Sebaik-baik Manusia Adalah Orang yang Bermanfaat Bagi Sesama (H.R Buchori Muslim)
“Hidup adalah perjalanan waktu dan perpindahan tempat. Kapan pun dan di mana pun kita berada, haruslah memberi manfaat bagi sesama, karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Learn, Share, Success! (Muhammad Ali Murtadlo)”
Tampilkan postingan dengan label Esay. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Esay. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 Desember 2015

Berkah di Penghujung Tahun: Sebuah Catatan Akhir Tahun 2015


2015 menjadi tahun yang penuh kelabu bagiku. Tahun yang membuatku merasa bimbang akan makna hidup yang sesungguhnya. Setelah lulus dari UIN Sunan Ampel Surabaya dan dinyatakan sebagai sarjana berprestasi non-akademik penerima penghargaan sebagai penulis di berbagai media massa, Aku semakin bimbang akan langkah hidup selanjutnya. Sepuluh bulan menjalani hari-hari di Kampung Inggris Pare sebagai penuntut ilmu bahasa inggris tak kunjung dapat menunjukanku akan makna hidup yang sebenarnya.
Mimpi untuk melanjutkan studi keluar negeri masih tetap menggebu. Namun, terkadang aku berpikir apa sebenarnya yang hendak aku cari di negeri orang tersebut. Benarkah aku hendak menuntut ilmu dengan niat setulus-tulussnya? Apakah hanya sekedar gaya-gayaan bisa menjejakan kaki di belahan bumi lain? Atau hanya sekedar mencari tabungan dari uang beasiswa agar dapat digunakanan untuk kepentingan masa depan? Atau justru hanya sekedar ikut-ikutan? Ah, rasanya aku belum bisa menemukan jawaban.

Selasa, 08 Desember 2015

Aparat Keamanan versus Penegak Hukum

Oleh: Muhammad Ali Murtadlo

Ketika militer dan polisi negara lain melangkah maju dan bersatu dalam menghadapi segala macam ancaman dan permasalahan bangsa di Indonesia, aparat militer dan kepolisiannya justru terlibat aksi kekerasan. Alih-alih memelihara perdamaian, kedua institusi ini malah menebar aksi yang tak sedap dipandang mata.

Aksi perusakan dan pembakaran Mapolres Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatra Selatan, pada Kamis (07/03) oleh sejumlah anggota TNI dari Batalyon Artileri Medan (Yon Armed) 15/105 Tarik Martapura merupakan aksi yang menggambarkan bagaimana kedua institusi ini belum bisa bersikap dewasa.

Sabtu, 21 Desember 2013

Refleksi Hari Ibu Bagi Para Guru


Oleh: Muhammad Ali Murtadlo*)
Ketika ditanya siapa orang paling berjasa dalam hidup? Pasti kebanyakan orang  akan menjawab, dia adalah ibu. Ibu adalah orang yang melahirkan, membesarkan, merawat dan mendidik kita mulai dari bayi hingga kita dewasa bahkan sampai tua. Tidak ada yang mampu menandingi jasa seorang ibu kepada anaknya, sekalipun ibu tidak pernah meminta balas jasa.
Meskipun ibu bukanlah dewa ataupun malaikat, kasih sayangnya lebih dari sekedar malaikat. Ibarat anggota tubuh, Ibu adalah mata dan anak adalah kaki. Ketika kaki luka, tanpa diminta mata akan mengeluarkan air mata. Begitu juga ibu, ketika anaknya sakit dia akan merasakan sakit pula. Bandingkan jika mata sakit, apakah kaki akan peduli? Hanya kaki yang berbakti yang akan peduli.

Minggu, 11 November 2012

Ahmad Wahib: Aktivis, Pluralis yang Mati Muda


Oleh: Muhammad Ali Murtadlo*)
Seorang filosuf Yunani pernah berkata bahwa nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda. (Soe Hok Gie)

Ketika membincangkan Ahmad Wahib saya tergoda untuk membandingkan dengan Soe Hok Gie. Menurut pandangan para ahli sejarah keduanya adalah eksponen dari manusia-manusia baru yang hidup di era pasca kemerdakaan. Yakni hidup di dekade 60-an.
Dalam banyak hal keduanya tidak berbeda meskipun dalam banyak hal pula keduanya dibawa nasib ke tempat yang berbeda. Ahmad wahib lahir pada tanggal 9 Nopember 1942, Soe Hok Gie dilahirkan pada tanggal 17 Desember 1942. Dua-duanya adalah aktivis mahasiswa. pemikir, dua-duanya menekuni secara setia catatan harian, memberikan komentar hampir tentang segala jenis peristiwa dari agama, filsafat sampai politik. Dua-duanya mengalami nasib yang sama, yakni mati muda.
Namun ada perbedaan lingkungan yang menentukan antara keduanya. Ahmad wahib lahir dalam lingkungan santri di Sampang, Madura, suatu prototip lain dari kehidupan pedesaan yang kering, tempat orang pulang pergi ke kota-kota besar di Indonesia, karena kebanyakan penduduknya merantau. Sedangkan Soe Hok Gie lahir dan dibesarkan di Jakarta, tempat semua pergulatan hidup yang besar, yang kecil dan yang dekil, yang mendidik dan yang licik, semua tipe kehidupan lengkap ada di sana.
Untuk mengenal lebih dalam sosok Ahmad Wahib bisa kita lakukan dengan membaca buku Pergolakan Pemikiran Islam (LP3ES:1981) atau lebih mudahnya kunjungi http://ahmadwahib.com. Buku tersebut berisikan pergulatan, doktrin, dan realitas sosial, pandangan Ahmad Wahib tentang pluralitas agama di Indonesia. Buku itu sama sekali bukan buku ilmiah. Seperti layaknya Catatan Sang Demonstran-nya Soe Hok Gie, buku ini merupakan sebuah catatan harian tentang pelbagai masalah yang dipikirkan Wahib yang merupakan refleksi atas kenyataan-kenyataan yang dihadapi umat Islam, bangsa Indonesia, sekaligus diri Ahmad Wahib sebagai pribadi. Lewat catatan hariannya yang kontroversial inilah, Wahib banyak mencetuskan gagasan menarik yang berkaitan dengan kehidupan keagamaan di Indonesia.
Tokoh Pluralisme
Mengkaji lebih dalam tentang pemikiran Ahmad Wahib kita akan mengetahui bahwa wahib adalah salah satu pembaru pemikiran islam. Salah satu intisari pemikiran Wahib dalam pembaruan pemikiran Islam adalah wacana kebebasan beragama dan berkeyakinan. Wahib memiliki jawaban kuat mengapa sebagian umat Islam tidak toleran terhadap agama lain. Ini karena, menurut Wahib, kita tidak memiliki kedewasaan beragama ketika berinteraksi dengan kelompok agama lain. Yang terjadi justru tindakan diskriminatif.
Dalam hal pluralisme agama, Wahib menyuarakan pentingnya menumbuhkan inklusivitas agama—suatu komitmen yang secara terbuka menerima agama-agama lain yang ada di Indonesia. Menurut Djohan Effendi, Islam memang sama sekali tidak menafikan agama-agama yang ada. Islam mengakui eksistensi agama-agama tersebut dan tidak menolak nilai-nilai ajarannya. Kebebasan beragama dan respek terhadap agama dan kepercayaan orang lain adalah bagian dari ajaran agama Islam. Dengan demikian, membela kebebasan beragama dan menghormati agama dan kepercayaan orang lain merupakan bagian dari kemusliman (Prisma 5, Juni 1978: 16)
Secara prinsipil, apa yang dikemukakan Djohan Effendi tak jauh berbeda dengan pandangan Ahmad Wahib yang menekankan pluralisme dalam bertindak dan berpikir. Inilah menurutnya yang melahirkan toleransi. Sikap toleran tidak bergantung pada tingginya tingkat pendidikan formal atau pun kepintaran pemikiran secara alamiah, tetapi merupakan persoalan hati dan perilaku.
Seperti inilah kira-kira pergolakan pemikiran Wahib tentang pluralisme. “Aku bukan nasionalis, bukan katolik, bukan sosialis. Aku bukan budha, bukan protestan, bukan westernis. Aku bukan komunis. Aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah yang disebut Muslim. Aku ingin orang menilai dan memandangku sebagai suatu kemutlakan (absolute entity) tanpa menghubung-hubungkan dari kelompok mana saya serta dari aliran apa saya berangkat. Memahami manusia sebagai manusia”. Sebuah pernyataan bijak dalam menyikapi segala bentuk perbedaan.
Sayang, Ahmad Wahib harus meninggal di usia muda. Pada 31 Maret 1973, ia  mengembuskan nafas terakhir pada usia 31 tahun akibat ditabrak pengendara motor tepat di depan tempat kerjanya: kantor majalah Tempo.
Terlepas dari semua itu, kita sebagai generasi muda sudah seharusnya sadar. Apa yang sudah kita hasilkan sampai saat ini. Jangan-jangan benar apa yang dikatakan Soe Hok Gie pada kalimat pembuka diatas, nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan tersial adalah umur tua. Lebih baik mati muda dari pada mati tua tapi tidak menghasilkan apa-apa.

*) Mahasiswa Jurusan Ahwalus Syakhsiyah (AS/V), Alumni At-Tanwir Bojonegoro, tinggal di aldomurtadlo.blogspot.com

Rabu, 29 Juni 2011

Menanti The Next Siami

Tentu nama siami tak asing lagi bagi telinga kita. Siami belakangan ini menjadi terkenal karena kejujuran dan keberaniannya mengungkapkan kecurangan dalam unas di SDN Gadel II yakni tempat anaknya sekolah. Kejadian tersebut menjadi fenomenal lantaran banyak media yang memberitakan sosok ibu yang terusir dari daerah tempat tinggalnya tersebut disebut-sebut sebagai “pahlawan kejujuran”.
Beberapa tokoh masyarakat yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Pendukung Kejujuran, pada hari kamis (16/06) berkumpul di aula Mahkamah Konstitusi Mereka menghormati sekaligus memberikan apresiasi kepada siami atas perjuangannya untuk membela kejujuran yang mengungkapkan adanya kecurangan dalam unas yang terjadi di SDN Gadel II yakni tempat anaknya menuntut ilmu.(kompas)
Kejujuran belakangan ini menjadi barang langka yang sulit untuk dicari.  Kejujuran diyakini hanya sebagai sesuatu yang akan mendatangkan kemudhorotan (bahaya). Dalam pikiran mayoritas masyarakat seakan-akan kata “jujur ajur” (yang jujur, akan hancur) menjadi  doktrin kuat bagi mereka bahwa siapa yang menerapkan sifat jujur maka ia akan hancur.
Kejujuran tak selamanya akan menjadikan seseorang menjadi hancur. Justru dengan kejujuran orang tersebut akan dinilai orang lain sebagai orang yang dapat dipercaya. Berbeda dengan seseorang yang melakukan kebohongan, walaupun sekali melakukan kebohongan maka orang lain akan menganggap bahwa orang tersebut akan berbohong untuk selamanya karena sudah menjadi kebiasaan, walaupun toh sebenarnya kejujuran yang ia katakan. Karena sudah dicap sebagai pembohong maka setiap perkataannya dianggap sebagi suatu kebohongan.
Tampaknya nilai-nilai kejujuran sudah lama menghilang dari ruang publik kita. Kejujuran juga telah pergi jauh dari dunia pendidikan kita, baik di tingkat SD maupun di Perguruan tinggi. Sebenarnya tidak hanya kasus menyontek massal dalam Unas yang dikatakan sebagai kecurangan atau kebohongan dalam dunia pendidikan (Academic Dishonesty). Budaya plagiarisme juga termasuk dalam lingkup kebohongan tersebut. Kegiatan plagiarisme telah menjadi konsumsi para pelaku akademisi. Sebagai contoh adalah budaya copy paste yang dilakukan para mahasiswa maupun para dosen. Baik itu saat mengerjakan tugas maupun membuat penilitian.
Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa di negeri ini budaya kebohongan sudah menjadi budaya yang mewabah. Mulai dari kalangan paling atas sampai masyarakat bawah. Mulai dari yang jarang makan nasi sampai mereka yang berdasi pasti mengenal sifat ini.  Anehnya, ketika seseorang berusaha untuk menghilangkan sifat bohong ini, tiba-tiba kita semua tersentak. Kita merasa terkejut karena ditengah himpitan berbagai persoalan hidup, masih ada orang yang berusaha untuk berlaku jujur. Seperti yang dilakukan oleh siami, hanya demi menanamkan sifat kejujuran pada anaknya dia berani mengadukan kasus yang terjadi di SDN Gadel II. Dia rela menanggung akibatnya walaupun itu pahit asalkan kejujuran tertanamkan. Inilah yang menjadi potret langka. Kita menanti sang pahlawan kejujuran selanjutnya. Siapa siami-siami berikutnya?

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India