Sebaik-baik Manusia Adalah Orang yang Bermanfaat Bagi Sesama (H.R Buchori Muslim)
“Hidup adalah perjalanan waktu dan perpindahan tempat. Kapan pun dan di mana pun kita berada, haruslah memberi manfaat bagi sesama, karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Learn, Share, Success! (Muhammad Ali Murtadlo)”
Tampilkan postingan dengan label My Experience. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Experience. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Agustus 2016

Berkunjung Ke Negera Seberang: Malaysia & Singapore (Bagian-1)



Pra Keberangkatan Kami Berpose di Bandara Soeta
Bermula dari keinginan kuat untuk menginjakan kaki di luar negeri, saya berselancar mencari tiket pesawat promo PP Jakarta-Kuala Lumpur untuk pemberangkat bulan juni 2016. Saat itu bulan Januari 2016, waktu saya masih berada di Universitas Indonesia untuk mengikuti shortcourse bahasa Belanda dan bulan juni, shortcourse itu akan berakhir. Hitung-hitung sebagai refreshing setelah enam bulan berjibaku dengan ayat-ayat belanda yang aduhai sulitnya.

Senin, 11 Januari 2016

Nisfhu Sya’ban di Puncak Welirang


Asap Belerang Mengepul
Apapun itu jika terasa enak, puas dan menyenangkan pasti akan ketagihan. Seperti halnya mendaki gunung telah menyihir saya menjadi ketagihan. Pertama kali mendaki gunung ketika menjajal track Gunung Lawu pada 17 Agustus 2013 kemudian ke Gunung Semeru (Ranu Kumbolo) di Tahun Baru 2014 dan selanjutnya menjajaki gunung-gunung lain di Jawa Timur.

Kamis, 07 Januari 2016

Dari Jombang Menuju Makam Para Wali Jawa Tengah

Meskipun bukan akhir pekan tapi waktu itu cukup mengesankan. Saat itu adalah pengalaman pertama saya mengunjungi/Ziarah Makam Para Wali di Jawa Tengah.

Rabu, 06 Januari 2016

Pelangi di Air Terjun Ngleyangan

We are BFF: Best Friend Forever
Selama ini, kebanyakan orang lebih senang berwisata di tempat wisata buatan. Tempat wisata seperti Jawa Timur Park (Malang), Wisata Bahari Lamongan (Lamongan), Kebun Binatang Surabaya (Surabaya), dan tempat wisata buatan lainnya lebih banyak diminati, daripada tempat-tempat yang alami.
Padahal, sesuatu yang alami lebih sedap dipandang mata. Selain memanjakan mata, kita dapat merasakan betapa indah ciptaan Tuhan.

Selasa, 05 Januari 2016

At-Tanwir, Sekolah dan Kenangan Itu (Part-2 Habis)

Saat Haflah Akhirissanah
Saya saat itu, seorang anak kecil lulusan Madrasah Ibtidiyah yang belum banyak tau tentang dunia luar, mulai kagum dengan kondisi bangunan dan juga kehidupan di lingkungan Madrasah Tsanawiyah.

Senin, 04 Januari 2016

At-Tanwir, Sekolah dan Kenangan Itu (Part-1)

Pintu Gerbang
Kawan! kalian pasti setuju, bahwa masa-masa sekolah adalah masa dimana kita mengukir kenangan. Masa dimana banyak aktifitas kita lakukan di sana. Bahkan boleh dibilang waktu kita tersita hanya karena sekolah.

Minggu, 03 Januari 2016

Perjalanan Hidup di Kampung Inggris Pare (Part-2)



Member Reguler

Menjalani hidup di tempat orang lain memang banyak rintangan. Seperti yang saya rasakan ketika sudah beberapa bulan melewatkan waktu di Kampung Inggris. Susah senang pernah saya rasakan.

Jumat, 01 Januari 2016

Menyaksikan Pergantian Tahun di Ranu Kumbolo

Ketemu pendaki cilik dari Bandung
Semua orang punya cara masing-masing untuk menghabiskan momen akhir tahun dan menyambut tahun baru. Bagi masyarakat perkotaan, tahun baru identik dengan perayaan yang disimbolkan dengan pesta, ngumpul sama kolega, sahabat, dan dipungkasi dengan penyalaan kembang api tepat di detik pertama menjelang tanggal satu, tahun berikutnya.

Sabtu, 24 November 2012

Mengunjungi Telaga Sarangan, Menikmati Pantai Pasir Putih


Bertamasya selain sebagai hobi semua orang juga merupakan momen yang pas untuk refreshing. Merefresh otak dari kepenatan segala aktivitas. Saya dan kawan-kawan kelas ASD ’10, pada Sabtu (24 Novenber 2012) bertamasya ke Telaga sarangan, Magetan, kemudian dilanjutkan ke PantaI Pasir Putih di Trenggalek.
Rencana untuk rekreasi ini sebenarnya sudah ada sejak jauh-jauh hari ketika kami masih semester II, saat itu saya sebagai Kosmanya. Karena ada beberapa hal rencana itu baru terealisasi saat ini. Meskipun demikian saya merasa rekreasi kali ini sangat mengesankan. Selain bisa merekatkan tali emosional antarwarga kelas ASD, juga bisa mengunjungi sekaligus menikmati keindahan alam Indonesia. Bumi pertiwi yang Indah dan Mempesona.
Dalam kelas kami ada 30 Mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah, sampai berasal dari mancanegara. Mulai dari Pulau Dewata Bali, Probolinggo, Situbondo, Lumajang, Pasuruan, Sidoarjo, Surabaya, Madura, Mojokerto, Lamongan dan saya sendiri dari Bojonegoro. Yang dari Mancanegara ada 2 Orang, keduanya dari Malaysia. Tidak semua warga ASD bisa ikut berangkat saat itu, dengan alasan ada beberapa kepentingan yang harus diselesaikan. Hanya 24 orang yang ikut.
Kami Berangkat pada Jum’at pukul 23:00 WIB dengan Tiga mobil, Dua Daihatsu Xenia dan satunya Toyota Avanza. Kebetulan saya berada di salah satu Daihatsu Xenia tersebut. Untuk sampai di Magetan rute yang harus kami tempuh adalah Surabaya-Sidoarjo-Mojokerto-Jombang-Madiun-Magetan. Perjalanan ke Magetan kurang lebih kami tempuh selama 6 jam, itu pun karena sering berhenti di SPBU untuk mengisi BBM dan buang air kecil. Sampai di Telaga sarangan sekitar pukul 05:30 setelah mampir Sholat Shubuh di Masjid daerah Madiun. Sayang, Kami tidak sempat melihat Sun Rice. Sebelum masuk di Kawasan Telaga, kami menyempatkan diri berfoto di depan pintu masuk.
Ini merupakan kali pertama saya menginjakan kaki di Magetan. Jujur, ini juga merupakan pengalaman pertama saya mengunjungi Gunung Lawu dan Telaga Sarangan. Ketika sampai di kawasan pegunungan lawu saya merasakan panorama yang beda dari yang biasa saya lihat. Kalau biasanya melihat gedung-gedung bertingkat, saat itu saya melihat pemandangan alam yang memikat. Ketika biasanya merasakan hawa panas di Surabaya, saat itu saya merasakan hawa sejuk di Pegunungan.
Sepintas Suasananya mirip di kawasan Tretes, Pasuruan atau di Pacet Mojokerto. Hanya saja kawasan Gunung Lawu ini jalanannya lebih menanjak dan menguji Adrenalin. Sampai-sampai mobil yang saya tumpangi tidak kuat membawa kami naik dan harus kami dorong. Mobil baru bisa melanjutkan perjalanan setelah  mesinnya dingin.

Telaga Sarangan
Akhirnya kami tiba di Sarangan. Sesampai di telaga sarangan kami disambut dengan hawa dingin yang merasuk tubuh. Saya agak kecewa, karena airnya surut hanya terlihat dangkal sekali. Menurut penuturan seorang kawan Sarangan akan terlihat indah ketika airnya sampai diatas. Meskipun demikian, tidak mengurangi kebahagian saya melihat keindahan Alam ini. Gunungnya, suasananya, hawanya, dan sebagainya semakin memahamkan dan meyakinkan saya betapa agung dan menakjubkannya ciptaan Allah SWT.
Setelah turun dari mobil kami langsung menuju ke tepi telaga untuk berfoto-foto. Sebenarnya saya berniat dan kepingin naik kapal Boat mengelilingi Telaga, namun saya urungkan. Hanya kawan-kawan cewek yang saat itu berkenan naik. Saya lebih memilih duduk sambil memandangi orang yang sedang mamancing di samping grojogan air di sebelah Timur.
Setelah puas dengan panorama telaga, kami hendak ke Air Terjun, namun sayang, lagi-lagi kami urungkan. Selain tempatnya jauh, jalannya pun setapak, kami diharuskan membeli tiket masuk seharga Rp. 7.000. Kawan-kawan memutuskan untuk tidak naik dengan pertimbangan medannya jauh, bayar lagi, sedangkan perjalanan harus kami lanjutkan. Eman sebenarnya, jauh-jauh sampai sana namun tidak menikmati air terjun. Mungkin lain kali akan saya coba berkunjung lagi ke sana. Menurut saya Magetan memang mengesankan dan layak untuk menjadi jujukan wisata.

Mampir di Babadan, Ponorogo  
Sebelum melanjutkan perjalanan ke Pasir Putih, Trenggalek, kami mampir terlebih dahulu di Babadan Ponorogo, di salah satu rumah kawan kami, Afwan Romdloni. Sampai disana sekitar pukul 09:30 WIB. Setiba disana kami disambut hangat oleh senyum dan keramahan orang tuanya, kemudian dipersilahkan duduk ditempat yang telah disediakan. Sebenarnya kami takut merepotkan, namun dengan alasan silaturrahmi di rumah kawan, akhirnya kami sempatkan untuk mampir.
Tanpa menunggu lama kami langsung disuguhi dengan aneka macam makanan. Ada mangga, Krupuk dan Jajananan lainnya serta disuguhi dengan menu sarapan. Namun sayang, saya tidak mencicipi, karena saat itu saya sedang berpuasa Asyuro, tanggal 10 Muharram.
Sekitar pukul 11:30 kami beranjak dari Babadan. Seperti layaknya keluarga besar kami foto bersama keluarga afwan di depan rumahnya.

Pantai Pasir Putih, Trenggalek
Setelah melewati perjalanan lama yang melelahkan, akhirnya kami tiba di Pantai Pasir Putih. Tiba disana Pukul 14:30 WIB. Perjalanan menuju pasir putih saya akui sangat menguji adrenalin. Jalanannya yang berkelok-kelok, menanjak dan licin membuat kami berulang kali berdo’a, membaca sholawat agar perjalanan kami selamat sampai disana.
Setiba disana, terbayar sudah kelelahan saya saat di mobil. Memandangi panorama pantai dan pemandangan alam yang berkesan membuat rasa lelah saya seolah-olah hilang. Saya juga melihat ada bangkai kapal di tengah laut, konon itu adalah bekas kapal asing yang ditemukan melabuh di Laut Selatan.
Tanpa menunggu lama, saya langsung mendekat dan merasakan asinnya air laut. Awalnya saya sendirian berada di pantai sebelah utara yang berbatu. Melepas celana jin dan hanya mengenakan celana Boxer dan Kaos lengan panjang saya langsung mencebur ke laut, disambut dengan desiran ombak yang membahana menyapu tubuh saya ke bebatuan. Tanpa saya sadari Lutut dan Jempol saya robek oleh runcingnya batu. Namun tak terasa sakitnya karena terbasuh oleh kandungan yodium air laut.
Dengan tanpa menghiraukan rasa perih saya berbaur dengan kawan-kawan di sebelah selatan. Saling kejar-kejaran dan melempar pasir kami lakukan. Saya merasakan kenikmatan tersendiri di sini. Kenikmatan bisa bercanda ria bersama kawan-kawan di pantai, selain itu dapat berfoto dalam berbagai pose. Loncat dengan berteriak, berkacak pinggang, dan tentunya dengan melebarkan senyum termanis.
Puas dengan suasana pantai, kemudian saya membersihkan pasir-pasir yang ada di badan dengan mandi di MCK yang tersedia di pinggir pantai. Disana tertera, Mandi Rp. 3.000 Kencing dan Cuci Muka Rp. 2.000. Saya mandi dan harus merogoh kocek Rp. 3.000.
Sekitar Pukul 16:00 kami beranjak dari Trenggalek menuju Surabaya. Sebelumnya mampir terlebih dahulu di Masjid terdekat untuk sholat yang belum telaksana. Saat itu kawasan Prigi sedang turun hujan, saya harus berlari-lari kecil untuk menuju masjid.
Selamat tinggal pasir putih, mungkin cukup sekali saja saya mengunjungimu.
Kau terlalu jauh dan berliku, membuat saya tak bernafsu untuk berkunjung selanjutnya.
Kau telah memberiku kenang-kenangan yang membekas di Lutut dan Jempolku.
Itu Bukan berarti saya tidak suka denganmu.
Ini hanya sebuah pengakuan bahwa kau adalah ciptaan Tuhan yang mengesankan.

Perjalanan pulang tidak kalah melelahkan, selain hujan kami harus menepuh jalan yang licin dan bergelombang. Tentunya membuat Adrenalin kami kembali teruji. Perjalanan pulang kami tempuh sekitar 8 jam setelah sebelumnya mampir makan pecel di Tulung Agung. Sebelumnya saya berbuka puasa di mobil dengan hanya makan roti dan beberapa camilan serta dilegakan dengan Minum Fruit Tea. Tentunya ini merupakan pengalaman yang tak terlupakan bersama kawan-kawan ASD ’10.
Tiba di Surabaya tengah malam. Saya menaruh tas, kemudian Sholat dan menulis catatan ini selesai pukul 02:20 Dini hari. Sungguh ini adalah Pengalaman Berharga bagi perjalanan hidup saya.

Muhammad Ali Murtadlo
Surabaya, Pukul 02:20 WIB, 25 November 2012.

Jumat, 09 November 2012

Mengukir Kenangan dalam Kebersamaan (Pengalaman Mengikuti AICIS)


          Rabu, 07 November lalu saya bersama kawan-kawan Ambisi menghadiri acara AICIS (Annual International Conference On Islamic Study). Acara tersebut bertempat di Empire Palace Hotel, Surabaya. Sebenarnya acara ini sudah berlangsung sejak 5 November lalu, mala mini adalah malam puncak, malam penutupan. Kami berangkat pukul 17:00 WIB, bersama kira-kira 80 anak dengan berbagai latar belakang dan niat berbeda-beda.
AICIS merupakan agenda tahunan yang dihelat oleh Direktoral Jenderal Pendidikan Tinggi Islam Kementerian Agama RI. Tahun ini bekerjasama dengan IAIN Sunan Ampel Surabaya. Acara yang dihadiri oleh kalangan intelektual dari berbagai Perguruan Tinggi Islam di Indonesia itu terlihat begitu mewah. Dengan tempat begitu nyaman, fasilitas mendukung, dan pelayanan terjamin membuat acara kondusif dan pastinya eksklusif.
Bagi saya menghadiri acara yang bertempat di Hotel Bintang Lima serta bertaraf International merupakan kebanggaan tersendiri. Meskipun bukan merupakan peserta aktif, setidaknya bisa menikmati jalannya acara, dan menikmati segala fasilitas layaknya peserta penuh. Bisa menikmati sajian makanan, minuman dan berbagai hidangan lainnya. Seperti raja dalam semalam, ungkapan itu kira-kira yang cocok untuk saya khususnya, dan bagi kawan-kawan Ambisi pada umumnya.
Satu Jam Bersama Dahlan Iskan
Selain itu, yang paling berkesan adalah saya bisa bertemu langsung dengan Pak Dahlan Iskan, Menteri BUMN, yang saat itu menjadi pemateri dalam seminar terbuka. Pak Dahlan merupakan tokoh favorit saya dan jutaan masyarakat Indonesia. Bukan sekedar bertemu, bahkan saya berdampingan langsung ketika beliau menandatangani pakta anti plagiarisme di atas kain putih yang memanjang di depan ruangan. Meskipun harus berdesak-desakan dengan wartawan saya berusaha untuk lebih dekat dengan beliau.
Ketika memasuki ruangan, saya pun ikut mengekor di belakangnya, namun tidak sampai di depan, hanya di tengah-tengah. Kemudian saya bergegas mencari tempat duduk. Saya duduk di deretan kursi yang sebenarnya khusus untuk para dosen-dosen, guru besar dan orang top lain. Tapi tidak masalah, tidak ada yang mengusir saya.
Ketika Pak Dahlan naik ke podium sontak ruangan ramai oleh suara tepuk tangan. Tepuk tangan semakin riuh saat beliau memulai menyampaikan seminar terbuka. Bagi saya yang membuat istimewa adalah kesederhanaan, kewibawaan, kharismatik, komitmen dan optimitas dari beliau sungguh sangat besar.
Saat itu beliau menceritakan perjalanan hidup dari kecil sampai sekarang, menjadi Menteri BUMN. Sedikit banyak saya sudah paham mengenai perjalanan hidup beliau waktu kecil sampai dewasa lewat novel Sepatu Dahlan. Dari sepatu dahlan itu saya mendapat suntikan semangat, optimis bahwa orang miskin bukan berarti harus selalu menderita. Lulusan MA bukan menjadi alasan untuk tidak bisa menjadi orang sukses. Menyimak perjalanan hidup P. Dahlan membuat saya semakin yakin suatu saat nanti saya akan meraih kesuksesan seperti beliau.
Dari kisah pak Dahlan setidaknya mampu menginspirasi semua orang yang benar-benar mempunyai harapan. Pak dahlan menjelaskan bahwa kehidupannya berubah semenjak beliau merantau ke Samarinda, setelah beliau lulus MA. Beliau pun memberi tips bahwa merantau adalah kunci kesuksesan. Merantau merupakan momentum besar untuk lepas dari belenggu masa lalu. Dengan merantau itu terputuslah hubungan apapun, beban social, dan akan lepas dari romantisme masa lalu, termasuk lepas dari cinta.
Meskipun dari keturunan pesantren beliau tidak mau menjadi Kyai. Karena beliau keturunan pesantren dari pihak ibu tentunya tidak patut untuk menggantikan menjadi kyai. Yang lebih berhak meneruskan estafet pesantren adalah keturunan dari pihak ayah. Untuk itu dari pada nantinya menjadi mantan kyai akhirnya beliau memutuskan untuk merantau. Terbukti dengan merantau sekarang beliau bisa menjadi Menteri BUMN.
Beliau membayangkan, seandainya dulu tidak merantau paling-paling hanya bisa menjadi kepala desa. Jabatan itu sudah termasuk wah, seukuran orang kampung. Seandainya tidak merantau mungkin saat ini sudah menjadi suami dari cewek kampung yang dulu dekat dengan beliau, dst. Intinya, dengan merantau akan mendapat ganti yang lebih baik. Seperti apa yang dikatakan Imam Syafi’I (Syaafir Tajid Iwadlon Amman Tufarikuhu).
Ketika kuliah di IAIN Samarinda, beliau masuk dalam sebuah organisasi Pergerakan Islam. Bahkan pernah mencalonkan sebagi ketua pimpinan pusat pada saat itu. Namun akhirnya kalah dengan lawannya. Beliau pun sering diskusi dengan kawan-kawannya pada saat itu mengenai banyak hal. Salah satunya tentang, kenapa setiap sekolah yang terbaik pasti katholik, setiap Rumah sakit terbaik pasti dari katholik, surat kabar terbaik pun punyanya khatolik, namun mereka tampaknya tidak bisa menemukan titik temu.
Berawal dari “Ruuhul Jihad” untuk menjadikan Surat kabar terbaik adalah milik orang islam, akhirnya beliau mulai menggeluti dunia Jurnalistik. Beliau aktif di Ikatan Pers Mahasiswa pada saat itu. Awal karier beliau All Out tidak diganggu dengan apapun, termasuk ganguan dari kekalahannya mencalonkan sebagai Pimpinan Pusat Sebuah organisasi pergerakan Islam. Dan itu akhirnya terbukti beliau berhasil menjadi wartawan Tempo, dan bahkan mampu menjadi Direktur Utama Jawa Pos Group (Koran terbesar) sampai saat ini, dan menjadi Big Bos di JP Group. Dan ditengah kesibukannnya menjadi menteri, beliau masih menulis yang setiap hari senin dimuat di Manufacturing Hope (MH) Jawa Pos. Tulisannya pun tidak sembarang tulisan, namun enak dibaca dan mengena. Saya menjadi pembaca setia tulisan-tulisan beliau.
Acara semakin seru saat beliau memaparkan ke optimisannya, bahwa 15 tahun kedepan Indonesia akan menjadi Negara Maju. Indonesia akan mengalahkan spanyol, Italia, Prancis, Jepang, Tiongkok dll. Optimitas itu bukan hanya sekedar omongan, dengan bukti pertumbuhan Indeks Ekonomi Makro Indonesia yang mengalami kenaikan setiap tahunnya. Lihat saja sekarang, berapa banyak mobil yang memadati jalan raya, sampek terjadi kenacetan setia harinya. Bisa jadi, 5 tahun kedepan jumlah mobil akan menjadi 2x lipat jumlah mobil sekarang.
Untuk menjadi Negara maju, akan menjadi keniscayaan bagi Indonesia. Caranya harus dengan by design, by kesadaran. Dengan cara memetakan SDM yang ada di Indonesia. Berapa persen sarjana tehnik, berapa persen sarjana geologi, berapa persen pula sarjana akuntasi dan sarjana-sarjana lain agar ada kesinambungan saling membangun di bidangnya masing-masing. Jangan-jangan Indonesia saat ini sedang over di sarjana social, itu yang harus dipecahkan.
Ada 136 juta penduduk Indonesia yang sudah mempunyai fikiran untuk maju. mereka sudah tidak lagi memikirkan besok akan makan apa, minggu depan akan makan apa, lebaran tahun depan bisa beli baju baru atau tidak. Mereka sudah tidak lagi mikir tentang itu. yang mereka fikirkan adalah masa depan. Besok harus bisa membeli motor baru, mobil baru, bahkan membeli rumah baru, dll. Itu yang mereka fikirkan. Sehingga mau tidak mau mereka harus bekerja, bekerja dan bekerja.
Namun masih banyak jebakan untuk merealisasikan hal itu. Jebakan utama adalah masalah birokrasi. Tidak dapat dipungkiri birokrasi merupakan kendala utama. Bisa jadi para elite dan politisi di senayan tidak menginginkan Indonesia menjadi Negara maju, karena akan mengganggu posisinya sebagai elite birokrasi yang boleh dibilang “Dancuk”, kata arek suroboyo. Akan tetapi, jika memang elite dan politisi tidak menginginkan Negara Indonesia menjadi negara maju, 136 Juta penduduk tadi akan terpaksa maju. Demikianlah yang dapat saya paparkan ulang dari pemaparan Pak Dahlan.
Seminar selesai, pak Dahlan pun meninggalkan tempat. Selama kurang lebih satu jam yang penuh makna menurut saya. Mudah-mudahan terulang di lain kesempatan dan mampu membuat saya beroptimis untuk mengikuti jejak-jejak beliau dalam meraih kesuksesan.
Acara dilanjutkan dengan penutupan dan pemberian penghargaan kepada pemakalah  terbaik. Kemudian ditutup dengan penampilan Tim Paduan Suara IAIN Sunan Ampel Surabaya. Serta foto bersama kawan-kawan Ambisi. Hmmm.. Kebersamaan penuh kenangan.

Muhammad Ali Murtadlo
Surabaya, 09 November 2012

Rabu, 07 November 2012

Bernostalgia dengan Masa Kanak-Kanak (4)


Sebagaimana di catatan sebelumnya saya menganggap bahwa masa kanak-kanak merupakan masa yang paling indah untuk dikenang. Masa kanak-kanak merupakan bagian dari masa lalu, namun masa lalu yang tidak mungkin dapat terlupakan. Saya tegaskan, kisah saya bukan cerita bersambung layaknya Novel, Roman atau Sinetron. Melainkan hanya sebuah cerita yang dapat saya ingat dan layak untuk diceritakan. Tidak mungkin setiap jengkal langkah di masa kecil dapat saya ceritakan secara mendetail, jam demi jam, hari demi hari, atau minggu demi minggu dan seterusnya. Sekali lagi, saya hanya bercerita tentang masa lalu yang tak terlupakan.
Jika catatan sebelumnya berkutat masalah dunia pendidikan formal (sekolahan) di catatan ini saya hendak bercerita tentang pendidikan non formal yang pernah saya geluti. Banyak teman-teman, bahkan orang yang mengenal saya bertanya, Antum lulusan pondok pesantren mana? Saya jawab, saya tidak pernah mengenyam pendidikan pesantren sama sekali. Mereka banyak yang tidak percaya. Sebenarnya dulu pernah punya keinginan untuk mondok namun tidak diperbolehkan oleh ortu, dengan alasan kakak sudah berada di Pondok pesantren waktu itu, jadi saya harus di rumah untuk membantu beliau mengurusi urusan rumah. Perlu diketahui, Saya hanyalah lulusan MtsAi At-Tanwir Talun, bukan lulusan Pondok Pesantren.
Berikut ini saya ceritakan perjalanan gerilya saya dalam mendalami ilmu agama. Saya masih ingat, ketika awal-awal belajar mengaji. Masih berumur Balita (Bawah Lima Tahun) sebenarnya saya sudah diajak sama kakak mengaji. Setiap Ba’da Maghrib di Mushola agak jauh dari rumah, orang-orang dikampung menyebutnya dengan Langgar Tengah, karena lokasinya di tengah kampung. (Saat itu Mushola depan rumah belum dibangun). Kebetulan di Mushola itu memang disediakan untuk mengaji. Dulu belum ada TPQ, ngajinya masih program Sorogan (baca simak). Kebetulan yang mengajar adalah kakak saya sendiri dan beberapa temannya serta Sesepuh di Mushola tersebut. Saya paling senang ketika diajar oleh Mbah Adnan, Imam Sholat waktu itu. Beliau sudah meninggal ketika saya masih duduk di bangku MI. Allahumagfirlahu.
Setiap hari menjelang magrhib saya bersama kakak berangkat menuju mushola. Kira-kira 300 M dari rumah. Selain mengaji di Mushola terkadang juga mengaji di rumah dengan ibu sebagai tutornya. Maka tidak heran, jika saya paling menonjol dalam hal mengaji diantara teman-teman sebaya pada saat itu. Kira-kira umur empat tahun saya sudah hafal Huruf-Huruf Hijaiyah. Dan sebelum lulus MI saya sudah berhasil menghatamkan Al-Qur’an.
Waktu terus berjalan menelusuri lembah-lembah kehidupan yang semakin hari bertambah usia. Sistem pembelajaran pun dituntut untuk mengalami perkembangan. Ketika duduk dibangku kelas 3 dibentuklah TPQ (Taman Pendidikan Qur’an). Saat itu bukan di Langgar Tengah, tapi di Mushola Jami’atul Nurul Umah, TPQnya juga diberi nama sesuai nama mushola, TPQ Nurul Ummah . Pendirinya adalah Kyai Syami’an, beliau masih kerabat dengan saya. Lebih tepatnya beliau adalah sepupu bapak saya, Ibunya adalah saudara kandung nenek saya.
Metode yang dipakai adalah An-Nahdliyah yakni menggunakan ketukan sebagai irama lagunya. Satu ketukan untuk bacaan pendek, dua ketukan untuk bacaan yang dibaca dua harokat (satu alif) dan enam ketukan untuk bacaan yang dibaca Enam Harokat (3 alif). Kira-kira seperti itulah metode An-nahdliyah yang dapat saya ingat.
Saat pembentukan awal TPQ saya masih duduk di kelas 3 MI. Sebelum dimulai pembelajaran kami dikelompokan sesuai kemampuan. Kami ditest terlebih dahulu. Anak-anak kampung saat itu lumayan banyak sekitar tiga puluhan anak, laki-laki dan perempuan. Saat itu kami dikelompokan menjadi 3 kelompok, yakni Jilid 1, 2 dan 3. Kebetulan saya di kelompok jilid 3. Ngaji dimulai sore hari berikutnya.
Banyak kenangan yang terjadi waktu mengaji. Maklum masih seusia-usia segitu, pasti jiwa kekanak-kanakan kami masih begitu kuat. Kadang main sendiri, rame, kejar-kejaran satu sama lain. Yang paling penting adalah bisa buat hati senang. Ada sesuatu yang paling ditunggu-tunggu, yakni jalan-jalan. Ya, Setiap seminggu sekali semua santri TPQ diajak jalan-jalan memutari desa, biasanya pada hari kamis sore. Dengan berseragam, bersama para Ustadz dan Ustadzah kami memutari desa sambil menyanyi bersama. Lagunya seperti ini saya masih ingat : “Adibu Awladakum Ala Tsalaatsati Khisolin: Bihubi Nabiyikum, Wa ahli Baitihi, Wa Qiro’atil Qur’an (Didiklah Anak-anakmu mencintai tiga perkara: cintailah nabimu, cintai keluarganya, cintai baca al-Qur’an). Dengan penuh semangat sambil bertepuk-tepuk tangan kami berjalan mengelilingi desa lalu menuju kembali ke Mushola. Moment seperti inilah yang kami tunggu, karena selain bisa menikamti udara luar, kami akan disaksikan oleh orang-orang kampung, terkadang ibu juga menyaksikan.
Yang paling berkesan lagi adalah setiap ada Peringatan Hari Besar Islam (PHBI), Seperti Mauludan, Isro’ Mi’roj, dll. Pegurus TPQ pasti mengadakan pengajian. Sebelum pengajian pasti diadakan lomba, seperti lomba adzan, baca kitab, makan krupuk, balap karung, balap kelereng, dll. Moment seperti itu yang saya sukai. Setiap lomba dapat dipastikan saya pasti dapat juara. Yang menjadi langganan adalah juara lomba adzan dan baca kitab. Hadiahnya berupa buku, pensil, pulpen, dan jajan, diserahkan pada saat pra-Acara pengajian. Seneng banget waktu itu.
Perlombaan seperti itu biasanya juga diadakan menjelang acara Muslimatan. Muslimatan adalah acara berkumpulnya para Jama’ah Fatayat Muslimah Nahdlatul Ulama’ dari beberapa desa di satu kecamatan. Biasanya diadakan setiap bulan sekali. Tempatnya bergilir. Jika desa saya kebagian jadwal pasti para santri TPQ kegirangan, termasuk saya, karena pasti akan ada perlombaan, dan akan panen hadiah.
***
Setelah saya khitan, kelas 5 MI waktu itu, saya sudah khatam 6 jilid. Di Depan rumah saya pun sudah dibangun mushola. Jadi selain mengaji di TPQ, setiap ba’dla maghrib saya mengaji pula di Mushola depan rumah, Mushola Mubarokah namanya. Metode mengajinya berbeda, hanya berupa baca simak. Waktu itu saya sudah mengaji Al-Quran, yang mengajari saya Mas Tholib, Pemuda Lulusan salah satu Pondok Pesantren Salaf di Tuban.
Ketika sudah mengkhatamkan jilid 6, otomatis akan naik di PSQ (Program Sorogan Qur’an), namun tidak begitu lama karena semakin hari yang mengaji semakin sedikit. Saya terkadang hanya sendiri. Paling banyak yang datang hanya 3 anak, nggak lebih. Lama-lama saya merasa bosen, akhirnya saya memutuskan untuk pindah tempat mengaji. Di Madrasah Diniyah desa sebelah.
Di Madrasah Diniyah ini saya tidak lagi belajar mengaji Qur’an, melainkan mengaji kitab. Kitab yang kami kaji bermacam-macam. Saya masih ingat. Diantaranya: Aqidatul Awam (Tauhid), Alala (tata cara mencari ilmu), Ngudi Susilo (Akhlaq), dan Syifaul Jinan (Tajwid). Ini bagi kelas pemula, seperti saya. Kelas yang lain sudah belajar Taqrib, Nadlom Matan Jurumiah dan kitab-kitab lain.
Proses belajar mengajar di Madin ini dimulai pukul 14:00 s.d 15:00 WIB. Jadi setelah saya pulang sekolah masih ada waktu sekitar 2 jam untuk istirahat, main dan terkadang belajar kelompok sama temen-temen. Lokasi Madin lumayan jauh, saat itu saya belum punya sepeda, setiap hari saya harus pinjam sepeda tetangga. Sampek-sampek sungkan sendiri, masak setiap hari pasti pinjam. Terkadang saya berangkatnya nebeng sama temen. Pernah juga jalan kaki. Meskipun demikian tak menyurutkan semangat saya untuk tetap mengaji.
Seperti di TPQ dulu, di Madin ini setiap Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) juga mengadakan pengajian, sebelum pengajian juga diadakan lomba. Saya pernah menyabet 4 juara sekaligus. Juara adzan, baca kitab, hafalan kitab, dan meletuskan balon. Seingat saya saat itu adalah peringatan Isro’ Mi’roj. Penyerahan hadiahnya diserahkan di Podium sebelum acara pengajian. Seperti biasa, hadiahnya berupa buku tulis, sama Pulpen.
Kira-kira seperti itulah pengalaman masa kecil saya pada saat menimba ilmu di TPQ dan Madin. Namun belajar ngaji di madin itu harus saya tinggalkan ketika masuk di Madrasah Tsanawiyah (Mts). Karena sekolahan masuk siang, otomatis pada jam-jam ngaji itu saya harus sekolah. Namun sebagai alternative saya mengikuti yang jadwal malam, yakni ba’dla maghrib. Perlu diketahui di madin ini saya tidak sampai mengkhatamkan semua kitab. Hanya kitab-kitab dasar ringan yang dapat saya khatamkan. Seperti Aqidatul Awam, Alala, syifaul jinan. Semenjak kelas 3 Mts, saya sudah tidak lagi mengaji di Madin. Hanya berkonsentrasi di Mts, karena saya rasa di Mts sudah mencakup materi-materi yang ada di Madin. Belakangan saya menyesal kenapa dulu tidak menyelesaikan sampai selesai di Madin.
Setidaknya apa yang saya lakukan dulu adalah aplikasi dari mahfudlot yang saya pelajari di Mts. At-ta’alumu fi Shigori kan Naqsi alal Hajari (belajar diwaktu kecil bagaikan mengukir di atas batu). Belajar waktu kecil memang perlu perjuangan namun hasilnya tidak meragukan. Layaknya ukiran batu, sulit untuk mengukirnya namun indah dan abadi hasilnya. Senada dengan ungkapan tadi “Ta’alam shogiron Wa’mal bihi Kabiron” (Belajarlah pada waktu kecilmu dan amalkan pada waktu besarmu). Ketika sudah mumpuni kita juga harus mengamalkan, karena “Al-ilmu bi Laa Amalin Kas Syajari Bi Laa Tsamrin”, ilmu yang tidak diamalkan itu bagaikan pohon yang tidak berbuah. 

Muhammad Ali Murtadlo
Surabaya, Kamis, 08 November 2012 M

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India