghuni kaswargan. Tokoh ini dimitoskan secara fanatik, bahkan pada momentum perayaan upacara rasulan dan mauludan sebagai ajang untuk mengenang kepahlawanan Kyai Samin. Setiap pemuka masyarakat Samin selalu berbegangan sejenis primbon (kepek) yang mengatur kehidupan luas, kebijaksanaan, petunjuk dasar ketuhanan, tata pergaulan muda-mudi, remaja, dewasa, dan antarwarga Samin.
Bahasa yang digunakan oleh orang Samin yaitu bahasa Kawi yang ditambah dengan dialek setempat, yaitu bahasa Kawi desa kasar. Orang Samin memiliki kepribadian yang polos dan jujur, hal ini dapat dilihat setiap ada tamu yang datang, orang Samin selalu menyuguhkan makanan yang dimiliki dan tidak pernah menyimpan makanan yang dimilikinya. Pengetahuan orang Samin terhadap rites perkawinan adalah unik, mereka menganggap bahwa dengan melalui rites perkawinan, mereka dapat belajar ilmu kasunyatan (kajian realistis) yang selalu menekankan pada dalih kemanusiaan, rasa sosial, kekeluargaan dan tanggung jawab sosial.

Mulai Mengalami Perkembangan
Seiring berkembangya zaman yang menuntut masyarakatnya untuk berkembang, membuat orang Samin pun harus mengalamu perkembangan. Mereka percaya, bahwa dalam menuju kemajuan harus dilalui dengan marangkak lambat. Maju itu melalui proses, dan proses itu perlu tahapan-tahapan yang menjadi tangga untuk menjadi mayarakat yang maju. Hal ini dapat dilihat dengan perilaku menolak mesin seperti traktor, huller, dan lain-lain yang sekarang sudah mulai menerima. Yang dulunya hanya memakai pakaian kain yang didominasi warna hitam dengan bahan yang terbuat dari kain kasar, saat ini sudah mengalami perubahan.
Dalam hal kepercayaan dan tata cara hidup suku Samin juga mengalami perkembangan. Kawasan daerah Pati dan Brebes, terdapat sempalan Samin yang disebut Samin Jaba dan Samin Anyar yang telah meninggalkan tatacara hidup Samin dahulu. Selain itu, di Klapa Duwur (Blora), Purwosari (Cepu), dan Mentora (Tuban) dikenal wong sikep, mereka ini dulunya fanatik, tapi kini meninggalkan arahan dasar dan memilih agama formal, yakni Budha-Dharma.
Selain itu ada beberapa pikiran orang Samin yang perlu kita cermati, di antaranya; menguasai adanya kekuasaan tertinggi (sang Hyang Adi Budha), ramah dan belas kasih terhadap sesama mahluk, tidak terikat kepada barang-barang dunia-kegembiraan-dan kesejahteraan, serta memelihara keseimbangan batin di kalangan antar warga. Orang Samin dengan jelas mencita-citakan membangun negara asli pribumi, yang bebas dari campur tangan orang kulit putih, tiada dominasi barat satupun.
Ajaran politik yang dikenalkan pada suku Samin dan patut untuk kita ambil pelajaran adalah bahwa orang-orang samin sangat cinta dan setia kepada amanat leluhur, kearifan tua, cinta dan hormat akan pemerintahan yang dianggap sebagai orang tua dan sesepuh rohani, hormat dan setia pada dunia intelektual. Itu yang harus kita tiru. (aldo el-fauzy)

Rabu, 09 Maret 2011

Bojonegoro Punya Tempat Wisata

 

Kahyangan Api

Merupakan sumber api alam yang menyala sepanjang tahun. dan terletak pada posisi yang sangat strategis yaitu dikelilingi oleh hutan-hutan yang dilindungi dan bebas dari pencemaran polusi. selain sumber api abadi di kahyangan api juga terdapat mata air yang konon dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit kulit. Anehnya air ini dari jauh berbau buuk tetapi setelah mendekat baunya itu hilang dan dari jauh air ini kelihatang seperti air mendidih tetapi kalau kita sudah mengambilnya maka air tersebut terasa dingin dan sejuk. Konon, menurut suatu cerita rakyat, keampuhan lokasi Kahyangan Api telah dirasakan semenjak pemerintah Maha Prabu Angling Dharma (Sri Aji Dharma) dari Malawapati, yang melatih para prajurit Malawapati di lokasi Kahyangan Api tersebut. Bahkan, ada beberapa pusaka Malawapati yang ditempa di Kahyangan Api, termasuk pusaka-pusaka andalan Kerajaan Malawapati dan Kerajaan Bojonegoro pada zaman Hindu madya di masa silam. Meskipun benar tidaknya cerita tersebut belum diketahui secara pasti, Serat Astra Dharma yang saat ini tersimpan di salah satu museum terkenal di Belanda, dapat menjelaskan bahwa hal tersebut benar-benar nyata. Serat yang ditulis pada masa Raja Astra Dharma alias Prabu Purusangkana,ayahanda kandung Prabu Angling Dharma (putera Prabu Kijing Wahana, suami Dewi Pramesthi) yang legendaris tersebut. Apabila Serat Astra Dharma tersebut dapat dikembalikan ke Indonesia, dapat diketahui dengan pasti bagaimana silsilah raja-raja Malawapati, Yawastina, dan Mamenang yang bersumber dari satu asal yaitu Prabu Parikesit, raja Hastinapura dari India.


Waduk Pacal

waduk pacal yaitu merupakan salah satu tempat wisata yang ada di bojonegoro, wisata ini menyuguhkan lingkungan alam yang sangat mempesona karena di kelilingi oleh bukit-bukit yang sangat indah.

Wana Wisata Dander

keunggulan dari wisata ini yaitu tempat yang sangat luas dan dilengkapi dengan padang golf, wisata ini sangat cocok untuk anak-anak karena selain padang golf, disana juga terdapat berbagai macam permainan anak-anak, seperti taman bermain, kolam untuk mandi bola, kolam renang dan sungai yang sangat jernih dengan keadaan sekelilingnya yang sejuk dan tentu saja bebas dari polusi.

Aldo

Bojonegoro Bangkit

        Bojonegoro bangkit merupakan semboyan untuk lebih memacu semangat masyarakat bojonegoro yang telah memiliki moto bojonegoro asri.Bojonegoro bangkit merupakan semangat baru untuk lebih meningkatkan dinamisasi gerak pembangunan di daerah yang lebih mengedepankan terhadap pengembangan potensi lokal yang berorientasi pada pengembangan kreativitas, inovasi dan tehnologi bangkit. Bojonegoro bangkit, mengacu pada sistem perencanaan pembangunan terpadu (net work planning).

Arti Etimologis

Bersih
Masyarakat yang berpikir jernih untuk terus berpikir dan bertindak maju menyongsong masa depan Bojonegoro yang lebih cerah.

Asri
Tatanan ingkungan yang Indah dan sedap dipandang mata, sehingga dapat menarik wisatawan dan investor untuk mendatanginya

Nyaman
Suasana yang sejuk, segar dan sehat penuh kedamaian

Guyub
Masyarakat yang mempunyai ikatan sosial tinggi serta rasa kebersamaan dalam membangun Bojonegoro

Kreatif
Masyarakat yang mempunyai daya cipta dari hasil buah pikirannya untuk mencari terobosan yang baru dalam menciptakan daya saing

Inovatif
Masyarakt yang selalu mangadakan pembaharuan untuk menghasilkan penemuann yang baru dan selalu dikembangkan

Taqwa
Masyarakat yang taat untuk melaksanakan perintah Tuhan Yang Maha Esa dan meninggalkan segala larangan-Nya

"MASYARAKAT BOJONEGORO YANG BERIMAN DAN BERTAQWA KEPADA TUHAN YANG MAHA ESA, BERPIKIRAN JERNIH, MEMILIKI DAYA CIPTA DALAM MENCARI TEROBOSAN DAN PEMBAHARUAN DAN SELALU BERUSAHA KERAS UNTUK MENGEMBANGKANNYA, SERTA MENJAGA, MENATA DAN MELESTARIKAN LINGKUNGANNYA DENGAN MENGEDEPANKAN KEDAMAIAN SECARA BERSAMA-SAMA, SEHINGGA MEMPUNYAI DAYA SAING YANG KUAT DALAM MENGHADAPI TANTANGAN DI MASA DEPAN"

Selasa, 01 Maret 2011

Koin Untuk Nurdin

Sekarang ini kan lagi marak-maraknya aksi demonstrasi menuntut Nurdin Halid mundur dari pencalonannya sebagai ketua umum PSSI periode mendatang, karena kepemimpinannya periode lalu dianggap telah memanfaatkan PSSI sebagai ajang korupsi, memakan uang APBD untuk klub yang masuk dalam lingkup PSSI.
Jika memang pencalonan Nurdin sebagai ketua umum PSSI periode mendatang hanya bertujuan untuk mengumpulkan uang dan kekayaan saja, ada baiknya jika para demonstran selain melakukan aksi demonstrasi, sekaligus menggalang sumbangan berupa koin atau semacamnya untuk si nurdin. setiap koordinator suporter (koordinator demo) dari berbagai daerah diminta untuk mengumpulkan dan menyerahkan  hasil pengumpulan koin tersebut pada koordinator pusat suporter seluruh indonesia. Setelah terkumpul semua, para suporter dari berbagai daerah di seluruh indonesia di kerahkan untuk menemui si Nurdin, kemudian salah satu dari mereka menyerahkan Hasil pengumpulan semua koin tersebut pada Nurdin, sambil berkata " Inikah yang kau inginkan? ayo silahkan ambil...! sekarang, pilih mundur atau kami serbu"
 aldo/02

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India