Sebaik-baik Manusia Adalah Orang yang Bermanfaat Bagi Sesama (H.R Buchori Muslim)
“Hidup adalah perjalanan waktu dan perpindahan tempat. Kapan pun dan di mana pun kita berada, haruslah memberi manfaat bagi sesama, karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Learn, Share, Success! (Muhammad Ali Murtadlo)”

Saturday, 2 January 2016

Perjalanan Hidup di Kampung Inggris Pare (Part 1)


Saat Kelas Speaking Bersama Tutor Kece; Mr. Ardi
Sejak pertama datang ke Pare saya sudah merasakan betapa besarnya geliat atmosfer bahasa. Setiap hari tidak pernah sepi. Pare, khususnya di Tulungrejo sudah menjelma menjadi seperti kehidupan di kota. Suasananya, gaya hidupnya, keramaiannya, namun yang membedakan adalah masyarakatnya yang tetap ramah dan baik hati.
Saya bersama team Teaching Clinic 6 atau yang akrab disebut TC Six mulai beradaptasi satu sama lain, mengenal karakter masing-masing. Bersama selama kurang lebih sepuluh bulan nanti tentu saja akan menyiksakan kenangan tersendiri. Kenangan hidup yang tak akan terlupakan.
Pasukan Bidadari yang Tak Bersayap
Kami tinggal di Dormitory yang akrab disebut Alas Roban. Terletak di tikungan jalan Flamboyan. Sebelah kiri adalah sungai yang airnya tak begitu jernih dan penuh dengan sampah. Sedangkan di belakangnya adalah bamboo yang rimbun yang sesekali membuat merinding ketika tiba-tiba terbangun dimalam hari. Kami terbagi menjadi 4 kamar yang masing-masing kamar diisi 2 sampai 3 orang. Saya sendiri berada di kamar no. 1 yang letaknya dekat dengan kamar mandi dan paling belakang. Alas roban tak seperti rumah tapi persis seperti kos-kosan yang kamarnya berjajar dengan serambi di depan.
Setelah Outbond
Setiap hari kami mengatur jadwal untuk membersihakan halaman dari daun-daun bambu kering. Karena kami berjumlah 10 orang maka setiap hari ada 3 orang yang kebagian membersihkan halaman. Jadwal ini berputar satu minggu dua kali jadi masing-masing orang mempunyai jadwal dua hari dalam seminggu untuk membersihkan halaman. Untuk hari minggu kami kerja bakti bersama-sama.
Meskipun kami penerima beasiswa namun yang dibiayai hanyalah program dan camp, sedangkan untuk makan dengan biaya sendiri. Tarif makan di Pare bisa dibilang murah tergantung kita makan dengan laiuk apa. Umumnya warung makan di pare sistemnya prasmanan dan langsung bayar. Setiap hari minimal saya mengeluarkan uang 15 ribu untuk makan. Namun sekarang kami memutuskan untuk masak sendiri. Saya memperbaiki Magic Com yang sudah dan saya manfaatkan untuk masak. Untuk beli beras kami iuran Rp. 10.000 perorang untuk makan seminggu sedangkan untuk beli lauk kami iuran Rp. 2.000 setiap mau makan. Rutinitas seperti itu yang kami lakukan berhari-hari, berminggu-minggu sampai berbulan-bulan. Terkadang malah kami harus pulang malam lantaran harus membuat acara semacam Stand Up Comedy dan Talkshow.
Nama-Nama Kami
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, sepertinya baru kemarin saya datang ke Pare tetapi ternyata sudah hampir empat bulan. Banyak hal yang saya dapatkan di sini. Bulan ke empat ini Teaching Clinic sudah disuruh menghandle kelas dormitory di dormitory-dormitory lain. Sejak saat itulah, rasa kebosanan mulai hinggap. (to be continued)

Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India