Sebaik-baik Manusia Adalah Orang yang Bermanfaat Bagi Sesama (H.R Buchori Muslim)
“Hidup adalah perjalanan waktu dan perpindahan tempat. Kapan pun dan di mana pun kita berada, haruslah memberi manfaat bagi sesama, karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Learn, Share, Success! (Muhammad Ali Murtadlo)”
Tampilkan postingan dengan label Surya Online. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Surya Online. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Oktober 2012

Bila Xanana Gus Trainer Beraksi

Sabtu (29/9) lalu Gedung Self Acces Center (SAC) IAIN Sunan Ampel Surabaya diramaikan mahasiswa Ambisi (Aliansi Mahasiswa Bidik Misi) yang melaksanakan pengenalan anggota baru ambisi (Penabara) sekaligus pelantikan pengurus baru Ambisi. Penabara menjadi gerbang awal calon anggota untuk mengetahui, memahami dan mengenal Ambisi. Penabara juga menjadi forum silaturrahmi antara senior dengan anggota baru untuk merekatkan emosional serta menyatukan visi dan misi mahasiswa berprestasi, sehingga nantinya mampu menciptakan gebrakan baru untuk perubahan bangsa.

Dengan tema Teguhkan Ambisimu, Create Your Dream itu dibuka langsung Pembantu Rektor III IAIN Sunan Ampel Surabaya, Prof Dr. Saiful Anam MAg. Dalam sambutannya beliau menuturkan, beasiswa Bidik Misi dikhususkan kepada mahasiswa berprestasi dari kalangan kurang mampu dalam segi ekonomi agar bisa menikmati pendidikan tinggi dan menjadi manusia unggul demi kemajuan bangsa.

Konsep Penabara tahun ini sengaja dibuat beda, selain pelantikan pengurus baru, panitia juga mendatangkan motivator sekaligus master mind empowerment dan hipnoterapy, Yustinus Arianto atau Xanana Gus Trainer yang mentraining hipnoterapi peserta. Xanana menjelaskan bahwa hipnotis itu tak selamanya digunakan untuk hal-hal negatif. Hipnotis dapat digunakan sebagai motivasi. Dalam dunia kedoteran dikenal dengan program hypnoseling. Di dunia pendidikan dengan menerapkan hypnoteaching, dan lain sebagainya.

Peserta dijelaskan mengenai kunci mengakses dan memanfaatkan kekuatan pikiran sendiri. Kunci itu adalah rileks, fokus, sugesti dan imajinasi. Dengan mengetahui kunci pikiran, kita juga bisa membantu orang lain dalam mengatasi masalah psikologisnya dengan cara mudah.

Diajarkan pula konsep hipnotis, dasar hypnotherapy, stage hypnosis, street hypnosis, hypnosleep, dan self hypnosis dengan cara pengajaran yang terbukti berhasil. Pelatihan ini sengaja didesain bagi pemula yang ingin langsung bisa mempraktikkan hipnotis untuk permainan terapi masalah psikologis maupun dalam penerapan dalam berbagai bidang.

Di sela-sela materi Xanana menampilkan tayangan-tayangan motivasi. Seperti Nick Vujicic, seseorang yang terlahir tanpa tangan dan kaki tidak sempurna namun mampu menjalani hidupnya dengan penuh semangat. Bahkan sampai saat ini ia menjadi motivator terbaik di Australia.

Di akhir acara, dengan gaya khas seorang motivator, Xanana mengajak peserta berselancar di dunia avatar, yakni dunia masa depan dengan cara berimajinasi di alam bawah sadar. Dalam keadaan tidur theta yakni tidur yang belum benar-benar tidur, masih setengah sadar, peserta digiring dengan sugesti seakan-akan berada di masa lima atau sepuluh tahun ke depan. Setelah peserta bangun mereka dapat merasakan energi semangat untuk mewujudkan apa yang telah dialami di masa depannya itu.

Sabtu, 28 Juli 2012

Terhipnotis Pesona Cinta Suci Zahrana


Ada yang menarik di Kampus IAIN Sunan Ampel Surabaya pada Selasa, 12 Juni 2012 M. AMBISI (Aliansi Mahasiswa Bidikmisi) IAIN Sunan Ampel mengadakan acara Bedah Film dan Novel Cinta Suci Zahrana (CSZ). Acara tersebut dihadiri langsung oleh penulis sekaligus sutradaranya, Habiburahman El-shirazy.
Sejak pagi gedung Auditorium IAIN telah penuh dipadati peserta. Sekitar enam ratus lebih peserta yang hadir dan memeriahkan acara. Entah sesuatu apa yang mampu menyihir ratusan peserta sehingga rela menunggu berjam-jam hanya untuk mengikuti bedah film dan novel Cinta Suci Zahrana. Mungkin karena karisma dan pesona habiburahman el-shirazy sang novelis nomor wahid Indonesia itu atau bukan, yang pasti mereka seperti telah terhipnotis untuk mengikuti acara tersebut dengan antusias.
Sebenarnya acara Bedah Film dan Novel ini diagendakan akan hadir pula bintang film dari Cinta Suci Zahrana, seperti Meyda Safira, Miller, dan Kholidi Asadil Alam, namun dikarenakan beberapa alasan dan terbenturnya jadwal tour maka para pemeran film tersebut tidak dapat hadir. Meskipun demikian tidak menyurutkan antusias peserta untuk mengikuti acara hingga usai.
Habiburrahman El-shirazy yang lebih akrab disapa Kang Abik adalah novelis No.1 Indonesia berkat karya-karyanya yang fenomenal sekaligus monumental yang mampu menggubah jiwa para pembacanya. Diantara karya-karyanya seperti Ayat-Ayat Cinta (AAC), Ketika Cinta Bertasbih (KCB), Dalam Mihrab Cinta (DMC), yang semuanya telah difilmkan serta Cinta Suci Zahrana (CSZ) yang sedang dalam proses promo dan akan ditayangkan pada 15 Agustus 2012 M di berbagai bioskop di Indonesia.
Sekitar pukul 10:00 WIB kang abik tiba di tempat acara. Sontak gedung gemuruh oleh suara tepuk tangan menyambut kedatangannya. Secara otomatis opening ceremony dimulai dan dilanjutkan dengan talk show. Sebelum mengupas lebih dalam novel Cinta Suci Zahrana, kang abik terlebih dahulu memberikan tips sekaligus motivasi bagi peserta untuk tetap semangat menulis. Menulis apa saja, baik itu berupa tulisan fiksi maupun nonfiksi. “ Menulislah, dan tulislah apa yang anda tahu, yang anda sukai dan yang anda kuasai dijamin tulisan akan mengalir, lebih dalam, mengena dan enak untuk dibaca” kata kang abik.
Dalam talk show yang berlangsung kurang lebih dua jam itu kang abik berbagi cerita, pengalaman-pengalaman mengenai proses penggalian ide, inspirasi, serta tokoh dan karakter dari beberapa novel karyanya, khususnya novel Cinta Suci Zahrana. Sebenarnya cerita dari beberapa novel Best Seler karya kang abik adalah kisah nyata, namun tugas seorang sastrawan adalah mendramalisir sebuah cerita semenarik mungkin agar beda dengan biografi atau kisah nyata sehingga terciptalah adikarya, berupa novel Best Seler.
Secara umum novel Cinta Suci Zahrana merupakan salah satu novel penggubah jiwa yang menceritakan tentang zahrana, seorang wanita yang berprestasi di bidang arsitektur. Dia telah lulus S2 namun belum membina rumah tangga. Dalam proses pencarian pasangan hidup itulah yang menjadikan novel itu menarik untuk diikuti. Namun yang tidak kalah menariknya adalah perjuangannya meraih prestasi baik di dalam negeri, terutama prestasi di luar negeri yang dapat membuat harum nama bangsa.
Pelajaran yang bisa kita ambil dari novel sekaligus film itu adalah bahwa sudah tidak ada diskriminasi kepada kaum perempuan dalam berbagai hal, terutama dalam hal mencari ilmu. Baik laki-laki maupun perempuan mempunyai hak yang sama untuk mencari ilmu. Maka dari itu tidak ada alasan untuk tidak mencari ilmu. Menikah bukanlah waktu terakhir untuk mencari ilmu, justru dengan telah menikah maka kita dituntut untuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya. Sebaliknya jangan menjadikan alasan karena mencari ilmu kemudian tidak menikah. Karena menikah dan mencari ilmu bukanlah dua hal yang terpisah melainkan satu kesatuan yang harus berjalan berdampingan. Kurang lebih seperti itulah yang disampaikan oleh kang abik.

Dimuat di Citizen Reporter, Harian Surya.

Minggu, 25 Maret 2012

Ketika Slank Tersesat di Jalan Kebenaran

Puluhan orang memadati kampus IAIN Sunan Ampel Surabaya, Sabtu (24/3). Sejak pukul 12:00 WIB para Slankers (sebutan fans Slank) dari berbagai daerah menunggu kedatangan sang idola. Pasalnya, Slank dijadwalkan singgah di IAIN untuk dialog tentang Perjalanan Spiritual Slank bersama Ki Ageng Ganjur.
Slankers terlihat sudah tidak sabar ingin segera bertemu personel slank. Akhirnya, Bimbim, Kaka, Ridho, Abde, dan Ivanka keluar dari bus dengan kawalan ketat panitia dan satpam. Mereka digiring menuju gedung Rektorat. Secara spontan para fans berat Slank mengerumuninya untuk sekadar salaman dan minta tanda tangan.
Auditorium IAIN dipilih sebagai tempat berlangsungnya dialog. Sekitar pukul 13:15 WIB acara dimulai dengan penampilan tim paduan suara IAIN, kemudian dilanjutkan dengan acara pembukaan. Dalam sambutannya, Prof Dr Abd A’la selaku Pjs Rektor IAIN mengacungkan dua jari sambil berkata peace sebagai tanda salam perdamaian.
Prof A’la mengatakan sangat apresiatif terhadap karya-karya Slank yang dinilai begitu kental dengan kritik dan respons atas kondisi bangsa saat ini yang mengalami kebobrokan. “Lewat musik, Slank mampu menyebarkan virus perdamaian dan cinta,” lanjut beliau.
Acara dilanjutkan dengan dialog bersama. Dengan gaya ceplas-ceplosnya, Chabib Musthofa sebagai moderator membuka sesi dialog. Bimbim selaku promotor sekaligus sesepuh Slank memaparkan kisah perjalanan Slank dari awal berdiri hingga saat ini.
Giliran Ki Ageng Ganjur memberikan petuah-petuah spiritual. Ki Ageng mengatakan, “kalau dulu Slank berjalan di jalan yang sesat (terjerumus dalam narkoba), saat ini Slank tersesat di jalan yang benar,” sontak suasana gedung riuh dengan suara tepuk tangan.
Dialog dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Berbagai pertanyaan diajukan, sampai akhirnya ada salah seorang penanya meminta agar Slank menyanyikan lagu berjudul Terlalu Manis. Spontan suara gedung kembali bergemuruh oleh lantunan lagu itu dengan diikuti para Slankers.
Sebelum acara ditutup, Bunda Iffet -manager Slank- diminta memberikan wejangan kepada para Slankers. Pada intinya bunda meminta serta menghimbau kepada semua pemuda, para generasi bangsa agar jangan sampai terjerumus kedalam narkoba. Karena narkoba adalah pengrusak masa depan bangsa. Acara ditutup dengan pemberian Souvenir dari prof. A’la kepada personel Slank, dan dilanjutkan dengan do’a bersama.

http://www.surya.co.id/2012/03/25/ketika-slank-tersesat-di-jalan-kebenaran

Kami Mahasiswa Bidikmisi

Penghujung tahun 2011, mahasiswa penerima beasiswa bidikmisi mendeklarasi Forum Komunikasi Mahasiswa Bidikmisi (FKMB) Regional Surabaya-Madura, di kampus Universitas Trunojoyo Madura. Puluhan mahasiswa, delegasi dan undangan dari setiap kampus menghadiri acara. Meski kurang maksimal, tetapi acara berlangsung sukses.
Terlihat delegasi dari Universitas Airlangga, Universitas Surabaya, Institut Tehnik Sepuluh November, dan Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel, dan tuan rumah Universitas Trunojoyo Madura. Mereka, adalah kampus yang diamanahi pemerintah untuk mengelola dan melaksanakan program beasiswa bidikmisi yang ada di perguruan tinggi se-Surabaya dan Madura.
Beasiswa bidikmisi adalah beasiswa yang diberikan bagi siswa-siswa lulusan SMA, MA SMK, dan sederajat yang berprestasi di bidang akademik namun kurang berprestasi di bidang finansial (alias dari keluarga kurang mampu) dan ingin melanjutkan kuliah. Bidikmisi merupakan program kemendiknas, tahun 2010 mulai dicanangkan dan menjaring lebih dari 2000 mahasiswa di berbagai kampus negeri se-Indonesia. Dan akan terus berlanjut di tahun-tahun berikutnya.
Terlepas dari hal itu, sebenarnya, ide untuk membuat semacam perkumpulan atau forum komunikasi mahasiswa bidikmisi sudah muncul sejak lama. Bermula dari tekad yang kuat dari masing-masing kampus untuk menyatukan visi dan misi, terbentuklah FKMB (Forum Komunikasi Mahasiswa Bidikmisi) regional Surabaya dan Madura.
Filosofi di balik pernyataan pepatah bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh, munculah gagasan itu. Jika visi dan misi berjalan sendiri-sendiri maka kurang maksimal akan terwujud. Sebaliknya visi dan misi yang disatukan akan terbentuk kekuatan yang kokoh, sehingga mewujudkannya akan mudah.
Peresmian acara bertema ‘mengoptimalkan peran mahasiswa pasca Suramadu untuk membangun bangsa’ itu dihadiri sekaligus dibuka oleh Pembantu Rektor III Universitas Trunojoyo Madura, Bapak Widugdo. Beliau mengatakan, mahasiswa bidikmisi merupakan mahasiswa yang berpotensi besar untuk mengatasi problematika bangsa saat ini, meskipun dari kalangan kurang mampu tetapi keyakinan untuk mampu berperan dalam membangun bangsa terlihat jelas.
Deklarasi FKMB Suramadu merupakan embrio persatuan untuk mempersatukan mahasiswa bidikmisi se-Surabaya-Madura. Lewat FKMB Suramadu diharapkan mahasiswa penerima beasiswa bidikmisi tetap menjalin komunikasi antara satu kampus dengan yang lainnya. Dengan harapan lewat FKMB Suramadu akan terbentuk Forum Komunikasi Mahasiswa Bidikmisi tingkat Nasional dari berbagai kampus seluruh Indonesia. Semoga.

(dimuat di Koran Surya Edisi 20 Januari 2012)

Pengangguran Terdidik itu Semakin Bertambah Saja

Wisuda ke-67 IAIN Sunan Ampel Surabaya, Sabtu, 10 Maret 2012 lalu mengukuhkan 407 wisudawan dari jenjang S1, S2 sampai S3. Mereka resmi menyandang gelar akademis sebagai sarjana, magister, dan doktor.
Wisuda menjadi penanda seseorang sudah menyelesaikan proses pendidikannya. Pendidikan, sarana mentransformasi kehidupan kearah lebih baik. Pendidikan pun dijadikan standar stratifikasi sosial seseorang. Mereka yang berpendidikan akan mendapatkan penghormatan di mata publik, walaupun tidak memiliki kekayaan berlimpah. Dengan pendidikan yang lebih tinggi pula, seseorang akan mudah memeroleh pekerjaan, bahkan menciptakan lapangan pekerjaan. Apalagi jika seseorang telah memeroleh gelar sarjana.
Seorang sarjana tentu lebih punya bekal ilmu dan pengetahuan luas. Lebih mantap dalam segi profesionalitas dan pengalaman serta memiliki jiwa kepemimpinan yang matang. Seharusnya sarjana mampu membebaskan dari belenggu pengangguran. Namun apa boleh dikata, realita di lapangan berkata sebaliknya. Pengangguran terdidik bagi para lulusan universitas sedikit banyak telah memperbesar angka pengangguran.
Data Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti) pada 22 Maret 2010, mencatat jumlah sarjana (S1) yang masih menganggur (Februari 2007) sebanyak 409.900 orang. Setahun kemudian, bertambah menjadi 626.200 orang. Jika setiap tahun jumlah kenaikan rata-rata 216.300, kemungkinan pada Februari 2012 terdapat lebih dari 1 juta pengangguran terdidik di Indonesia.
Belum ditambah pengangguran lulusan Diploma. Dalam rentang waktu 2007-2010 saja tercatat peningkatan sebanyak 519.900 orang atau naik sekitar 57 persen. Di Jawa Timur misalnya, ada lebih dari 57 ribu orang dengan gelar sarjana menganggur, dari sekitar 1 juta orang yang mengganggur.
Penggangguran terdidik memang memperburuk wajah suram dunia pendidikan kita. Para lulusan yang diharapkan mampu meminimalisir pengangguran ternyata tidak mampu menjawab tantangan zaman. Akibatnya, pengangguran makin lama makin bertambah. Bahkan Indonesia mendapat ranking pertama di Asia dalam kategori jumlah pengangguran tertinggi.

(dimuat di Koran Surya Edisi 20 Maret 2012)

Kamis, 27 Oktober 2011

Mengadopsi Keunikan Bali

Sabtu lalu, saya mendapat kesempatan untuk berkunjung ke pulau Bali. Saya bertolak kesana bukan karena ada konferensi atau pertemuan, tetapi hanya sekedar rekreasi, me-refresh otak dari kepenatan yang setiap hari dicekoki oleh tumpukan buku demi menyelesaikan tugas kuliah. Siapa yang tidak mengenal pulau bali? Pasti semua mengetahui. Pulau Bali yang dikenal kepopulerannya sebagai “Paradise Island”. Hampir seluruh dunia mengetahui keunikan dan daya tarik dari pulau “Seribu Pura” ini. Bahkan tidak jarang yang mengatakan bahwa Bali adalah keindahan alam yang didengung-dengungkan sebagai “surga” dunia. Secepat kilat Balipun menjadi aset terbesar Indonesia di bidang pariwisata sebagai pemasok devisa negara.

Dalam perjalanan, saya menikmati berbagai macam keindahan alam pulau Bali. Mulai dari melihat berbagai bentuk patung, menikmati berbagai macam panorama pantai, mengunjungi obyek wisata bersejarah, sampai mengunjungi berbagai tempat untuk mencari buah tangan (oleh-oleh). Tidak hanya itu, saya juga disuguhi berbagai macam keunikan masyarakat disana. Salah satunya adalah arsitektur bangunan disana. Tidak ada bangunan yang tingginya melebihi tinggi pohon kelapa atau lebih tepatnya tidak ada bangunan yang tingginya lebih dari lima belas meter. Walaupun ada pasti akan diboikot oleh pemerintah bali karena melanggar Perda Bali No.3 Tahun 2005 Tentang tata ruang provinsi bali.

Anak Agung Bagus yang menjadi pemandu wisata (gaet) menjelaskan bahwa masyarakat Bali menjunjung tinggi rasa cinta terhadap alam atau lingkungan. Dengan tidak adanya bangunan yang tingginya melebihi pohon kelapa, sinar matahari bisa menyinari tanah bali secara keseluruhan. Sehingga alam bali tetap ASRI (Aman, Sehat, Rapi, Indah). Hal ini berbanding terbalik dengan kondisi bangunan di pulau Jawa khususnya di kota-kota metropolitan, yang mayoritas tinggi bangunannya lebih dari lima belas meter. Inilah yang menyebabkan pulau Jawa tidak lagi ASRI.

Tidak hanya itu, yang membuat saya kagum adalah tingginya rasa toleransi antarumat beragama. Meskipun masyarakat disana mayoritas memeluk agama Hindu tetapi jiwa menghargai agama lain sangatlah tinggi. Tidak ada rasa permusuhan dan tidak mengenal adanya perselisihan. Bahkan di kota Nusa Dua terdapat suatu tempat yang cukup unik, dan itu mungkin membuat kita mengacungkan kedua jempol tangan kita untuk masyarakat bali. Sebut saja Puja Mandala, Di tempat ini terdapat lima tempat ibadah dari agama yang diakui di Indonesia. Yaitu Masjid untuk agama Islam, Gereja bagi jemaat Katholik dan Protestan, Vihara untuk umat Budha, dan Pura bagi umat Hindu. Uniknya, bangunan tersebut berdiri berdampingan.

Meski berdampingan dengan tempat Ibadah umat lain, selama ini tidak pernah ada konflik yang disebabkan ketidakharmonisan antarsesama. Bahkan, jika ada kegiatan keagamaan dalam waktu yang bersamaan, umat disana saling berinteraksi satu sama lain untuk mempererat kerukunan. Kerukunan hidup dan suasana saling menghormati terlihat jelas dalam keseharian lingkungan komplek Puja Mandala Nusa Dua. Seperti yang dituturkan oleh Bli Bagus, komplek puja mandala ini merupakan percontohan miniatur kerukunan hidup bersama.

Keunikan yang baru satu-satunya di Indonesia ini merupakan kawasan yang dianggap sebagai contoh kerukunan umat beragama di Indonesia dan menjadi yang sangat diminati, baik oleh wisatawan asing ataupun domestik.

Untuk sampai ke tempat ini, kita butuh waktu sekitar tiga puluh menit dari Bandara Ngurah Rai ke arah Nusa Dua. Cobalah luangkan waktu sejenak untuk menikmati keunikannya dan belajar memahami kebudayaannya. Dengan mengaca dari kebudayaan masyarakat bali tersebut, sudah seharusnya kita tidak perlu mengenal adanya pertikaian agama seperti yang akhir-akhir ini kerap terjadi. Jika ada tenggang rasa dan kepedulian antarsesama tentu hal ini akan mudah terwujud.

Minggu, 16 Oktober 2011

Pengangguran Terdidik itu Muncul Lagi


Ribuan orang memadati lapangan IAIN Sunan Ampel Surabaya pada 08 Oktober 2011,  untuk melaksanakan proses pengukuhan sebagai sarjana. Tercatat pada wisuda yang ke-66 kali ini IAIN Sunan Ampel Surabaya mengukuhkan sekitar 1.233 Sarjana. Terdiri dar 1003 orang jenjang S1, 217 orang magister dan 13 orang dari program doktoral. Mereka telah resmi menyandang gelar akademis sebagai sarjana, magister dan doktor.
Wisuda merupakan pertanda bahwa seseorang sudah mampu menyelesaikan proses pendidikannya. Pendidikan merupakan sarana untuk mentransformasi kehidupan kearah yang lebih baik. Pendidikan pun dijadikan standar stratifikasi sosial seseorang. Orang yang berpendidikan akan mendapatkan penghormatan (prestice of life) dimata publik, walaupun tidak memiliki kekayaan yang berlimpah. Dengan pendidikan yang lebih tinggi pula, seseorang akan mudah untuk memperoleh pekerjaan. Apalagi jika seseorang telah memperoleh gelar sarjana.
Seorang sarjana tentunya lebih punya bekal ilmu dan pengetahuan yang luas. Lebih mantap dalam segi profesionalitas dan pengalamannya serta memiliki jiwa kepemimpinan yang matang. Seharusnya sarjana mampu membebaskan dari belenggu pengangguran. Namun apa boleh dikata, realita di lapangan berkata sebaliknya.
Pengangguran terdidik bagi para lulusan universitas sedikit banyak telah memperbesar angka pengangguran. Dari data Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti) pada 22 Maret 2010, mencatat jumlah sarjana (SI) yang masih menganggur pada Februari 2007 sebanyak 409.900 orang. Setahun kemudian, jumlahnya bertambah menjadi 626.200 orang. Jika setiap tahun jumlah kenaikan rata-rata 216.300, kemungkinan pada Februari 2012 terdapat lebih dari 1 juta pengangguran terdidik di Indonesia.
Belum ditambah pengangguran lulusan Diploma. Dalam rentang waktu 2007-2010 saja tercatat peningkatan sebanyak 519.900 orang atau naik sekitar 57 persen. Di Jawa Timur misalnya, ada lebih dari 57 ribu orang dengan gelar sarjana menganggur, dari sekitar 1 juta orang di Jatim yang mengganggur.
Penggangguran terdidik memang telah memperburuk wajah suram dunia pendidikan kita. Para lulusan yang diharapkan mampu meminimalisir pengangguran ternyata tidak mampu menjawab tantangan zaman. Akibatnya, pengangguran makin lama makin bertambah. Bahkan Indonesia mendapat ranking pertama di Asia dalam kategori jumlah pengangguran tertinggi.
Meminjam Lirik lagu Bang Iwan Fals yang berjudul “Sarjana Muda”. Sepertinya sebagian besar dari sarjana yang baru diwisuda itu akan masuk dalam golongan sarjana yang diceritakan Iwan Fals dalam lagu Sarjana Muda itu. Bang Iwan menulis syair tentang seorang sarjana pintar (sesuai kriteria di atas) yang justru sulit untuk mendapat kerja, meski sudah berjalan gontai tak tentu arah, dengan mengandalkan ijazah yang berada ditangannya, sambil menatap awan berarak dengan wajah murung yang jelas terlihat. Sampai-sampai jaketnya lusuh bercampur keringat dan debu jalanan, hingga sarjana tadi putus asa dan berkata “maaf Ibu” karena merasa gagal membahagiakan sang ibu yang telah menyekolahkannya bertahun-tahun, namun tak juga mendapatkan pekerjaan.

Rabu, 21 September 2011

Ospek Cerdas

Muhammad Ali Murtadlo
Mahasiswa Fakultas Syariah IAIN Sunan Ampel Surabaya
aldo_murtadlo@yahoo.com

Orientasi studi dan pengenalan kampus atau ospek perguruan tinggi telah dilaksanakan. Salah satunya di kampus IAIN Sunan Ampel Surabaya yang dikenal dengan Orientasi Studi Cinta Almamater dimulai sejak Selasa (13/09) hingga empat hari berikutnya. Ospek merupakan salah satu wahana membekali mahasiswa baru dengan dasar pengetahuan tentang dunia kampus. Dalam ospek setidaknya ada dua poin penting. Pertama, yang menyangkut dunia akademik. Kedua, tentang dunia organisasi di dalam kampus, termasuk sosialisasi Unit Kegiatan Mahasiswa.
Ospek merupakan tradisi turun-temurun, yang selain dinanti sekaligus dikhawatirkan oleh para mahasiswa baru. Mengingat, ospek terkadang banyak senior jahil dan bersikap sesuka hati. Salah satu contoh yang menakutkan adalah tindak kekerasan yang kerap dilakukan para senior kepada junior. Tak pelak, ospek menjadi menakutkan bagi mahasiswa baru. Itulah yang memunculkan anggapan bahwa ospek tidak mengenakkan dan identik dengan pembodohan semata.
Seiring dengan perkembangan zaman, mahasiswa kini menghadapi berbagai tantangan yang makin kompleks. Karena itu, ospek yang bersifat kreatif bagi pengembangan diri menjadi penting karena bisa mendorong pola pikir mahasiswa. Apa artinya ospek jika hanya berisi pengenalan dunia kampus, sehingga mahasiswa tak mampu membaca realitas sosial di masyarakat.
Ospek yang baik adalah kegiatan yang sesuai dengan namanya. Yaitu untuk mengenalkan dan mengorientasikan mahasiswa baru terhadap lingkungan kampus. Tidak boleh ada kekerasan, yang justru menjatuhkan mahasiswa baru, baik kekerasan fisik maupun mental. Sebaliknya, mereka perlu dibekali dengan pengetahuan dan kedekatan terhadap almamater demi menumbuhkan jiwa kemahasiswaan yang baik dan rasa sebagai bagian dari keluarga besar civitas akademika.
Hendaknya kegiatan ospek yang menyimpang dan penuh kekerasan tidak dilakukan lagi, dan diganti dengan kegiatan ospek yang bermanfaat bagi para mahasiswa. Karena itulah, ospek bisa dijadikan wahana yang tepat untuk memberikan pencerahan pada mahasiswa baru. Ospek yang mencerdaskan yakni yang bersifat edukatif. Bukan wahana balas dendam yang membuka peluang bagi mahasiswa senior untuk melakukan tindak kekerasan kepada juniornya atau mahasiswa baru.

dimuat di harian surya surabaya, Edisi Selasa 20 september 2011,,

Kamis, 19 Mei 2011

Dimuat di Harian Surya Edisi Jumat (20/05/2011 M)

NASIONALISME YANG HILANG
Oleh: Muhammad Ali Murtadlo*
Kebangkitan Nasional adalah masa bangkitnya semangat persatuan, kesatuan, dan nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, yang sebelumnya tidak pernah muncul selama penjajahan 350 tahun. Masa ini ditandai dengan dua peristiwa penting, yaitu berdirinya Boedi Oetomo (20 Mei 1908) dan ikrar Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928). Masa ini merupakan salah satu dampak politik etis yang mulai diperjuangkan sejak masa Multatuli. (wikipedia)
Tanggal 20 Mei 2011 bangsa Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Tapi, apa yang sudah dicapai bangsa Indonesia dengan  proklamasi kebangkitan nasionalnya itu? Umumnya masih merasa kecewa. Hampir dapat dipastikan, pada setiap tanggal 20 Mei Bangsa Indonesia memperingatinya, akan tetapi apa yang dilakukan hanyalah sebatas acara seremonial saja. Lantas, apa makna kebangkitan nasional?
Semangat nasionalisme kita harus diakui sudah menurun, bahkan mungkin sudah menghilang sehingga kita acuh dengan masalah bangsa, negara, tanah air dan segala jati diri kita sebagai anak bangsa yang merdeka. Hari Kebangkitan Nasional yang jatuh pada 20 Mei, seharusnya mampu mengembangkan kembali semangat nasionalisme sebagai bangsa yang sadar akan negara yang kosmopolitan dan sebagai sistem dunia. Demikian dikatakan Dosen Antropologi Politik Fakultas Ushuluddin IAIN Sumut, Sakti Ritonga Mpd, Kamis (20/5). Makna kebangkitan nasional merupakan momen sejarah yang dalam peringatannya dapat mengembangkan kembali semangat nasionalisme sebagai sebuah bangsa yang sadar akan negara yag kosmopolitan dan  sebagai sistem dunia. Kala itu bangsa Indonesia berjuang dan terus berjuang, sehingga berkat perjuangan dan kegigihan serta jiwa nasionalisme yang tinggi kepada Indonesia sampai akhirnya mampu mengusir penjajah dari bumi Nusantara. Pemerintah berikut rakyat menyadari keterbelakangan sehingga memotivasi  mereka untuk maju dengan mengikrarkan semangat kebangkitan nasional.
Seratus tahun lebih momen kebangkitan bangsa diperingati, akan tetapi bukannya bangsa ini menjadi bangkit, malahan menjadi mundur. Terjadi degradasi di berbagai bidang, rakyat semakin miskin, angka pengangguran tinggi, harga-harga (sembako) melambung, kekayaan alam semakin tereksploitasi, sementara penegakan hukum masih belum tegak dan terjadi diskriminasi serta dunia pendidikan yang masih jauh dari harapan, dan masih banyak lagi. Sejatinya sebagaimana cita-cita para pendiri bangsa (founding father), semua kekayaan alam dikuasai negara dan diprioritaskan untuk kesejahteraan seluruh rakyat. Faktanya, yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Seharusnya pemerintah mempunyai konsep-konsep jitu dalam membangkitkan dan membangun jiwa nasionalisme. Konsep nasionalisme itu terus mengalami perkembangan sesuai dengan kemajuan zaman, dimana pada zaman dahulu konsep nasionalisme itu berupa revolusioner, berjuang menuntut perubahan yang kemudian menjadi sebuah bangsa yang merdeka  dan selanjutnya konsep nasionalisme saat ini adalah mengisi kemerdekaan itu dengan pembangunan dan pembenahan dalam berbagai sektor.
Hemat kata, hakikat dari peringatan Hari Kebangkitan Nasional yang dilakukan bangsa Indonesia  setiap tahunnya  adalah merenung, introspeksi, mengajak seluruh elemen masyarakat dan bangsa untuk  mencontoh apa-apa yang sudah dilakukan para pendiri bangsa ini di masa lalu melawan penjajahan dan menegakkan kedaulatan bangsanya, serta menumbuhkan jiwa nasionalisme yang semakin hilang, bukan hanya sebatas mengadakan seremonial dan rutinitas belaka. Oleh karena itu, mari kita sadar untuk bangkit bersama sehingga jiwa nasionalisme yang hilang itu dapat tumbuh kembali.
*Penulis adalah Staf Pengurus Takmir Mushola Al-Ikhlas (Jemurwonosari, Wonocolo, Surabaya)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India