Sebaik-baik Manusia Adalah Orang yang Bermanfaat Bagi Sesama (H.R Buchori Muslim)
“Hidup adalah perjalanan waktu dan perpindahan tempat. Kapan pun dan di mana pun kita berada, haruslah memberi manfaat bagi sesama, karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Learn, Share, Success! (Muhammad Ali Murtadlo)”

Thursday, 11 August 2011

Solidaritas Sosial di Bulan Puasa


Momen Puasa, Tumbuhkan Solidaritas Antar Sesama
Oleh Muhammad Ali Murtadlo*)

Berbicara tentang bulan Ramadlan tentu pikiran kita mengarah pada puasa. Ibadah ini disinyalir dalam Al-Quran sebagai sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan dan tidak dapat ditinggalkan kecuali ada alasan-alasan yang dibenarkan syariat. Dalam ungkapan lain ibadah puasa adalah ritual yang dimasukan dalam satu rangkaian kegiatan yang ada di bulan Ramadlan.
“Bulan Ramadlan awalnya adalah penguatan tali-tali ikatan antarmanusia, di tengah-tengahnya adalah pemberian ampun atas segala kesalahan, dan di akhir bulan ramadlan adalah pembebasan dari ancaman api neraka”. Demikian sabda nabi yang diriwayatkan oleh Bukhori & Muslim.
Terlepas apakah kita harus mengartikan pembebasan dari api neraka ini secara harfi ataupun arti kiasaan atau sebagai alegori. Yang jelas, ibadah puasa mempunyai keistimewaan di awal dan akhir. Di awal bulan Ramadhan sebagaimana yang dijelaskan tadi, bulan Ramadlan adalah penguatan atau penegasan dari  ikatan-ikatan antara sesama. Dengan kata lain  bulan Ramadhan adalah pemberian Tuhan kepada manusia berupa adanya keharusan untuk memelihara hubungan antarmanusia secara baik. Ini merupakan sendi dari kehidupan masyarakat. Karena itulah orang berpuasa pada hakikatnya membuat pekerjaan yang besar. Bagaimana mengkokohkan ikatan-ikatan sosial kita sebagai manusia. Ini merupakan tugas yang tidak ringan tetapi sangat mulia.
Dimensi kemanusian yang tertuang dalam ikatan sosial yang kokoh, dengan sendirinya merupakan acuan yang mengharuskan kita untuk mengembangkan solidaritas. Karena ikatan sosial yang tidak didasari oleh rasa solidaritas yang kokoh hanya akan menghasilkan kerangka kehidupan yang kering dan tidak memberikan makna apa-apa. Oleh karena itu Al-Quran selalu menekankan pentingnya arti solidaritas tersebut.
Hal yang paling punya arti mendalam bagi seorang manusia secara perorangan seperti anak-anak dan harta benda dilukiskan sebagai tipuan oleh Allah. Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia (Q.S Alkahfi(18) :46). Hiasan bagi kehidupan dunia ini tentu harus diteruskan menjadi proyeksi kepada kehidupan akhirat yang penuh kebahagian, baru memiliki arti. Oleh karena itu diingatkan kepada kita untuk tidak terkecoh oleh dimensi keduniaan tadi.
Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan yang menipu belaka. Apakah ini berarti kita harus menolak kehidupan materi? Bukan demikian. Apakah kita harus menjauhi kesenangan berkeluarga? Bercengkerama dengan anak isteri kita? Bukan demikian pula. Maksudnya adalah kehidupan materi dan kehidupan keluarga yang serba menyenangkan itu, harus diletakaan dalam sebuah kerangka sosial yang mengokohkan solidaritas diantara kita semua. Apalah artinya hidup bersenang-senang hanya sekeluarga saja di tengah-tengah lingkungan yang penuh kemelaratan. Karena itulah dalam Islam selalu dipersoalkan adanya kesungguhan untuk menolong orang lain. Adanya rasa untuk bertanggung jawab terhadap nasib orang lain.
Bahkan bagi para pemimpin, kepemimpinan mereka diukur dari kemampuan menyejahterakan orang yang mereka pimpin. Salah satu kaidah fiqih mengatakan “sikap dan kebijakan seorang pemimpin atas rakyat mereka, haruslah didasarkan kepada kesejahteraan rakyat yang dipimpin itu”. Jadi jelas sekali bahwa disini ada semacam keharusan untuk memelihara solidaritas sosial yang kuat untuk memberikan warna yang jelas kepada ikatan sosial yang ada. Sehingga ikatan sosial itu sendiri mempunyai makna yang sesuai dengan dimensi kemanusiaan yang diharapkan dari kita semua dan oleh Allah SWT.
Dalam upaya untuk mewujudkan kehidupan yang utuh. Seperti yang dimaksudkan oleh peribadatan dalam puasa. Kehidupan dimana manusia menghadap secara vertikal kepada Allah SWT. Dalam bahasa islamnya dikenal dengan istilah “Hablumminallah” tali yang menghubungkan ikatan kepada Tuhan. Namun, kita tidak boleh juga meninggalkan dimensi horizontal dengan antar manusia atau yang dikenal dengan istilah “Hablumminannas” atau tali yang menghubungkan antarsesama manusia.
Menjadi sangat penting bahwa kita memiliki arti yang perlu bagi puasa sebagai ibadah. Perlunya makna puasa sebagai ibadah itu antara lain dapat dicari pada suatu hal yaitu melalui solidaritas sosial yang kokoh.  Kita berusaha untuk memberikan wujud nyata atau kenyataan konkret bagi solidaritas itu sendiri. Karena itulah dalam bulan Ramadlan ini kita diminta untuk memberikan perhatian lebih banyak kepada fikir miskin. Diminta untuk memberikan santunan kepada mereka yang membutuhkan. Terutama senantiasa mawas diri dari sebuah pola hidup yang memburu kita terus menerus dan mendorong kita untuk meningkatkan kenikmatan materi dan mencari kepuasan inderawi terus menerus.
Memang ada kecenderungan untuk mengutamakan sisi legal formalistic dan ritualistic dari ibadah puasa. Legal formalistic dalam artian kita mencari acuan-acuan hukum agama yang perlu. Sehingga kita memperhatikan secara seksama hal-hal kecil yang harus kita penuhi dalam beribadah puasa. Namun tekanan kepada sisi legal formalistic itu didampingi oleh kecenderungan sangat kuat untuk mementingkan sisi ritualistic. Seperti membaca Al-Quran terus menerus selama bulan puasa dan sebagainya.
Ikatan sosial yang seharusnya dirumuskan dalam solidaritas sosial yang kokoh menjadi sedikit terabaikan oleh sisi legal formalistic dan sisi ritualistic. Hal itu tidak boleh terjadi karena peribadatan puasa yang lengkap dan sempurna adalah peribadatan yang benar-benar memiliki sentuhan ritualistic dan memenuhi ketentuan-ketentuan legal formalistic disatu pihak. Tetapi yang mempunyai dimensi sosial yang kuat dalam bentuk penghayatan hidup dalam kebersamaan dengan manusia lain inilah yang seharusnya kita camkan sebagai sarana untuk menggapai maghfiroh atau pemberian ampun dari Allah SWT.

*)Mahasiswa Penerima Beasiswa Bidikmisi Fakultas Syariah IAIN Sunan Ampel Surabaya
@.Dimuat di Duta Masyarakat (Rabu, 10 Agustus 2011)
Reaksi:

2 komentar:

Abdullah faqots said...

Yomannnnn bang ali trus berkarya ya whuahaha

Abdullah faqots said...

Yomannnnn bang ali trus berkarya ya whuahaha

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India