Tampilkan postingan dengan label My Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Story. Tampilkan semua postingan
Kamis, 08 Juli 2021
Rabu, 26 Juli 2017
Menyibukan Diri di Perpustakaan Daerah (PERPUSDA) Jawa Timur
Sejak beberapa minggu terakhir, saya menyibukan diri dengan pulang
pergi ke Perpustakaan Daerah (Perpusda) Jawa Timur. Selain karena kuliah belum
masuk, saya bisa dengan nyaman membaca dan menulis. Perpustakaan ini mulai
berbenah sejak diresmikan oleh Pakde Karwo, Gubernur Jatim, pada tahun 2014
silam. Saya baru akrab dengan perpustakaan ini selama liburan bulan puasa 2017.
Sebelumnya tak pernah terfikirkan kalau ada perpustakaan yang nyaman seperti
ini di Surabaya.
Rabu, 03 Agustus 2016
Berkunjung Ke Negera Seberang: Malaysia & Singapore (Bagian-1)
| Pra Keberangkatan Kami Berpose di Bandara Soeta |
Bermula dari keinginan kuat untuk menginjakan kaki di luar negeri,
saya berselancar mencari tiket pesawat promo PP Jakarta-Kuala Lumpur untuk
pemberangkat bulan juni 2016. Saat itu bulan Januari 2016, waktu saya masih
berada di Universitas Indonesia untuk mengikuti shortcourse bahasa Belanda dan
bulan juni, shortcourse itu akan berakhir. Hitung-hitung sebagai refreshing
setelah enam bulan berjibaku dengan ayat-ayat belanda yang aduhai sulitnya.
Minggu, 13 Maret 2016
Catatan Perjalanan Mora Nederlands Cursisten Universitas Indonesia (MNC UI): Pekan Keenam
Aku kembali untuk berbagi cerita. Barangkali ada yang dapat diambil sebagai ilmu dan bermanfaat. Atau justru menggangu fikiranmu. Jika yang terakhir yang kau rasakan, akhiri saja. Tutup blog ini dan kembali beraktivitas.
Hari
Ke-35 (Rabu, 13 Jan 16)
Hari ini ada tugas dari mevrouw Mursida untuk membuat video singkat
mengenai rencana di Belanda. Kami berempat. Aku, mbak Tati, mas Dahrul dan Pak
Dayat. Kami menyusun konsep. Aku menawarkan agar video singkat itu dibuat
sesimpel mungkin dengan berbagai variasi. Pertama dengan menampilkan background
masing-masing dengan spreken singkat mengenai nama, asal dan tujuan ke
Belanda.
Kamis, 07 Januari 2016
Dari Jombang Menuju Makam Para Wali Jawa Tengah
Meskipun bukan akhir pekan tapi waktu itu cukup mengesankan. Saat itu adalah pengalaman pertama saya mengunjungi/Ziarah Makam Para Wali di Jawa Tengah.
Rabu, 06 Januari 2016
Pelangi di Air Terjun Ngleyangan
![]() |
| We are BFF: Best Friend Forever |
Selama ini, kebanyakan orang lebih senang berwisata di tempat wisata buatan. Tempat wisata seperti Jawa Timur Park (Malang), Wisata Bahari Lamongan (Lamongan), Kebun Binatang Surabaya (Surabaya), dan tempat wisata buatan lainnya lebih banyak diminati, daripada tempat-tempat yang alami.
Padahal, sesuatu yang alami lebih sedap dipandang mata. Selain memanjakan mata, kita dapat merasakan betapa indah ciptaan Tuhan.
Selasa, 05 Januari 2016
Senin, 04 Januari 2016
Minggu, 03 Januari 2016
Perjalanan Hidup di Kampung Inggris Pare (Part-2)
Jumat, 01 Januari 2016
Menyaksikan Pergantian Tahun di Ranu Kumbolo
![]() | |
| Ketemu pendaki cilik dari Bandung |
Minggu, 12 Mei 2013
Cerita dari Kampung Halaman
Ahad (12/05), Saya sekarang
berada di kampung halaman. Lama tak pulang kampung membuat saya rindu suasana
kampung. Entah kenapa hati saya tergerak untuk menuliskan cerita tentang kampung
halaman dan masa kanak-kanak. Menurut saya masa paling terkesan tetap masa
kanak-kanak di kampung halaman. Masa di mana saya menghabiskan waktu bersama
alam, tanpa beban, tanpa “tanggung jawab” dan tanpa ini itu. Pokoknya mau apa
saja terserah.
Seperti catatan saya bertajuk Bernostalgia Dengan Masa
Kanak-Kanak sebelumnya saya memaparkan cerita yang hanya saya ingat.
Senin, 03 Desember 2012
Perjuangan Masuk Perguruan Tinggi Jalur Beasiswa
Saya
bukan termasuk mahasiswa yang masuk Perguruan Tinggi Lewat jalur SNMPTN, tetapi
saya memiliki pengalaman menarik terkait perjuangan saya untuk bisa masuk
Perguruan Tinggi yang saya idamkan.
Saat
itu, saya sudah mengikuti Ujian Nasional namun belum ada pengumuman kelulusan,
tiba-tiba Guru BK memanggil 5 anak dari kelas saya untuk menghadap
ke kantor kesiswaaan sepulang sekolah, saya termasuk salah satunya. Awalnya
saya tidak mengerti maksud dipanggilnya ke 5 anak ini. Saya ikuti saja tanpa
banyak bertanya.
Di
kantor kesiswaan ternyata yang dipanggil bukan kami berlima saja. Ada 20 anak
perwakilan dari empat kelas. Kelas IPA 1, IPA 2, IPS 1 dan IPS 2, kebetulan
saya dari kelas IPA 1. Di sana dijelaskan bahwa kami 20 anak adalah siswa
terpilih dari semua kelas untuk berkesempatan mendaftar ke Perguruan Tinggi
melalui program PBSB (Program Beasiswa Santri Berprestasi), Program dari Depag
(Departemen Agama).
Saya
yang notabene suka dengan sesuatu yang tanpa biaya dan tanpa merepotkan orang
tua sontak sangat senang, meskipun belum tentu bisa diterima karena harus
melewati persyaratan dan perjalanan yang sangat panjang. Saya harus melengkapi
berkas-berkas yang begitu rumit, seperti mengurus Akta Kelahiran, Surat KK
(Kartu Keluarga), KTP (Kartu Tanda Penduduk), Rekening Listrik 3 Bulan
Terakhir, dan lain sebagainya. Saya masih ingat waktu itu harus mengurus
sendiri kartu KK di Kantor Kepala Desa dan Kantor Pencatatan Sipil. Dan juga
mengurus KTP di Kantor Kecamatan yang saya lakukan sendiri tanpa merepotkan
orang tua.
Setelah
berkas persyaratan itu lengkap, saya juga harus mengurus surat-surat lain,
seperti surat rekomendasi dari pihak Sekolah dan Pesantren. Pada saat itu
pengasuh pesantren sulit sekali untuk ditemui, saya harus bolak-balik ke-Ndalem untuk sekedar minta tanda tangan
yang sangat berharga itu. Saya dan teman-teman waktu itu harus pulang sore
menjelang magrhib hanya untuk mengurus segala berkas-berkas itu.
Setelah
berkas beres, selang beberapa hari saya dikagetkan dengan pengumuman
selanjutnya. Bahwa berkas yang saat itu saya kumpulkan dengan penuh perjuangan
ditolak oleh pihak pengelola PBSB, dengan alasan melebihi kuota. Maksimal
setiap Pondok pesantren hanya boleh mendelegasikan santrinya sebanyak 10 anak.
Pesantren saya yang waktu itu menyetorkan 20 berkas otomatis 10 berkas yang
lain ditolak. Saya termasuk salah satu berkas yang ditolak.
Tidak
bisa dibayangkan bagaimana perasaan saya waktu itu. Saya merasa sangat terpukul
dengan kejadian itu. Namun ada kabar gembira dari Guru BK, berkas yang ditolak
oleh PBSB itu akan didaftarkan melalui jalur Program Bidikmisi (Beasiswa
Pendidikan bagi Keluarga Miskin Berprestasi), salah satu program baru dari Kemendikbud
tahun 2010. Fikiran yang sebelumnya carut marut bisa sedikit terobati dengan
kabar itu.
Selang
beberapa hari saya mendapatkan kartu peserta test. Waktu itu saya mendaftar di
IAIN Sunan Ampel Surabaya. Test dilaksanakan di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Saya
bersama tiga anak lainnya, berangkat naik kereta api. Ini adalah pengalaman
pertama saya menginjakan kaki di Kota Metropolitan Surabaya. Sempat bingung dan
akhirnya sampai di IAIN dengan selamat. Kami disambut oleh kakak kelas dari
At-Tanwir yang waktu itu sudah berada disini. Saya berempat menginap di kontrakan
kakak tadi.
Test
waktu itu ada dua sesi, test tulis dan lisan. Test tulis berupa test Bahasa
Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Arab dan Psikotes. Alhamdulillah dengan
percaya diri saya kerjakan soal-soal itu. Sedangkan test lisan berupa wawancara
dan membaca Al-Quran. Tanpa ragu saya jawab semua pertanya dari pihak pengetes.
Waktu itu pesertanya hamper 500 anak sedangkan yang diterima hanya 75 anak.
Lama
sekali jarak antara test dengan pegumuman penerimaaan. Saya waktu itu ragu, saya
diterima atau tidak. Sesekali saya bertanya ke Guru BK tentang pengumuman, tapi
tidak ada jawaban pasti. Baru selang satu bulan kira-kira, penguman itu muncul
di Website IAIN. Lagi-lagi saya kecewa nama saya tidak tercantum di daftar yang
diterima. Berulang kali saya pelototi satu-persatu, ternyata nihil, nama saya
memang tidak tercantum. Dan ternyata nama saya berada di daftar cadangan.
Menggantung, karena cadangan merupakan nama-nama yang diterima tidak ditolak
pun tidak.
Waktu
itu saya setiap malam melaksanakan sholat malam dan tidak berhenti-hentinya
berdo’a. Meminta bantuan do’a kepada orang tua, teman-teman, adik-adik, dan
para kerabat terdekat. Mudah-mudahan ada anak yang diterima namun tidak
mengambilnya, dan daftar cadangan akan dipanggil untuk menggantikannya.
Di
kekosongan waktu menunggu pengumuman yang tidak jelas kabarnya itu saya ikut
kakak di Jombang. Di sana saya berkelana mencari informasi di kampus-kampus
swasta ternama yang ada di Jombang. Saya menyambangi Bag. Akademik UNDAR (Universitas
Darul Ulum), UNIPDU (Universitas Pesantren Darul Ulum), STIKOM Amik, IKAHA (Institut
Keislaman Hasyim Asyari), STIKIP PGRI, Sampai pernah blusukan di Kantor Ma’had A’li Pon. Pes Tebu Ireng, semuanya hanya
mencari informasi dan tidak ada yang sreg
di hati. Saya dan kakak hanya bertanya-tanya dan meminta brosur pendaftran
Mahasiswa Baru. Sungguh malang nasib saya saat itu.
Untuk
lokasi yang terakhir ada cerita menarik. Ketika baru masuk di Kantor Ma’had
Ali, saya dan kakak disambut dengan menggunakan Bahasa Arab. Meskipun tidak
paham benar apa yang dikatakan, setidaknya saya bisa menangkap apa yang
diperbincangkan kakak saya dengan petugas kantor itu. Setelah selesai, saya
menyempatkan diri Ziarah di Makam sang Guru Bangsa, K.H Abdurrahman Wahid (Gus
Dur) untuk sekedar membaca Yasin dan Tahlil.
Ternyata
do’a saya terkabulkan. Selang beberapa hari saya dihubungi oleh guru BK bahwa
saya masuk sebagai penerima Beasiswa Bidikmisi di IAIN Sunan Ampel Surabaya karena ada anak yang tidak melakukan
daftar ulang. Keesokan harinya saya langsung diajak beliau untuk segera
mengurus Heregistrasi ke Surabaya dengan menyerahkan Fotocopi ijazah dan
melengkapi berkas-berkas lainnya. Akhirnya setelah saya melaksanakan daftar
ulang resmilah saya sebagai mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya. Dalam hal ini
saya tidak akan melupakan jasa dari Guru BK tersebut, Pak. Surono.
Kepada
adik-adik kelas yang berkeinginan untuk masuk perguruan tinggi idaman,
janganlah takut dan jangan ragu, kalian pasti bisa. Selagi ada keyakinan dan
kemauan yang kuat serta ada perjuangan yang hebat, kalian pasti akan diterima.
Intinya kalian harus berusaha. Setiap kita menginginkan sesuatu sebenarnya
mudah, hanya butuh usaha, kerja keras dan do’a. Salam sukses buat kita semua
!!!
Muhammad
Ali Murtadlo, Salah satu mahasiswa penerima Beasiswa
Bidikmisi Tahun 2010, di Jurusan Ahwalus Syakhsiyah, Fakultas Syariah, IAIN
Sunan Ampel Surabaya. Lahir di Teleng, Sumberejo, Bojonegoro pada 19 Maret 1993
M. Lulusan MAI At-Tanwir, Bojonegoro. Saat ini sedang belajar menulis Artikel,
Esay, Cerpen, maupun Puisi. Tulisannya pernah dimuat di beberapa media seperti,
Republika, Suara Karya, Radar Surabaya, Harian Surya, Duta Masyarakat, Harian
Bhirawa, dan dimuat di beberapa buletin kampus. Bisa dihubungi di
+6285730723885 atau aldo_murtadlo@yahoo.com.
Kunjungi Webnya di aldomurtadlo.blogspot.com
Sabtu, 24 November 2012
Mengunjungi Telaga Sarangan, Menikmati Pantai Pasir Putih
Bertamasya
selain sebagai hobi semua orang juga merupakan momen yang pas untuk refreshing.
Merefresh otak dari kepenatan segala aktivitas. Saya dan kawan-kawan kelas ASD
’10, pada Sabtu (24 Novenber 2012) bertamasya ke Telaga sarangan, Magetan,
kemudian dilanjutkan ke PantaI Pasir Putih di Trenggalek.
Rencana
untuk rekreasi ini sebenarnya sudah ada sejak jauh-jauh hari ketika kami masih
semester II, saat itu saya sebagai Kosmanya. Karena ada beberapa hal rencana
itu baru terealisasi saat ini. Meskipun demikian saya merasa rekreasi kali ini
sangat mengesankan. Selain bisa merekatkan tali emosional antarwarga kelas ASD,
juga bisa mengunjungi sekaligus menikmati keindahan alam Indonesia. Bumi
pertiwi yang Indah dan Mempesona.
Dalam
kelas kami ada 30 Mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah, sampai berasal
dari mancanegara. Mulai dari Pulau Dewata Bali, Probolinggo, Situbondo,
Lumajang, Pasuruan, Sidoarjo, Surabaya, Madura, Mojokerto, Lamongan dan saya
sendiri dari Bojonegoro. Yang dari Mancanegara ada 2 Orang, keduanya dari
Malaysia. Tidak semua warga ASD bisa ikut berangkat saat itu, dengan alasan ada
beberapa kepentingan yang harus diselesaikan. Hanya 24 orang yang ikut.
Kami
Berangkat pada Jum’at pukul 23:00 WIB dengan Tiga mobil, Dua Daihatsu Xenia dan
satunya Toyota Avanza. Kebetulan saya berada di salah satu Daihatsu Xenia
tersebut. Untuk sampai di Magetan rute yang harus kami tempuh adalah
Surabaya-Sidoarjo-Mojokerto-Jombang-Madiun-Magetan. Perjalanan ke Magetan
kurang lebih kami tempuh selama 6 jam, itu pun karena sering berhenti di SPBU
untuk mengisi BBM dan buang air kecil. Sampai di Telaga sarangan sekitar pukul
05:30 setelah mampir Sholat Shubuh di Masjid daerah Madiun. Sayang, Kami tidak
sempat melihat Sun Rice. Sebelum
masuk di Kawasan Telaga, kami menyempatkan diri berfoto di depan pintu masuk.
Ini
merupakan kali pertama saya menginjakan kaki di Magetan. Jujur, ini juga
merupakan pengalaman pertama saya mengunjungi Gunung Lawu dan Telaga Sarangan. Ketika
sampai di kawasan pegunungan lawu saya merasakan panorama yang beda dari yang
biasa saya lihat. Kalau biasanya melihat gedung-gedung bertingkat, saat itu
saya melihat pemandangan alam yang memikat. Ketika biasanya merasakan hawa
panas di Surabaya, saat itu saya merasakan hawa sejuk di Pegunungan.
Sepintas
Suasananya mirip di kawasan Tretes, Pasuruan atau di Pacet Mojokerto. Hanya
saja kawasan Gunung Lawu ini jalanannya lebih menanjak dan menguji Adrenalin. Sampai-sampai mobil yang saya
tumpangi tidak kuat membawa kami naik dan harus kami dorong. Mobil baru bisa
melanjutkan perjalanan setelah mesinnya dingin.
Telaga
Sarangan
Akhirnya
kami tiba di Sarangan. Sesampai di telaga sarangan kami disambut dengan hawa
dingin yang merasuk tubuh. Saya agak kecewa, karena airnya surut hanya terlihat
dangkal sekali. Menurut penuturan seorang kawan Sarangan akan terlihat indah
ketika airnya sampai diatas. Meskipun demikian, tidak mengurangi kebahagian
saya melihat keindahan Alam ini. Gunungnya, suasananya, hawanya, dan sebagainya
semakin memahamkan dan meyakinkan saya betapa agung dan menakjubkannya ciptaan
Allah SWT.
Setelah
turun dari mobil kami langsung menuju ke tepi telaga untuk berfoto-foto.
Sebenarnya saya berniat dan kepingin naik kapal Boat mengelilingi Telaga, namun saya urungkan. Hanya kawan-kawan
cewek yang saat itu berkenan naik. Saya lebih memilih duduk sambil memandangi
orang yang sedang mamancing di samping grojogan air di sebelah Timur.
Setelah
puas dengan panorama telaga, kami hendak ke Air Terjun, namun sayang, lagi-lagi
kami urungkan. Selain tempatnya jauh, jalannya pun setapak, kami diharuskan
membeli tiket masuk seharga Rp. 7.000. Kawan-kawan memutuskan untuk tidak naik
dengan pertimbangan medannya jauh, bayar lagi, sedangkan perjalanan harus kami
lanjutkan. Eman sebenarnya, jauh-jauh sampai sana namun tidak menikmati air
terjun. Mungkin lain kali akan saya coba berkunjung lagi ke sana. Menurut saya
Magetan memang mengesankan dan layak untuk menjadi jujukan wisata.
Mampir
di Babadan, Ponorogo
Sebelum
melanjutkan perjalanan ke Pasir Putih, Trenggalek, kami mampir terlebih dahulu
di Babadan Ponorogo, di salah satu rumah kawan kami, Afwan Romdloni. Sampai
disana sekitar pukul 09:30 WIB. Setiba disana kami disambut hangat oleh senyum
dan keramahan orang tuanya, kemudian dipersilahkan duduk ditempat yang telah
disediakan. Sebenarnya kami takut merepotkan, namun dengan alasan silaturrahmi
di rumah kawan, akhirnya kami sempatkan untuk mampir.
Tanpa
menunggu lama kami langsung disuguhi dengan aneka macam makanan. Ada mangga,
Krupuk dan Jajananan lainnya serta disuguhi dengan menu sarapan. Namun sayang,
saya tidak mencicipi, karena saat itu saya sedang berpuasa Asyuro, tanggal 10 Muharram.
Sekitar
pukul 11:30 kami beranjak dari Babadan. Seperti layaknya keluarga besar kami foto bersama keluarga
afwan di depan rumahnya.
Pantai
Pasir Putih, Trenggalek
Setelah
melewati perjalanan lama yang melelahkan, akhirnya kami tiba di Pantai Pasir
Putih. Tiba disana Pukul 14:30 WIB. Perjalanan menuju pasir putih saya akui
sangat menguji adrenalin. Jalanannya
yang berkelok-kelok, menanjak dan licin membuat kami berulang kali berdo’a,
membaca sholawat agar perjalanan kami selamat sampai disana.
Setiba
disana, terbayar sudah kelelahan saya saat di mobil. Memandangi panorama pantai
dan pemandangan alam yang berkesan membuat rasa lelah saya seolah-olah hilang.
Saya juga melihat ada bangkai kapal di tengah laut, konon itu adalah bekas
kapal asing yang ditemukan melabuh di Laut Selatan.
Tanpa
menunggu lama, saya langsung mendekat dan merasakan asinnya air laut. Awalnya
saya sendirian berada di pantai sebelah utara yang berbatu. Melepas celana jin
dan hanya mengenakan celana Boxer dan Kaos lengan panjang saya langsung
mencebur ke laut, disambut dengan desiran ombak yang membahana menyapu tubuh
saya ke bebatuan. Tanpa saya sadari Lutut dan Jempol saya robek oleh runcingnya
batu. Namun tak terasa sakitnya karena terbasuh oleh kandungan yodium air laut.
Dengan
tanpa menghiraukan rasa perih saya berbaur dengan kawan-kawan di sebelah
selatan. Saling kejar-kejaran dan melempar pasir kami lakukan. Saya merasakan
kenikmatan tersendiri di sini. Kenikmatan bisa bercanda ria bersama kawan-kawan
di pantai, selain itu dapat berfoto dalam berbagai pose. Loncat dengan
berteriak, berkacak pinggang, dan tentunya dengan melebarkan senyum termanis.
Puas
dengan suasana pantai, kemudian saya membersihkan pasir-pasir yang ada di badan
dengan mandi di MCK yang tersedia di pinggir pantai. Disana tertera, Mandi Rp.
3.000 Kencing dan Cuci Muka Rp. 2.000. Saya mandi dan harus merogoh kocek Rp.
3.000.
Sekitar
Pukul 16:00 kami beranjak dari Trenggalek menuju Surabaya. Sebelumnya mampir
terlebih dahulu di Masjid terdekat untuk sholat yang belum telaksana. Saat itu
kawasan Prigi sedang turun hujan, saya harus berlari-lari kecil untuk menuju
masjid.
Selamat
tinggal pasir putih, mungkin cukup sekali saja saya mengunjungimu.
Kau terlalu jauh dan berliku, membuat saya tak
bernafsu untuk berkunjung selanjutnya.
Kau
telah memberiku kenang-kenangan yang membekas di Lutut dan Jempolku.
Itu
Bukan berarti saya tidak suka denganmu.
Ini
hanya sebuah pengakuan bahwa kau adalah ciptaan Tuhan yang mengesankan.
Perjalanan pulang tidak kalah melelahkan,
selain hujan kami harus menepuh jalan yang licin dan bergelombang. Tentunya
membuat Adrenalin kami kembali
teruji. Perjalanan pulang kami tempuh sekitar 8 jam setelah sebelumnya mampir
makan pecel di Tulung Agung. Sebelumnya saya berbuka puasa di mobil dengan
hanya makan roti dan beberapa camilan serta dilegakan dengan Minum Fruit Tea. Tentunya ini merupakan
pengalaman yang tak terlupakan bersama kawan-kawan ASD ’10.
Tiba
di Surabaya tengah malam. Saya menaruh tas, kemudian Sholat dan menulis catatan
ini selesai pukul 02:20 Dini hari. Sungguh ini adalah Pengalaman Berharga bagi
perjalanan hidup saya.
Muhammad Ali
Murtadlo
Surabaya,
Pukul 02:20 WIB, 25 November 2012.
Jumat, 09 November 2012
Mengukir Kenangan dalam Kebersamaan (Pengalaman Mengikuti AICIS)
Rabu, 07 November lalu saya bersama kawan-kawan Ambisi menghadiri acara AICIS
(Annual International Conference On Islamic Study). Acara tersebut bertempat di
Empire Palace Hotel, Surabaya. Sebenarnya acara ini sudah berlangsung sejak 5
November lalu, mala mini adalah malam puncak, malam penutupan. Kami berangkat
pukul 17:00 WIB, bersama kira-kira 80 anak dengan berbagai latar belakang dan
niat berbeda-beda.
AICIS
merupakan agenda tahunan yang dihelat oleh Direktoral Jenderal Pendidikan
Tinggi Islam Kementerian Agama RI. Tahun ini bekerjasama dengan IAIN Sunan
Ampel Surabaya. Acara yang dihadiri oleh kalangan intelektual dari berbagai
Perguruan Tinggi Islam di Indonesia itu terlihat begitu mewah. Dengan tempat
begitu nyaman, fasilitas mendukung, dan pelayanan terjamin membuat acara
kondusif dan pastinya eksklusif.
Bagi
saya menghadiri acara yang bertempat di Hotel Bintang Lima serta bertaraf International
merupakan kebanggaan tersendiri. Meskipun bukan merupakan peserta aktif,
setidaknya bisa menikmati jalannya acara, dan menikmati segala fasilitas
layaknya peserta penuh. Bisa menikmati sajian makanan, minuman dan berbagai
hidangan lainnya. Seperti raja dalam semalam, ungkapan itu kira-kira yang cocok
untuk saya khususnya, dan bagi kawan-kawan Ambisi pada umumnya.
Satu Jam Bersama Dahlan Iskan
Selain
itu, yang paling berkesan adalah saya bisa bertemu langsung dengan Pak Dahlan
Iskan, Menteri BUMN, yang saat itu menjadi pemateri dalam seminar terbuka. Pak Dahlan
merupakan tokoh favorit saya dan jutaan masyarakat Indonesia. Bukan sekedar bertemu,
bahkan saya berdampingan langsung ketika beliau menandatangani pakta anti
plagiarisme di atas kain putih yang memanjang di depan ruangan. Meskipun harus
berdesak-desakan dengan wartawan saya berusaha untuk lebih dekat dengan beliau.
Ketika
memasuki ruangan, saya pun ikut mengekor di belakangnya, namun tidak sampai di
depan, hanya di tengah-tengah. Kemudian saya bergegas mencari tempat duduk.
Saya duduk di deretan kursi yang sebenarnya khusus untuk para dosen-dosen, guru
besar dan orang top lain. Tapi tidak masalah, tidak ada yang mengusir saya.
Ketika
Pak Dahlan naik ke podium sontak ruangan ramai oleh suara tepuk tangan. Tepuk
tangan semakin riuh saat beliau memulai menyampaikan seminar terbuka. Bagi saya
yang membuat istimewa adalah kesederhanaan, kewibawaan, kharismatik, komitmen
dan optimitas dari beliau sungguh sangat besar.
Saat
itu beliau menceritakan perjalanan hidup dari kecil sampai sekarang, menjadi
Menteri BUMN. Sedikit banyak saya sudah paham mengenai perjalanan hidup beliau
waktu kecil sampai dewasa lewat novel Sepatu Dahlan. Dari sepatu dahlan itu
saya mendapat suntikan semangat, optimis bahwa orang miskin bukan berarti harus
selalu menderita. Lulusan MA bukan menjadi alasan untuk tidak bisa menjadi
orang sukses. Menyimak perjalanan hidup P. Dahlan membuat saya semakin yakin
suatu saat nanti saya akan meraih kesuksesan seperti beliau.
Dari
kisah pak Dahlan setidaknya mampu menginspirasi semua orang yang benar-benar mempunyai
harapan. Pak dahlan menjelaskan bahwa kehidupannya berubah semenjak beliau
merantau ke Samarinda, setelah beliau lulus MA. Beliau pun memberi tips bahwa
merantau adalah kunci kesuksesan. Merantau merupakan momentum besar untuk lepas
dari belenggu masa lalu. Dengan merantau itu terputuslah hubungan apapun, beban
social, dan akan lepas dari romantisme masa lalu, termasuk lepas dari cinta.
Meskipun
dari keturunan pesantren beliau tidak mau menjadi Kyai. Karena beliau keturunan
pesantren dari pihak ibu tentunya tidak patut untuk menggantikan menjadi kyai. Yang
lebih berhak meneruskan estafet pesantren adalah keturunan dari pihak ayah.
Untuk itu dari pada nantinya menjadi mantan kyai akhirnya beliau memutuskan
untuk merantau. Terbukti dengan merantau sekarang beliau bisa menjadi Menteri
BUMN.
Beliau
membayangkan, seandainya dulu tidak merantau paling-paling hanya bisa menjadi
kepala desa. Jabatan itu sudah termasuk wah, seukuran orang kampung. Seandainya
tidak merantau mungkin saat ini sudah menjadi suami dari cewek kampung yang
dulu dekat dengan beliau, dst. Intinya, dengan merantau akan mendapat ganti
yang lebih baik. Seperti apa yang dikatakan Imam Syafi’I (Syaafir Tajid Iwadlon Amman Tufarikuhu).
Ketika
kuliah di IAIN Samarinda, beliau masuk dalam sebuah organisasi Pergerakan
Islam. Bahkan pernah mencalonkan sebagi ketua pimpinan pusat pada saat itu.
Namun akhirnya kalah dengan lawannya. Beliau pun sering diskusi dengan
kawan-kawannya pada saat itu mengenai banyak hal. Salah satunya tentang, kenapa
setiap sekolah yang terbaik pasti katholik, setiap Rumah sakit terbaik pasti
dari katholik, surat kabar terbaik pun punyanya khatolik, namun mereka
tampaknya tidak bisa menemukan titik temu.
Berawal
dari “Ruuhul Jihad” untuk menjadikan
Surat kabar terbaik adalah milik orang islam, akhirnya beliau mulai menggeluti
dunia Jurnalistik. Beliau aktif di Ikatan Pers Mahasiswa pada saat itu. Awal
karier beliau All Out tidak diganggu
dengan apapun, termasuk ganguan dari kekalahannya mencalonkan sebagai Pimpinan
Pusat Sebuah organisasi pergerakan Islam. Dan itu akhirnya terbukti beliau
berhasil menjadi wartawan Tempo, dan bahkan mampu menjadi Direktur Utama Jawa
Pos Group (Koran terbesar) sampai saat ini, dan menjadi Big Bos di JP Group.
Dan ditengah kesibukannnya menjadi menteri, beliau masih menulis yang setiap
hari senin dimuat di Manufacturing Hope (MH) Jawa Pos. Tulisannya pun tidak
sembarang tulisan, namun enak dibaca dan mengena. Saya menjadi pembaca setia
tulisan-tulisan beliau.
Acara
semakin seru saat beliau memaparkan ke optimisannya, bahwa 15 tahun kedepan
Indonesia akan menjadi Negara Maju. Indonesia akan mengalahkan spanyol, Italia,
Prancis, Jepang, Tiongkok dll. Optimitas itu bukan hanya sekedar omongan,
dengan bukti pertumbuhan Indeks Ekonomi Makro Indonesia yang mengalami kenaikan
setiap tahunnya. Lihat saja sekarang, berapa banyak mobil yang memadati jalan
raya, sampek terjadi kenacetan setia harinya. Bisa jadi, 5 tahun kedepan jumlah
mobil akan menjadi 2x lipat jumlah mobil sekarang.
Untuk
menjadi Negara maju, akan menjadi keniscayaan bagi Indonesia. Caranya harus
dengan by design, by kesadaran. Dengan cara memetakan SDM yang ada di
Indonesia. Berapa persen sarjana tehnik, berapa persen sarjana geologi, berapa
persen pula sarjana akuntasi dan sarjana-sarjana lain agar ada kesinambungan
saling membangun di bidangnya masing-masing. Jangan-jangan Indonesia saat ini
sedang over di sarjana social, itu yang harus dipecahkan.
Ada
136 juta penduduk Indonesia yang sudah mempunyai fikiran untuk maju. mereka
sudah tidak lagi memikirkan besok akan makan apa, minggu depan akan makan apa,
lebaran tahun depan bisa beli baju baru atau tidak. Mereka sudah tidak lagi
mikir tentang itu. yang mereka fikirkan adalah masa depan. Besok harus bisa
membeli motor baru, mobil baru, bahkan membeli rumah baru, dll. Itu yang mereka
fikirkan. Sehingga mau tidak mau mereka harus bekerja, bekerja dan bekerja.
Namun
masih banyak jebakan untuk merealisasikan hal itu. Jebakan utama adalah masalah
birokrasi. Tidak dapat dipungkiri birokrasi merupakan kendala utama. Bisa jadi
para elite dan politisi di senayan tidak menginginkan Indonesia menjadi Negara
maju, karena akan mengganggu posisinya sebagai elite birokrasi yang boleh
dibilang “Dancuk”, kata arek suroboyo. Akan tetapi, jika memang elite dan
politisi tidak menginginkan Negara Indonesia menjadi negara maju, 136 Juta
penduduk tadi akan terpaksa maju. Demikianlah yang dapat saya paparkan ulang
dari pemaparan Pak Dahlan.
Seminar
selesai, pak Dahlan pun meninggalkan tempat. Selama kurang lebih satu jam yang
penuh makna menurut saya. Mudah-mudahan terulang di lain kesempatan dan mampu membuat
saya beroptimis untuk mengikuti jejak-jejak beliau dalam meraih kesuksesan.
Acara
dilanjutkan dengan penutupan dan pemberian penghargaan kepada pemakalah terbaik. Kemudian ditutup dengan penampilan
Tim Paduan Suara IAIN Sunan Ampel Surabaya. Serta foto bersama kawan-kawan
Ambisi. Hmmm.. Kebersamaan penuh kenangan.
Muhammad Ali Murtadlo
Surabaya,
09 November 2012



17.40
Ali Murtadlo El-Fauzy









