Sebaik-baik Manusia Adalah Orang yang Bermanfaat Bagi Sesama (H.R Buchori Muslim)
“Hidup adalah perjalanan waktu dan perpindahan tempat. Kapan pun dan di mana pun kita berada, haruslah memberi manfaat bagi sesama, karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Learn, Share, Success! (Muhammad Ali Murtadlo)”

Friday, 1 January 2016

Menyaksikan Pergantian Tahun di Ranu Kumbolo

Ketemu pendaki cilik dari Bandung
Semua orang punya cara masing-masing untuk menghabiskan momen akhir tahun dan menyambut tahun baru. Bagi masyarakat perkotaan, tahun baru identik dengan perayaan yang disimbolkan dengan pesta, ngumpul sama kolega, sahabat, dan dipungkasi dengan penyalaan kembang api tepat di detik pertama menjelang tanggal satu, tahun berikutnya.
Bagi masyarakat pedesaan yang awam masalah hiruk-pikuk kemajuan zaman, mungkin banyak dari mereka yang tidak menyadari, bahkan tidak mengetahui bahwa momen tahun baru adalah waktu yang sangat spesial. Lantas apa sebenarnya makna dari pergantian tahun?

Tim Lengkap Sebelum Meninggalkan Rakum
Bagi saya, momen akhir tahun adalah waktu untuk merefleksi dan berintrospeksi diri mengenai apa yang telah dilakukan selama setahun sebelumnya. Dan kemudian menyambut tahun baru dengan berbagai harapan dan resolusi hidup untuk dilaksanakan di tahun mendatang. Merefleksikan diri dengan berbagai aktifitas selama setahun adalah sebuah keharusan guna menunjang taraf hidup kita di tahun berikutnya. Setidaknya, dengan itu kita bisa mengukur, seberapa beruntungkah kita.
Bersantai di Tanjakan Cinta

Berbeda dengan tahun sebelumnya, refleksi akhir tahun 2013 dan resolusi awal tahun 2014 ini saya lakukan bersama 15 teman lain yang tergabung dalam sebuah organisasi “DMI” (Dahlanis Mahasiswa Indonesia). Di momen ini saya mendapatkan kesempatan untuk melakukan refleksi dan resolusi hidup di Ranu Kumbolo. Ranu Kumbolo berada di ketinggian +- 2400 Mdpl, terletak di jalur pendakian Gunung Semeru, Lumajang, Jawa Timur.

Untuk menuju ke sana, ada banyak cara. Namun, untuk mencapai Ranu Kumbolo, kita harus jalan kaki dari Ranu Pani.  Kami berangkat dengan naik motor ke Ranu Pani. Rencana awal berangkat tanggal 30 Desember 2013 pukul 04;00 WIB, namun karena berbagai hal, pukul 05;00 WIB kami baru hangout menuju Semeru. Perjalanan kira-kira bisa ditempuh paling cepat 5 jam dari Surabaya sampai Malang untuk menuju pintu masuk TNBTS (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru).

Suasana Hening dengan puluhan tenda-tenda
Perlengkapan pendakian jauh-jauh hari sudah saya siapkan. Tas carier, matras, sleeping beg, dan berbagai perlengkapan logistik lainnya. Tinggal berangkat menuju tempat tujuan. Diawali dengan do’a bersama di depan gerbang kampus, kemudian kami jalan dengan iring-iringan ke arah selatan, melewati Sidoarjo, Pasuruan, Malang dan kemudian masuk di jalur pendakian, Ranu Pani, Lumajang.
Heningnya Ranu Kumbolo
Sebelum sampai di jalan yang menanjak dan berliku-liku kami berhenti di rest area, Ponco Kusumo. Di sana sarapan dengan bakso prasmanan. Kenapa prasmanan? karena untuk menikmati bakso ini, kami dipersilahkan mengambil sendiri. Cukup mengenyangkan. Mengingat perut keroncongan belum terisi dari pagi. Selain perut, motor yang kami tumpangi juga sudah diisi BBM full di SPBU terakhir sebelum masuk area TNBTS.

Saat perut mulai keroncongan
Sepanjang perjalanan masih lancar dan cuaca cerah. Namun, ketika sampai di Ranu Pani, hujan mulai turun dan cuaca mendung. Jalan di pegunungan tentu beda dengan jalanan di dataran rendah atau perkotaan. Dengan ekstra hati-hati kami melewati trek yang ekstrem itu. Saya, yang belum terbiasa nyetir motor di tanjakan dan jurang yang menantang, beberapa kali sempat oleng. Apalagi, motor yang saya pakai ban depannya sudah tipis. Bahkan ketika pulang, sempat terperosok. Untung tidak sampai masuk jurang. Untuk Nikhayatus Sholihah, maaf ya sudah membuatmu memar dan mengeluarkan air mata. Untung ada bapak-bapak yang bersedia menolong dan dibonceng sampai bawah.

Bersama Tim sebelum nanjak ke Ranu Pane
Sampainya di Ranu Pani, motor kami parkir di tempat parkir dengan tarif Rp. 5.000/hari. Setelah mengurusi segala persyaratan pendakian, sekitar pukul 15;00 WIB dengan guyuran hujan rintik-rintik kami mulai mendaki. Sebelum benar-benar mengenakan tas, dan segala perlengkapan yang akan dibawa, dengan mengenakan jas hujan kami berdo’a terlebih dahulu. Inilah, pendakian yang sebenarnya akan dimulai.
Best Couple

Untuk menuju Ranu Kumbolo, kami harus melewati 4 Pos. Jarak antara pos satu dengan lainnya variatif. Tak bisa diukur dengan satuan KM. Pathok penunjuk jarak yang terpasang tak sepenuhnya benar. Hanya menipu. Bagi pendaki pemula, yang baru pertama kali ke Semeru seperti saya pasti akan percaya. Namun, setelah mengetahui treknya seperti itu, saya baru mengerti, bahwa pathok penunjuk jarak itu hanya penyemangat belaka. Trek awal dari pintu masuk “Selamat Datang Para Pendaki Gunung Semeru” ini sudah menantang. Becek, licin, dan penuh jebakan. Jika tidak ekstra hati-hati akan terpeleset bahkan bisa terperosok. Sayangnya, saya tak begitu menikmati pemandangan, karena cuaca mendung dan turun hujan.

Tanjakan Cinta
Tanpa direncanakan, perjalanan kami berpencar menjadi 3 kelompok. Sampai di Pos 1, masih bersama-sama, setelah itu berpencar. Saya bersama 4 teman lainnya berada di kelompok terakhir. Hari sudah mulai petang, perjalanan masih jauh, hujan semakin deras, kaki mulai lelah dan pundak semakin sakit karena beban Carier 80 Liter, beratnya lebih dari 15 Kg. Mau tidak mau, kami harus berjalan perlahan-lahan, setiap 10 menit berhenti. Dengan penerangan lampu senter seadanya akhirnya kami bisa ngumpul bersama kelompok lain di Pos 3. Di sini lah kami mengisi perut dengan mie yang sudah dipersiapkan oleh kelompok yang lebih dulu sampai.

Bersantai Berdua
Sampai di pos 3 ini udara semakin dingin. Baju basah, sarung tangan basah, kaos kaki basah, semua serba basah. Sempat terjadi perdebatan antara meneruskan perjalanan atau mendirikan tenda di pos 3. Akhirnya, disepakati untuk meneruskan perjalanan. Tapi ada dua cewek yang tidak ikut naik dan akan naik keesokan hari bersama para pendaki lain. Tak masalah. Trek dari pos 3 menuju ranu kumbolo lumayan terjal dan licin. Karena penerangan senter seadanya, kami berjalan ekstra hati-hati. Salah langkah sedikit saja bisa berbahaya, karena kanan-kiri sudah jurang.
Indahnya Bunga

Ketika melihat cahaya senter dari pantulan air danau ranu kumbolo, kami gembira bukan kepalang. Perjalanan yang lumayan melelahkan ini akan segera terbayar. Namun, masih banyak yang harus dilakukan. Mendirikan tenda, membersihkan badan lalu sholat, baru kemudian istirahat. Di malam gelap gulita, hujan, dingin, beratapkan kain tenda, kami mengistirahatkan badan. Menunggu pagi akhir tahun tiba

Pagi, Selasa, 31 Desember 2013, Ranu Kumbolo gerimis. Terpaksa kami tak bisa menikmati sun rise. Percuma menanti matahari muncul, sampai siang pun tak ada tanda-tanda sang surya itu menampakan panasnya. Hanya cahaya samarnya yang bisa kami nikmati. Setelah urusan sarapan dan menghangatkan badan selesai, kami hunting foto. Mencari view yang menarik dan mengumpulkan gambar sebanyak-banyaknya. Dengan background alam pegunungan, hutan, danau dan cuaca agak mendung itu kami banyak mengambil gambar.

Tanjakan "Cinta"
Kemudian kami menuju “tanjakan cinta”. Istilah tanjakan cinta ini dipopulerkan oleh film 5 CM. Konon, ketika menaiki tanjakan ini dan kita sedang memikirkan seseorang yang kita cintai akan menjadi kenyataan. Namun syaratnya tidak boleh menoleh ke belakang. Adegan itu pernah ditayangkan dalam 5 CM ketika Ian dan Zafran dengan begitu semangatnya naik dan memikirkan orang yang mereka cintai. Tapi akhirnya gagal karena menoleh ke belakang, gara-gara dipanggil genta. Ah, bagi saya itu cuma mitos dan tidak harus dipercaya. Di tanjakan cinta saya malah sering tolah-toleh, menikmati pemandangan. Setelah sampai ujung atas di tanjakan cinta, istirahat dan kemudian kembali ke tenda. Tak begitu lama, hujan turun lagi.

Selama 2 hari 2 malam kami berada di ranu kumbolo. Kami sengaja ngecamp di Ranu Kumbolo dan tidak melanjutkan sampai ke puncak mahameru. Di malam kedua, tepat di malam tahun baru kami hanya bisa berada di tenda karena hujan mengguyur lumayan deras. Sampai-sampai tenda yang ditempati para kaum hawa bocor, dan akhirnya mengungsi di tenda satunya. Momen itu kami manfaatkan untuk melakukan refleksi dengan “forum kejujuran”. Forum kejujuran ini sebenarnya tak pernah direncanakan. Hanya saja daripada tak ada aktivitas apa-apa, kami akhirnya melakukan. Itung-itung untuk merefleksikan diri dan berbagi pengalaman hidup. Soal asmara, masa lalu, masa depan, impian dan makna hidup dibongkar oleh masing-masing orang.

Kembang Api di Atas Ranu Kumbolo
Di detik-detik pergantian tahun, suara kembang api menggelegar di langit Ranu Kumbolo. Banyak pendaki lain yang sengaja menyalakan kembang api. Yang paling meriah adalah kembang api hasil ide kreatif crew TVONE. Kebetulan saat itu mereka berada di sana untuk program perayaan tahun baru. Momen ini sungguh langka, saya benar-benar bisa menyaksikan pergantian tahun di Ranu Kumbolo. Apalagi bersama orang spesial.

Muhammad Ali Murtadlo, Seseorang yang ketagihan mendaki gunung.
Reaksi:

7 komentar:

kartina ika sari said...

Wahh seru banget nih pengalamannya..ngomong2 makan baksonya "melayani sendiri' itu berapa harga semangkuknya?

Hanik Sholihah said...

Wah, pngalaman yg mnyenangkan. Jd rindu ksana lagi..

Ali Murtadlo El-Fauzy said...

Lupa mbak Ika, Kalau nggak salah cuma 5 ribu semangkuk. Ayo dicobain naik gunung mbak. Sudah pernah apa belum?

Hatta Blog's said...

storytelling bagus

Muhammad Hilman Fadhlulloh said...

Wewwwww....
Mantap brrooooo...

Ali Murtadlo El-Fauzy said...

Terima kasih bang Hatta!

Ali Murtadlo El-Fauzy said...

Bang Hilman termasuk tim dan pelaku dalam cerita. Btw, Motor tuamu yang memaksa kita saling menunggu ketika naik ranu pane itu masih ada nggak? hehe

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India