Sebaik-baik Manusia Adalah Orang yang Bermanfaat Bagi Sesama (H.R Buchori Muslim)
“Hidup adalah perjalanan waktu dan perpindahan tempat. Kapan pun dan di mana pun kita berada, haruslah memberi manfaat bagi sesama, karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Learn, Share, Success! (Muhammad Ali Murtadlo)”

Wednesday, 3 August 2016

Berkunjung Ke Negera Seberang: Malaysia & Singapore (Bagian-1)



Pra Keberangkatan Kami Berpose di Bandara Soeta
Bermula dari keinginan kuat untuk menginjakan kaki di luar negeri, saya berselancar mencari tiket pesawat promo PP Jakarta-Kuala Lumpur untuk pemberangkat bulan juni 2016. Saat itu bulan Januari 2016, waktu saya masih berada di Universitas Indonesia untuk mengikuti shortcourse bahasa Belanda dan bulan juni, shortcourse itu akan berakhir. Hitung-hitung sebagai refreshing setelah enam bulan berjibaku dengan ayat-ayat belanda yang aduhai sulitnya.

Kami berangkat berlima orang. (1) Muhammad Yusuf sebagai Pimrom (Pimpinan Rombongan) karena sudah berpengalaman berkunjung kesana. (2) Tati Rohayati sebagai penyambung lidah antara kami dan dosennya yang sedang menjadi peneliti senior di Asian Research Institute (ARI) National University of Singapore (NUS), Dr. Amelia Fauzia yang apartemennya rela kami tinggali. (3) Rohmatul Faizah sebagai penyokong dana. (4) Muhammad Arief Auly yang akrab dipanggil Jhon bersama (5) saya sebagai pengikut yang hanya mengekor kemana mereka melangkah. Tapi selain sebagai pengikut, saya juga bertindak sebagai pengambil keputusan sulit saat berada dalam kondisi kritis seperti yang akan saya ceritakan berikut. Hahaha.
Perjalanan dimulai pada Rabu, 15 Juni 2016 saat teman-teman kursus sudah pada mudik ke kampung halaman masing-masing. Tinggal tersisa kami berlima yang kemudian berangkat ke Soekarno Hatta International Airport, Tangerang. Rombongan terbagi dua kloter karena tiket pesawat berlainan. Tati, Jhon dan saya berangkat terlebih dahulu pada pukul 14;00 WIB (GMT +7) dan tiba di Bandara KLIA2 (Kuala Lumpur International Airport) pukul 17;00 Waktu Malaysia (GMT +8) kemudian disusul oleh Yusuf dan Iza yang pesawatnya delayed hingga pukul 23.00 Waktu Malaysia baru tiba di KLIA2. Kami bermalam di KLIA2 karena keesokan harinya akan bertolak ke Changi Airport Singapore.
Tragedi Missed Flight
Cerita dimulai saat rencana awal akan langsung meluncur ke Changi Airport Singapore gagal lantaran ketinggalan pesawat. Ceritanya begini. Pagi setelah makan sahur di Bandara kami keasyikan menikmati waktu tanpa melihat jam. Ternyata jam telah menunjukan pukul 05;15 padahal pesawat akan take off pada pukul 06.10. Kami bergegas namun pemeriksaan di imigrasi begitu padat, alhasil hanya Yusuf yang berhasil naik pesawat, yang lain tertinggal di Bandara. Padahal kami telah lari-lari bak cinta mengejar rangga. Hahaha. Namun tetap saja tak kesampaian.
Tiket Kereta Menuju Singapore
Setelah melalui proses yang panjang di Imigresen Center (aksen malaysia) dan mengurus tiket akhirnya kami memutuskan untuk menghanguskan tiket. Pasalnya untuk naik pesawat lagi kami (Jhon, Iza, Tati dan saya) harus membayar MYR 2.060 atau sekitar RP 6.180.000. Alaamak, bujuboneng, budget keuangan kami berempat-pun untuk backpekaran ini tidak sampai segitu. Akhirnya kami putuskan untuk ke Singapore via darat.
Dari KLIA2 kami menuju KL-Sentral via kereta KLIA Expres dengan ongkos MYR 55 (Rp.165.000)/orang untuk menyambung kereta ke Woodlands Singapore. Kereta lumayan mahal itu sebanding dengan fasilitas di dalamnya, bersih dan mewah. KLIA2 ke KL-Sentral hanya ditempuh kurang lebih 28 menit. Padahal via bus/grabcar bisa satu jam lebih.
Sesampainya di KL-Sentral kami dibuat bingung lantaran kereta yang langsung menuju Woodlands, kata petugas yang cantik-cantik itu, sudah tidak berlaku lagi. Kami disarankan untuk naik kereta KTM (Kereta Tanah Melayu) transit 3 kali; KL Sentral-Gemas, Gemas-Johor Bahru, Johor Bahru-Woodlands. Setelah melalui serangkaian pertimbangan dan saran dari Yusuf yang sudah berada di Changi Singapore, dengan berat hati akhirnya kami putuskan untuk naik KTM itu. Ongkosnya lumayan mahal, untuk menuju Woodlands, total kami harus merogoh uang MYR 57 (Rp. 171.000) dengan rincian: KL-Sentral-Gemas; MYR 31, Gemas-JB; MYR 21 dan JB-Woodlands; MYR 5.
Selain harus mengorbankan uang dengan merogoh kantong lebih, kami harus rela seharian berada di Kereta. Kuala Lumpur - Johor Bahru berjarak sekitar 299 KM seperti jarak  Jakarta-Jogja. Kereta baru berangkat dari KL-Sentral pukul 13;00 (waktu Malaysia) dan tiba di Stasiun Johor Bahru menjelang buka puasa, pukul 19;00. Sebelum mencari makanan untuk berbuka saya membeli tiket KTM untuk menyeberang ke Woodlands. Karena kereta baru berangkat pukul 21;00, kami mencari makanan untuk berbuka puasa. Di depan stasiun Johor Bahru berderet-deret bazar ramadan yang menjajakan berbagai makanan untuk berbuka. Tanpa sengaja, setelah kami mengobrol dengan penjualnya, ladalah, ternyata ibu-ibu Madiun. Kami pun akrab dan membeli makan disitu. Setelah saya bandingkan, ternyata Stasiun Johor Bahru tak ubahnya seperti Mall DTC di Surabaya.
Bazar Ramadan di Stasiun Johor Bahru
Dari Johor Bahru ke Woodlands hanya ditempuh 5 menit. Meskipun cuma 5 menit kami harus singgah dulu di kantor imigrasi Johor Bahru. Sekitar 10 menit kami tertahan di sana, untuk menerima berbagai pertanyaan dari petugas imigrasi lantaran di pasport terakhir tertera cap/stempel keluar dari Kuala Lumpur dan hanya ditulis keterangan kecil dibawah stempel “missed flight”. Setelah saya menjelaskan dengan bahasa Inggris, tentunya, petugas itu langsung menyuruh kami masuk melewati pemeriksaan barang. Waktu itu kami hanya berdua, Jhon dan saya, berangkat duluan pukul 21;00 sedangkan Tati dan Iza baru berangkat dengan kereta berikutnya pukul 22;00.
Tak hanya sampai di situ. Petugas imigrasi Singapore jauh lebih killer. Sesampainya di Stasiun Woodlands kami ikut mengantri untuk pemeriksaan imigrasi, setelah sepi dan hanya tersisa beberapa orang, mungkin karena melihat penampilan kami yang lugu dan kelihatan baru pertama kali masuk Singapore, kami langsung dipanggil petugas dan dimasukan dalam ruangan. Tas kami digledah, barang-barang dikeluarkan, bahkan HP saya dibuka dan discrol koleksi foto-fotonya. Mungkin mereka curiga bakal kedatangan teroris lantaran nama kami berdua berawalan Muhammad dan datang dari Malaysia. 
Di dalam ruangan kami menerima sederetan pertanyaan detail mengenai latar belakang pribadi dan tujuan ke Singapore. Untung kami sudah mengantongi alamat dosen yang hendak kami tuju, sehingga mereka percaya dan mengiyakan. Namun tetap saja ada satu petugas, pria, china, yang tak paham bahasa melayu dan berbahasa Inggris lucu (Inggris Singapore) dengan ngotot dan ngeyel menginterogasi saya mengenai siapa dan dimana alamat yang hendak dituju tersebut. Setelah sekitar 30 menit, akhirnya kami dibebaskan dan dipersilahkan melewati pintu exit dan menghirup udara malam Singapore.
Saya khawatir dengan Tati dan Iza yang berada di belakang. Mereka pasti akan menerima perlakuan sama dengan kami. Eh, ternyata kekhawatiran saya buyar ketika melihat mereka dengan ketawa-ketawi berjalan dari pintu keluar stasiun. Mereka langsung disuruh keluar setelah pemeriksaan pasport karena sebelumnya saya sudah menjelaskan bahwa kami sebenarnya berempat dan yang dua cewek di belakang naik kereta selanjutnya.
Sesampainya di Singapore kebingungan semakin bertambah lantaran kita putus komunikasi. Jika di Malaysia masih bisa mengandalkan wifi untuk berkomunikasi, di sini tak ada, harus membeli kartu singapore. Setelah muter-muter mencari wifi dan tak berhasil, akhirnya kami membeli kartu Singtel dengan harga SGD 150 (Rp. 150.000) untuk menghubungi Ibu Amel dan untuk memesan Grabcar menuju ke Apartemennya. Kami berempat tiba di Clementi Road, kompleks apartemen dosen National University of Singapore (NUS), pada pukul 01;00 dinihari. Yusuf, karena kita putus komunikasi dia menunggu di Woodlands dan baru datang pada keesokan harinya. Akhirnya kami kembali berkumpul 5 orang dan siap menjelajahi Singapore selama 4 hari berikutnya.

Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India