Sebaik-baik Manusia Adalah Orang yang Bermanfaat Bagi Sesama (H.R Buchori Muslim)
“Hidup adalah perjalanan waktu dan perpindahan tempat. Kapan pun dan di mana pun kita berada, haruslah memberi manfaat bagi sesama, karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Learn, Share, Success! (Muhammad Ali Murtadlo)”
Tampilkan postingan dengan label My Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Story. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Juli 2021

Lingkaran Kehidupan

Partner Kerja

Tanpa kita sadari, kehidupan sejatinya berjalan sesuai dengan lingkaran yang itu-itu saja. Keluarga, pertemanan, tetangga, rekan kerja dan sesekali mungkin akan menemui orang-orang baru.


Rabu, 26 Juli 2017

Menyibukan Diri di Perpustakaan Daerah (PERPUSDA) Jawa Timur




Sejak beberapa minggu terakhir, saya menyibukan diri dengan pulang pergi ke Perpustakaan Daerah (Perpusda) Jawa Timur. Selain karena kuliah belum masuk, saya bisa dengan nyaman membaca dan menulis. Perpustakaan ini mulai berbenah sejak diresmikan oleh Pakde Karwo, Gubernur Jatim, pada tahun 2014 silam. Saya baru akrab dengan perpustakaan ini selama liburan bulan puasa 2017. Sebelumnya tak pernah terfikirkan kalau ada perpustakaan yang nyaman seperti ini di Surabaya.

Rabu, 03 Agustus 2016

Berkunjung Ke Negera Seberang: Malaysia & Singapore (Bagian-1)



Pra Keberangkatan Kami Berpose di Bandara Soeta
Bermula dari keinginan kuat untuk menginjakan kaki di luar negeri, saya berselancar mencari tiket pesawat promo PP Jakarta-Kuala Lumpur untuk pemberangkat bulan juni 2016. Saat itu bulan Januari 2016, waktu saya masih berada di Universitas Indonesia untuk mengikuti shortcourse bahasa Belanda dan bulan juni, shortcourse itu akan berakhir. Hitung-hitung sebagai refreshing setelah enam bulan berjibaku dengan ayat-ayat belanda yang aduhai sulitnya.

Minggu, 13 Maret 2016

Catatan Perjalanan Mora Nederlands Cursisten Universitas Indonesia (MNC UI): Pekan Keenam



Aku kembali untuk berbagi cerita. Barangkali ada yang dapat diambil sebagai ilmu dan bermanfaat. Atau justru menggangu fikiranmu. Jika yang terakhir yang kau rasakan, akhiri saja. Tutup blog ini dan kembali beraktivitas.
Hari Ke-35 (Rabu, 13 Jan 16)
Hari ini ada tugas dari mevrouw Mursida untuk membuat video singkat mengenai rencana di Belanda. Kami berempat. Aku, mbak Tati, mas Dahrul dan Pak Dayat. Kami menyusun konsep. Aku menawarkan agar video singkat itu dibuat sesimpel mungkin dengan berbagai variasi. Pertama dengan menampilkan background masing-masing dengan spreken singkat mengenai nama, asal dan tujuan ke Belanda.

Kamis, 07 Januari 2016

Dari Jombang Menuju Makam Para Wali Jawa Tengah

Meskipun bukan akhir pekan tapi waktu itu cukup mengesankan. Saat itu adalah pengalaman pertama saya mengunjungi/Ziarah Makam Para Wali di Jawa Tengah.

Rabu, 06 Januari 2016

Pelangi di Air Terjun Ngleyangan

We are BFF: Best Friend Forever
Selama ini, kebanyakan orang lebih senang berwisata di tempat wisata buatan. Tempat wisata seperti Jawa Timur Park (Malang), Wisata Bahari Lamongan (Lamongan), Kebun Binatang Surabaya (Surabaya), dan tempat wisata buatan lainnya lebih banyak diminati, daripada tempat-tempat yang alami.
Padahal, sesuatu yang alami lebih sedap dipandang mata. Selain memanjakan mata, kita dapat merasakan betapa indah ciptaan Tuhan.

Selasa, 05 Januari 2016

At-Tanwir, Sekolah dan Kenangan Itu (Part-2 Habis)

Saat Haflah Akhirissanah
Saya saat itu, seorang anak kecil lulusan Madrasah Ibtidiyah yang belum banyak tau tentang dunia luar, mulai kagum dengan kondisi bangunan dan juga kehidupan di lingkungan Madrasah Tsanawiyah.

Senin, 04 Januari 2016

At-Tanwir, Sekolah dan Kenangan Itu (Part-1)

Pintu Gerbang
Kawan! kalian pasti setuju, bahwa masa-masa sekolah adalah masa dimana kita mengukir kenangan. Masa dimana banyak aktifitas kita lakukan di sana. Bahkan boleh dibilang waktu kita tersita hanya karena sekolah.

Minggu, 03 Januari 2016

Perjalanan Hidup di Kampung Inggris Pare (Part-2)



Member Reguler

Menjalani hidup di tempat orang lain memang banyak rintangan. Seperti yang saya rasakan ketika sudah beberapa bulan melewatkan waktu di Kampung Inggris. Susah senang pernah saya rasakan.

Jumat, 01 Januari 2016

Menyaksikan Pergantian Tahun di Ranu Kumbolo

Ketemu pendaki cilik dari Bandung
Semua orang punya cara masing-masing untuk menghabiskan momen akhir tahun dan menyambut tahun baru. Bagi masyarakat perkotaan, tahun baru identik dengan perayaan yang disimbolkan dengan pesta, ngumpul sama kolega, sahabat, dan dipungkasi dengan penyalaan kembang api tepat di detik pertama menjelang tanggal satu, tahun berikutnya.

Minggu, 12 Mei 2013

Cerita dari Kampung Halaman



Ahad (12/05), Saya sekarang berada di kampung halaman. Lama tak pulang kampung membuat saya rindu suasana kampung. Entah kenapa hati saya tergerak untuk menuliskan cerita tentang kampung halaman dan masa kanak-kanak. Menurut saya masa paling terkesan tetap masa kanak-kanak di kampung halaman. Masa di mana saya menghabiskan waktu bersama alam, tanpa beban, tanpa “tanggung jawab” dan tanpa ini itu. Pokoknya mau apa saja terserah.
Seperti catatan saya bertajuk Bernostalgia Dengan Masa Kanak-Kanak sebelumnya saya memaparkan cerita yang hanya saya ingat.

Senin, 03 Desember 2012

Perjuangan Masuk Perguruan Tinggi Jalur Beasiswa


Saya bukan termasuk mahasiswa yang masuk Perguruan Tinggi Lewat jalur SNMPTN, tetapi saya memiliki pengalaman menarik terkait perjuangan saya untuk bisa masuk Perguruan Tinggi yang saya idamkan.
Saat itu, saya sudah mengikuti Ujian Nasional namun belum ada pengumuman kelulusan, tiba-tiba Guru BK memanggil 5 anak dari kelas saya untuk menghadap ke kantor kesiswaaan sepulang sekolah, saya termasuk salah satunya. Awalnya saya tidak mengerti maksud dipanggilnya ke 5 anak ini. Saya ikuti saja tanpa banyak bertanya.
Di kantor kesiswaan ternyata yang dipanggil bukan kami berlima saja. Ada 20 anak perwakilan dari empat kelas. Kelas IPA 1, IPA 2, IPS 1 dan IPS 2, kebetulan saya dari kelas IPA 1. Di sana dijelaskan bahwa kami 20 anak adalah siswa terpilih dari semua kelas untuk berkesempatan mendaftar ke Perguruan Tinggi melalui program PBSB (Program Beasiswa Santri Berprestasi), Program dari Depag (Departemen Agama).
Saya yang notabene suka dengan sesuatu yang tanpa biaya dan tanpa merepotkan orang tua sontak sangat senang, meskipun belum tentu bisa diterima karena harus melewati persyaratan dan perjalanan yang sangat panjang. Saya harus melengkapi berkas-berkas yang begitu rumit, seperti mengurus Akta Kelahiran, Surat KK (Kartu Keluarga), KTP (Kartu Tanda Penduduk), Rekening Listrik 3 Bulan Terakhir, dan lain sebagainya. Saya masih ingat waktu itu harus mengurus sendiri kartu KK di Kantor Kepala Desa dan Kantor Pencatatan Sipil. Dan juga mengurus KTP di Kantor Kecamatan yang saya lakukan sendiri tanpa merepotkan orang tua.
Setelah berkas persyaratan itu lengkap, saya juga harus mengurus surat-surat lain, seperti surat rekomendasi dari pihak Sekolah dan Pesantren. Pada saat itu pengasuh pesantren sulit sekali untuk ditemui, saya harus bolak-balik ke-Ndalem untuk sekedar minta tanda tangan yang sangat berharga itu. Saya dan teman-teman waktu itu harus pulang sore menjelang magrhib hanya untuk mengurus segala berkas-berkas itu.
Setelah berkas beres, selang beberapa hari saya dikagetkan dengan pengumuman selanjutnya. Bahwa berkas yang saat itu saya kumpulkan dengan penuh perjuangan ditolak oleh pihak pengelola PBSB, dengan alasan melebihi kuota. Maksimal setiap Pondok pesantren hanya boleh mendelegasikan santrinya sebanyak 10 anak. Pesantren saya yang waktu itu menyetorkan 20 berkas otomatis 10 berkas yang lain ditolak. Saya termasuk salah satu berkas yang ditolak.
Tidak bisa dibayangkan bagaimana perasaan saya waktu itu. Saya merasa sangat terpukul dengan kejadian itu. Namun ada kabar gembira dari Guru BK, berkas yang ditolak oleh PBSB itu akan didaftarkan melalui jalur Program Bidikmisi (Beasiswa Pendidikan bagi Keluarga Miskin Berprestasi), salah satu program baru dari Kemendikbud tahun 2010. Fikiran yang sebelumnya carut marut bisa sedikit terobati dengan kabar itu.
Selang beberapa hari saya mendapatkan kartu peserta test. Waktu itu saya mendaftar di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Test dilaksanakan di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Saya bersama tiga anak lainnya, berangkat naik kereta api. Ini adalah pengalaman pertama saya menginjakan kaki di Kota Metropolitan Surabaya. Sempat bingung dan akhirnya sampai di IAIN dengan selamat. Kami disambut oleh kakak kelas dari At-Tanwir yang waktu itu sudah berada disini. Saya berempat menginap di kontrakan kakak tadi.
Test waktu itu ada dua sesi, test tulis dan lisan. Test tulis berupa test Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Arab dan Psikotes. Alhamdulillah dengan percaya diri saya kerjakan soal-soal itu. Sedangkan test lisan berupa wawancara dan membaca Al-Quran. Tanpa ragu saya jawab semua pertanya dari pihak pengetes. Waktu itu pesertanya hamper 500 anak sedangkan yang diterima hanya 75 anak.
Lama sekali jarak antara test dengan pegumuman penerimaaan. Saya waktu itu ragu, saya diterima atau tidak. Sesekali saya bertanya ke Guru BK tentang pengumuman, tapi tidak ada jawaban pasti. Baru selang satu bulan kira-kira, penguman itu muncul di Website IAIN. Lagi-lagi saya kecewa nama saya tidak tercantum di daftar yang diterima. Berulang kali saya pelototi satu-persatu, ternyata nihil, nama saya memang tidak tercantum. Dan ternyata nama saya berada di daftar cadangan. Menggantung, karena cadangan merupakan nama-nama yang diterima tidak ditolak pun tidak.
Waktu itu saya setiap malam melaksanakan sholat malam dan tidak berhenti-hentinya berdo’a. Meminta bantuan do’a kepada orang tua, teman-teman, adik-adik, dan para kerabat terdekat. Mudah-mudahan ada anak yang diterima namun tidak mengambilnya, dan daftar cadangan akan dipanggil untuk menggantikannya.
Di kekosongan waktu menunggu pengumuman yang tidak jelas kabarnya itu saya ikut kakak di Jombang. Di sana saya berkelana mencari informasi di kampus-kampus swasta ternama yang ada di Jombang. Saya menyambangi Bag. Akademik UNDAR (Universitas Darul Ulum), UNIPDU (Universitas Pesantren Darul Ulum), STIKOM Amik, IKAHA (Institut Keislaman Hasyim Asyari), STIKIP PGRI, Sampai pernah blusukan di Kantor Ma’had A’li Pon. Pes Tebu Ireng, semuanya hanya mencari informasi dan tidak ada yang sreg di hati. Saya dan kakak hanya bertanya-tanya dan meminta brosur pendaftran Mahasiswa Baru. Sungguh malang nasib saya saat itu.
Untuk lokasi yang terakhir ada cerita menarik. Ketika baru masuk di Kantor Ma’had Ali, saya dan kakak disambut dengan menggunakan Bahasa Arab. Meskipun tidak paham benar apa yang dikatakan, setidaknya saya bisa menangkap apa yang diperbincangkan kakak saya dengan petugas kantor itu. Setelah selesai, saya menyempatkan diri Ziarah di Makam sang Guru Bangsa, K.H Abdurrahman Wahid (Gus Dur) untuk sekedar membaca Yasin dan Tahlil.
Ternyata do’a saya terkabulkan. Selang beberapa hari saya dihubungi oleh guru BK bahwa saya masuk sebagai penerima Beasiswa Bidikmisi di IAIN Sunan Ampel  Surabaya karena ada anak yang tidak melakukan daftar ulang. Keesokan harinya saya langsung diajak beliau untuk segera mengurus Heregistrasi ke Surabaya dengan menyerahkan Fotocopi ijazah dan melengkapi berkas-berkas lainnya. Akhirnya setelah saya melaksanakan daftar ulang resmilah saya sebagai mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya. Dalam hal ini saya tidak akan melupakan jasa dari Guru BK tersebut, Pak. Surono.
Kepada adik-adik kelas yang berkeinginan untuk masuk perguruan tinggi idaman, janganlah takut dan jangan ragu, kalian pasti bisa. Selagi ada keyakinan dan kemauan yang kuat serta ada perjuangan yang hebat, kalian pasti akan diterima. Intinya kalian harus berusaha. Setiap kita menginginkan sesuatu sebenarnya mudah, hanya butuh usaha, kerja keras dan do’a. Salam sukses buat kita semua !!!

Muhammad Ali Murtadlo, Salah satu mahasiswa penerima Beasiswa Bidikmisi Tahun 2010, di Jurusan Ahwalus Syakhsiyah, Fakultas Syariah, IAIN Sunan Ampel Surabaya. Lahir di Teleng, Sumberejo, Bojonegoro pada 19 Maret 1993 M. Lulusan MAI At-Tanwir, Bojonegoro. Saat ini sedang belajar menulis Artikel, Esay, Cerpen, maupun Puisi. Tulisannya pernah dimuat di beberapa media seperti, Republika, Suara Karya, Radar Surabaya, Harian Surya, Duta Masyarakat, Harian Bhirawa, dan dimuat di beberapa buletin kampus. Bisa dihubungi di +6285730723885 atau aldo_murtadlo@yahoo.com. Kunjungi Webnya di aldomurtadlo.blogspot.com

Sabtu, 24 November 2012

Mengunjungi Telaga Sarangan, Menikmati Pantai Pasir Putih


Bertamasya selain sebagai hobi semua orang juga merupakan momen yang pas untuk refreshing. Merefresh otak dari kepenatan segala aktivitas. Saya dan kawan-kawan kelas ASD ’10, pada Sabtu (24 Novenber 2012) bertamasya ke Telaga sarangan, Magetan, kemudian dilanjutkan ke PantaI Pasir Putih di Trenggalek.
Rencana untuk rekreasi ini sebenarnya sudah ada sejak jauh-jauh hari ketika kami masih semester II, saat itu saya sebagai Kosmanya. Karena ada beberapa hal rencana itu baru terealisasi saat ini. Meskipun demikian saya merasa rekreasi kali ini sangat mengesankan. Selain bisa merekatkan tali emosional antarwarga kelas ASD, juga bisa mengunjungi sekaligus menikmati keindahan alam Indonesia. Bumi pertiwi yang Indah dan Mempesona.
Dalam kelas kami ada 30 Mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah, sampai berasal dari mancanegara. Mulai dari Pulau Dewata Bali, Probolinggo, Situbondo, Lumajang, Pasuruan, Sidoarjo, Surabaya, Madura, Mojokerto, Lamongan dan saya sendiri dari Bojonegoro. Yang dari Mancanegara ada 2 Orang, keduanya dari Malaysia. Tidak semua warga ASD bisa ikut berangkat saat itu, dengan alasan ada beberapa kepentingan yang harus diselesaikan. Hanya 24 orang yang ikut.
Kami Berangkat pada Jum’at pukul 23:00 WIB dengan Tiga mobil, Dua Daihatsu Xenia dan satunya Toyota Avanza. Kebetulan saya berada di salah satu Daihatsu Xenia tersebut. Untuk sampai di Magetan rute yang harus kami tempuh adalah Surabaya-Sidoarjo-Mojokerto-Jombang-Madiun-Magetan. Perjalanan ke Magetan kurang lebih kami tempuh selama 6 jam, itu pun karena sering berhenti di SPBU untuk mengisi BBM dan buang air kecil. Sampai di Telaga sarangan sekitar pukul 05:30 setelah mampir Sholat Shubuh di Masjid daerah Madiun. Sayang, Kami tidak sempat melihat Sun Rice. Sebelum masuk di Kawasan Telaga, kami menyempatkan diri berfoto di depan pintu masuk.
Ini merupakan kali pertama saya menginjakan kaki di Magetan. Jujur, ini juga merupakan pengalaman pertama saya mengunjungi Gunung Lawu dan Telaga Sarangan. Ketika sampai di kawasan pegunungan lawu saya merasakan panorama yang beda dari yang biasa saya lihat. Kalau biasanya melihat gedung-gedung bertingkat, saat itu saya melihat pemandangan alam yang memikat. Ketika biasanya merasakan hawa panas di Surabaya, saat itu saya merasakan hawa sejuk di Pegunungan.
Sepintas Suasananya mirip di kawasan Tretes, Pasuruan atau di Pacet Mojokerto. Hanya saja kawasan Gunung Lawu ini jalanannya lebih menanjak dan menguji Adrenalin. Sampai-sampai mobil yang saya tumpangi tidak kuat membawa kami naik dan harus kami dorong. Mobil baru bisa melanjutkan perjalanan setelah  mesinnya dingin.

Telaga Sarangan
Akhirnya kami tiba di Sarangan. Sesampai di telaga sarangan kami disambut dengan hawa dingin yang merasuk tubuh. Saya agak kecewa, karena airnya surut hanya terlihat dangkal sekali. Menurut penuturan seorang kawan Sarangan akan terlihat indah ketika airnya sampai diatas. Meskipun demikian, tidak mengurangi kebahagian saya melihat keindahan Alam ini. Gunungnya, suasananya, hawanya, dan sebagainya semakin memahamkan dan meyakinkan saya betapa agung dan menakjubkannya ciptaan Allah SWT.
Setelah turun dari mobil kami langsung menuju ke tepi telaga untuk berfoto-foto. Sebenarnya saya berniat dan kepingin naik kapal Boat mengelilingi Telaga, namun saya urungkan. Hanya kawan-kawan cewek yang saat itu berkenan naik. Saya lebih memilih duduk sambil memandangi orang yang sedang mamancing di samping grojogan air di sebelah Timur.
Setelah puas dengan panorama telaga, kami hendak ke Air Terjun, namun sayang, lagi-lagi kami urungkan. Selain tempatnya jauh, jalannya pun setapak, kami diharuskan membeli tiket masuk seharga Rp. 7.000. Kawan-kawan memutuskan untuk tidak naik dengan pertimbangan medannya jauh, bayar lagi, sedangkan perjalanan harus kami lanjutkan. Eman sebenarnya, jauh-jauh sampai sana namun tidak menikmati air terjun. Mungkin lain kali akan saya coba berkunjung lagi ke sana. Menurut saya Magetan memang mengesankan dan layak untuk menjadi jujukan wisata.

Mampir di Babadan, Ponorogo  
Sebelum melanjutkan perjalanan ke Pasir Putih, Trenggalek, kami mampir terlebih dahulu di Babadan Ponorogo, di salah satu rumah kawan kami, Afwan Romdloni. Sampai disana sekitar pukul 09:30 WIB. Setiba disana kami disambut hangat oleh senyum dan keramahan orang tuanya, kemudian dipersilahkan duduk ditempat yang telah disediakan. Sebenarnya kami takut merepotkan, namun dengan alasan silaturrahmi di rumah kawan, akhirnya kami sempatkan untuk mampir.
Tanpa menunggu lama kami langsung disuguhi dengan aneka macam makanan. Ada mangga, Krupuk dan Jajananan lainnya serta disuguhi dengan menu sarapan. Namun sayang, saya tidak mencicipi, karena saat itu saya sedang berpuasa Asyuro, tanggal 10 Muharram.
Sekitar pukul 11:30 kami beranjak dari Babadan. Seperti layaknya keluarga besar kami foto bersama keluarga afwan di depan rumahnya.

Pantai Pasir Putih, Trenggalek
Setelah melewati perjalanan lama yang melelahkan, akhirnya kami tiba di Pantai Pasir Putih. Tiba disana Pukul 14:30 WIB. Perjalanan menuju pasir putih saya akui sangat menguji adrenalin. Jalanannya yang berkelok-kelok, menanjak dan licin membuat kami berulang kali berdo’a, membaca sholawat agar perjalanan kami selamat sampai disana.
Setiba disana, terbayar sudah kelelahan saya saat di mobil. Memandangi panorama pantai dan pemandangan alam yang berkesan membuat rasa lelah saya seolah-olah hilang. Saya juga melihat ada bangkai kapal di tengah laut, konon itu adalah bekas kapal asing yang ditemukan melabuh di Laut Selatan.
Tanpa menunggu lama, saya langsung mendekat dan merasakan asinnya air laut. Awalnya saya sendirian berada di pantai sebelah utara yang berbatu. Melepas celana jin dan hanya mengenakan celana Boxer dan Kaos lengan panjang saya langsung mencebur ke laut, disambut dengan desiran ombak yang membahana menyapu tubuh saya ke bebatuan. Tanpa saya sadari Lutut dan Jempol saya robek oleh runcingnya batu. Namun tak terasa sakitnya karena terbasuh oleh kandungan yodium air laut.
Dengan tanpa menghiraukan rasa perih saya berbaur dengan kawan-kawan di sebelah selatan. Saling kejar-kejaran dan melempar pasir kami lakukan. Saya merasakan kenikmatan tersendiri di sini. Kenikmatan bisa bercanda ria bersama kawan-kawan di pantai, selain itu dapat berfoto dalam berbagai pose. Loncat dengan berteriak, berkacak pinggang, dan tentunya dengan melebarkan senyum termanis.
Puas dengan suasana pantai, kemudian saya membersihkan pasir-pasir yang ada di badan dengan mandi di MCK yang tersedia di pinggir pantai. Disana tertera, Mandi Rp. 3.000 Kencing dan Cuci Muka Rp. 2.000. Saya mandi dan harus merogoh kocek Rp. 3.000.
Sekitar Pukul 16:00 kami beranjak dari Trenggalek menuju Surabaya. Sebelumnya mampir terlebih dahulu di Masjid terdekat untuk sholat yang belum telaksana. Saat itu kawasan Prigi sedang turun hujan, saya harus berlari-lari kecil untuk menuju masjid.
Selamat tinggal pasir putih, mungkin cukup sekali saja saya mengunjungimu.
Kau terlalu jauh dan berliku, membuat saya tak bernafsu untuk berkunjung selanjutnya.
Kau telah memberiku kenang-kenangan yang membekas di Lutut dan Jempolku.
Itu Bukan berarti saya tidak suka denganmu.
Ini hanya sebuah pengakuan bahwa kau adalah ciptaan Tuhan yang mengesankan.

Perjalanan pulang tidak kalah melelahkan, selain hujan kami harus menepuh jalan yang licin dan bergelombang. Tentunya membuat Adrenalin kami kembali teruji. Perjalanan pulang kami tempuh sekitar 8 jam setelah sebelumnya mampir makan pecel di Tulung Agung. Sebelumnya saya berbuka puasa di mobil dengan hanya makan roti dan beberapa camilan serta dilegakan dengan Minum Fruit Tea. Tentunya ini merupakan pengalaman yang tak terlupakan bersama kawan-kawan ASD ’10.
Tiba di Surabaya tengah malam. Saya menaruh tas, kemudian Sholat dan menulis catatan ini selesai pukul 02:20 Dini hari. Sungguh ini adalah Pengalaman Berharga bagi perjalanan hidup saya.

Muhammad Ali Murtadlo
Surabaya, Pukul 02:20 WIB, 25 November 2012.

Jumat, 09 November 2012

Mengukir Kenangan dalam Kebersamaan (Pengalaman Mengikuti AICIS)


          Rabu, 07 November lalu saya bersama kawan-kawan Ambisi menghadiri acara AICIS (Annual International Conference On Islamic Study). Acara tersebut bertempat di Empire Palace Hotel, Surabaya. Sebenarnya acara ini sudah berlangsung sejak 5 November lalu, mala mini adalah malam puncak, malam penutupan. Kami berangkat pukul 17:00 WIB, bersama kira-kira 80 anak dengan berbagai latar belakang dan niat berbeda-beda.
AICIS merupakan agenda tahunan yang dihelat oleh Direktoral Jenderal Pendidikan Tinggi Islam Kementerian Agama RI. Tahun ini bekerjasama dengan IAIN Sunan Ampel Surabaya. Acara yang dihadiri oleh kalangan intelektual dari berbagai Perguruan Tinggi Islam di Indonesia itu terlihat begitu mewah. Dengan tempat begitu nyaman, fasilitas mendukung, dan pelayanan terjamin membuat acara kondusif dan pastinya eksklusif.
Bagi saya menghadiri acara yang bertempat di Hotel Bintang Lima serta bertaraf International merupakan kebanggaan tersendiri. Meskipun bukan merupakan peserta aktif, setidaknya bisa menikmati jalannya acara, dan menikmati segala fasilitas layaknya peserta penuh. Bisa menikmati sajian makanan, minuman dan berbagai hidangan lainnya. Seperti raja dalam semalam, ungkapan itu kira-kira yang cocok untuk saya khususnya, dan bagi kawan-kawan Ambisi pada umumnya.
Satu Jam Bersama Dahlan Iskan
Selain itu, yang paling berkesan adalah saya bisa bertemu langsung dengan Pak Dahlan Iskan, Menteri BUMN, yang saat itu menjadi pemateri dalam seminar terbuka. Pak Dahlan merupakan tokoh favorit saya dan jutaan masyarakat Indonesia. Bukan sekedar bertemu, bahkan saya berdampingan langsung ketika beliau menandatangani pakta anti plagiarisme di atas kain putih yang memanjang di depan ruangan. Meskipun harus berdesak-desakan dengan wartawan saya berusaha untuk lebih dekat dengan beliau.
Ketika memasuki ruangan, saya pun ikut mengekor di belakangnya, namun tidak sampai di depan, hanya di tengah-tengah. Kemudian saya bergegas mencari tempat duduk. Saya duduk di deretan kursi yang sebenarnya khusus untuk para dosen-dosen, guru besar dan orang top lain. Tapi tidak masalah, tidak ada yang mengusir saya.
Ketika Pak Dahlan naik ke podium sontak ruangan ramai oleh suara tepuk tangan. Tepuk tangan semakin riuh saat beliau memulai menyampaikan seminar terbuka. Bagi saya yang membuat istimewa adalah kesederhanaan, kewibawaan, kharismatik, komitmen dan optimitas dari beliau sungguh sangat besar.
Saat itu beliau menceritakan perjalanan hidup dari kecil sampai sekarang, menjadi Menteri BUMN. Sedikit banyak saya sudah paham mengenai perjalanan hidup beliau waktu kecil sampai dewasa lewat novel Sepatu Dahlan. Dari sepatu dahlan itu saya mendapat suntikan semangat, optimis bahwa orang miskin bukan berarti harus selalu menderita. Lulusan MA bukan menjadi alasan untuk tidak bisa menjadi orang sukses. Menyimak perjalanan hidup P. Dahlan membuat saya semakin yakin suatu saat nanti saya akan meraih kesuksesan seperti beliau.
Dari kisah pak Dahlan setidaknya mampu menginspirasi semua orang yang benar-benar mempunyai harapan. Pak dahlan menjelaskan bahwa kehidupannya berubah semenjak beliau merantau ke Samarinda, setelah beliau lulus MA. Beliau pun memberi tips bahwa merantau adalah kunci kesuksesan. Merantau merupakan momentum besar untuk lepas dari belenggu masa lalu. Dengan merantau itu terputuslah hubungan apapun, beban social, dan akan lepas dari romantisme masa lalu, termasuk lepas dari cinta.
Meskipun dari keturunan pesantren beliau tidak mau menjadi Kyai. Karena beliau keturunan pesantren dari pihak ibu tentunya tidak patut untuk menggantikan menjadi kyai. Yang lebih berhak meneruskan estafet pesantren adalah keturunan dari pihak ayah. Untuk itu dari pada nantinya menjadi mantan kyai akhirnya beliau memutuskan untuk merantau. Terbukti dengan merantau sekarang beliau bisa menjadi Menteri BUMN.
Beliau membayangkan, seandainya dulu tidak merantau paling-paling hanya bisa menjadi kepala desa. Jabatan itu sudah termasuk wah, seukuran orang kampung. Seandainya tidak merantau mungkin saat ini sudah menjadi suami dari cewek kampung yang dulu dekat dengan beliau, dst. Intinya, dengan merantau akan mendapat ganti yang lebih baik. Seperti apa yang dikatakan Imam Syafi’I (Syaafir Tajid Iwadlon Amman Tufarikuhu).
Ketika kuliah di IAIN Samarinda, beliau masuk dalam sebuah organisasi Pergerakan Islam. Bahkan pernah mencalonkan sebagi ketua pimpinan pusat pada saat itu. Namun akhirnya kalah dengan lawannya. Beliau pun sering diskusi dengan kawan-kawannya pada saat itu mengenai banyak hal. Salah satunya tentang, kenapa setiap sekolah yang terbaik pasti katholik, setiap Rumah sakit terbaik pasti dari katholik, surat kabar terbaik pun punyanya khatolik, namun mereka tampaknya tidak bisa menemukan titik temu.
Berawal dari “Ruuhul Jihad” untuk menjadikan Surat kabar terbaik adalah milik orang islam, akhirnya beliau mulai menggeluti dunia Jurnalistik. Beliau aktif di Ikatan Pers Mahasiswa pada saat itu. Awal karier beliau All Out tidak diganggu dengan apapun, termasuk ganguan dari kekalahannya mencalonkan sebagai Pimpinan Pusat Sebuah organisasi pergerakan Islam. Dan itu akhirnya terbukti beliau berhasil menjadi wartawan Tempo, dan bahkan mampu menjadi Direktur Utama Jawa Pos Group (Koran terbesar) sampai saat ini, dan menjadi Big Bos di JP Group. Dan ditengah kesibukannnya menjadi menteri, beliau masih menulis yang setiap hari senin dimuat di Manufacturing Hope (MH) Jawa Pos. Tulisannya pun tidak sembarang tulisan, namun enak dibaca dan mengena. Saya menjadi pembaca setia tulisan-tulisan beliau.
Acara semakin seru saat beliau memaparkan ke optimisannya, bahwa 15 tahun kedepan Indonesia akan menjadi Negara Maju. Indonesia akan mengalahkan spanyol, Italia, Prancis, Jepang, Tiongkok dll. Optimitas itu bukan hanya sekedar omongan, dengan bukti pertumbuhan Indeks Ekonomi Makro Indonesia yang mengalami kenaikan setiap tahunnya. Lihat saja sekarang, berapa banyak mobil yang memadati jalan raya, sampek terjadi kenacetan setia harinya. Bisa jadi, 5 tahun kedepan jumlah mobil akan menjadi 2x lipat jumlah mobil sekarang.
Untuk menjadi Negara maju, akan menjadi keniscayaan bagi Indonesia. Caranya harus dengan by design, by kesadaran. Dengan cara memetakan SDM yang ada di Indonesia. Berapa persen sarjana tehnik, berapa persen sarjana geologi, berapa persen pula sarjana akuntasi dan sarjana-sarjana lain agar ada kesinambungan saling membangun di bidangnya masing-masing. Jangan-jangan Indonesia saat ini sedang over di sarjana social, itu yang harus dipecahkan.
Ada 136 juta penduduk Indonesia yang sudah mempunyai fikiran untuk maju. mereka sudah tidak lagi memikirkan besok akan makan apa, minggu depan akan makan apa, lebaran tahun depan bisa beli baju baru atau tidak. Mereka sudah tidak lagi mikir tentang itu. yang mereka fikirkan adalah masa depan. Besok harus bisa membeli motor baru, mobil baru, bahkan membeli rumah baru, dll. Itu yang mereka fikirkan. Sehingga mau tidak mau mereka harus bekerja, bekerja dan bekerja.
Namun masih banyak jebakan untuk merealisasikan hal itu. Jebakan utama adalah masalah birokrasi. Tidak dapat dipungkiri birokrasi merupakan kendala utama. Bisa jadi para elite dan politisi di senayan tidak menginginkan Indonesia menjadi Negara maju, karena akan mengganggu posisinya sebagai elite birokrasi yang boleh dibilang “Dancuk”, kata arek suroboyo. Akan tetapi, jika memang elite dan politisi tidak menginginkan Negara Indonesia menjadi negara maju, 136 Juta penduduk tadi akan terpaksa maju. Demikianlah yang dapat saya paparkan ulang dari pemaparan Pak Dahlan.
Seminar selesai, pak Dahlan pun meninggalkan tempat. Selama kurang lebih satu jam yang penuh makna menurut saya. Mudah-mudahan terulang di lain kesempatan dan mampu membuat saya beroptimis untuk mengikuti jejak-jejak beliau dalam meraih kesuksesan.
Acara dilanjutkan dengan penutupan dan pemberian penghargaan kepada pemakalah  terbaik. Kemudian ditutup dengan penampilan Tim Paduan Suara IAIN Sunan Ampel Surabaya. Serta foto bersama kawan-kawan Ambisi. Hmmm.. Kebersamaan penuh kenangan.

Muhammad Ali Murtadlo
Surabaya, 09 November 2012

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India