Sebaik-baik Manusia Adalah Orang yang Bermanfaat Bagi Sesama (H.R Buchori Muslim)
“Hidup adalah perjalanan waktu dan perpindahan tempat. Kapan pun dan di mana pun kita berada, haruslah memberi manfaat bagi sesama, karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Learn, Share, Success! (Muhammad Ali Murtadlo)”

Sunday, 3 January 2016

Perjalanan Hidup di Kampung Inggris Pare (Part-2)



Member Reguler

Menjalani hidup di tempat orang lain memang banyak rintangan. Seperti yang saya rasakan ketika sudah beberapa bulan melewatkan waktu di Kampung Inggris. Susah senang pernah saya rasakan.
Senang karena banyak ilmu, pengalaman dan teman yang didapatkan. Susah karena harus menyiapkan materi dan segala sesuatu untuk mengajar. Karena semua otak harus diaktifkan.

Rutinitas yang monoton membuat saya merasa jemu. Apalagi ketika sudah menginjak bulan ke-empat. Semenjak itu saya sudah tidak lagi mengikuti kelas wajib yang biasa kami ikuti bersama teman-teman di TC 6. Kami sudah dipisah dan tidak satu dormitory lagi. Masing-masing sudah diberi tugas untuk mengajar sekaligus menghandle dormitory. Selain itu juga diwajibkan untuk mengajar program reguler. Dan semenjak itu pula rasa kekeluargaan kami berkurang karena intensitas untuk bertemu mulai berkurang.
Launching Media
Menghandle camp dan mengajar ini tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Karena dalam ketentuan penerimaan beasiswa tidak tertera demikian. Yang ada hanyalah aturan OJT (On The Job Training) dan di brosur penerimaan tertera tulisan besar “Tanpa Pengabdian”. Yang ada dalam bayangan saya sebelumnya adalah belajar secara mendalam tentang segala seluk beluk bahasa inggris guna untuk persiapan saya nanti melanjutkan study. Eh, ternyata malah berbanding terbalik. Sehingga dalam hati kecil saya bertanya-tanya “kog seperti pengabdian gini ya”. Namun demikian, saya berusaha menjalaninya dengan ikhlas. Meskipun di situ kadang saya merasa sedih.
Free Class
OJT ini pun tak berkonsep jelas. Ada semacam kecemburuan sosial di situ. Hanya tiga orang yang dikirim ke Tasikmalaya saat itu. Selebihnya mengajar di lembaga sendiri dengan sedikit “dipaksakan”. Bahkan, saya dan tiga teman lain yang dijanjikan OJT di Garut, sampai program ini selesai tak ada konfirmasi. Kecewa? tidak. Itu ibarat kau dijanjikan bakal dibelikan helikopter oleh orang yang bahkan buat beli buku saja tak mampu.
Sebelum kami benar-benar memegang kelas reguler, kami diwajibkan membuka Free Class (Kelas gratis dan terbuka bagi umum). Kita membuka kursus sendiri. Mulai mengkonsep pembelajaran, menyebar brosur, menerima pendaftaran, managemen pelaksanaannya hingga acara perpisahan (farewel party). Kebetulan saat itu, saya didapuk menjadi ketua pelaksana free class. Alhamdulillah, free class yang berlangsung dua minggu atau satu periode itu berjalan lancar. Bahkan waktu perpisahan, acara berlangsung meriah. Kalau kau penasaran dengan kami, intip di sini http://tc6globalenglish.blogspot.co.id/
Teman-teman yang dipasrahi menghandle dormitory tidak murni satu-satu. Artinya terkadang ada dua tutor hingga tiga tutor dalam satu dormitory. Untuk pertama kali dipisah itu saya tetap bertahan di dormitory lama, yakni Male 1. Itu adalah pertama kalinya Male 1 ditempati oleh member reguler setelah sebelumnya dijadikan “Camp Penampungan Robot”.
Saat Tahun Baru 2015
Male 1 pada saat itu adalah rumah yang tidak punya ruang tamu atau lebih tepatnya layaknya rumah kos-kosan. Ada tiga kamar kecil yang berkapasitas tiga orang perkamar serta satu kamar besar yang bisa menampung dua kali lipatnya. Dua kamar mandi serta tempat mencuci pakaian berada di sebelah selatan. Atap rumah yang dilapisi plastik besar serta penuh dengan “serawang” menjadi pemandangan tiap hari. Bahkan saya sering menatap dan mengimajinasikannya liar  menjelang berlayar ke pulau kapuk. Male 1 pada saat itu juga terkenal dengan camp paling rawan kemalingan. Tercatat sudah dua laptop dan tiga handphone raib digondol maling.
  Selama kurang lebih satu bulan saya berada di Male 1 mendampingi teman-teman dari Bandung, Jakarta, Madura, Tulungagung, Malang dan Solo. Ada yang menarik dan terkesan saat periode itu. Orang-orangnya asyik, ramah, lucu dan yang paling penting adalah rasa kekeluargaan dan respect. Setiap minggu main futsal bareng. Bahkan yang paling terkesan adalah saat pembuatan jargon camp. “Melone” dipilih menjadi nama camp yang lebih keren, pronounciation dari Male one dibaca melone.
Selepas Story Telling Competition
Sebulan berlalu, saya pindah di camp baru yang belum bernama. Bangunan lantai tiga yang mirip asrama mahasiswa di kampus. Membernya baru-baru, rata-rata mahasiswa yang sedang liburan. Ada sekitar tujuh puluhan member yang berbeda usia, latar belakang dan tentunya beda daerah asal. Camp baru itu akhirnya kami beri nama Bikinibottom. Agak seksi memang tapi tak masalah. Nama itu terinspirasi dari nama kampung di bawah lautnya Spongebob. Selama satu bulan pula saya menemani mereka memperdalam bahasa inggris.Banyak hal menarik yang kami ukir. Salah satunya adalah agenda futsal setiap minggu. Itu yang sedikit mengusir rasa jemu.
Tim Futsal The Bikinibottom
 

Hingga akhirnya saya dipindah lagi ke dormitory baru, Saigon. Waktu terus berjalan, hari hari yang saya lalui di pare menjadi semakin menjemukan ketika harus berjibaku dengan rutinitas yang membosankan. Pagi jam 5 bangun, sholat, kemudian program, begitu seterusnya. Bahkan selama saya berada di Saigon rasa jemu itu berubah menjadi tak nyaman. Entahlah, yang jelas sejak saat itu saya seperti merasa terkekang dalam rutinitas yang menjemukan. (to be continued). 


Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India