Sebaik-baik Manusia Adalah Orang yang Bermanfaat Bagi Sesama (H.R Buchori Muslim)
“Hidup adalah perjalanan waktu dan perpindahan tempat. Kapan pun dan di mana pun kita berada, haruslah memberi manfaat bagi sesama, karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Learn, Share, Success! (Muhammad Ali Murtadlo)”

Monday, 11 June 2012

Melunturkan Budaya Nyontek (Bohong)


Tanpa kita sadari ternyata nyontek merupakan praktek dari academic dishonesty (ketidakjujuran akademis). Praktik nyontek saat ujian sudah menjadi rahasia umum. Hal itu hampir dilakukan setiap menjelang ujian, baik ujian formal maupun ujian nonformal. Seperti menjelang UTS, UAS, test sertifikasi guru, test masuk perguruan tinggi dan test-test yang lain.
 Nyontek tidak hanya dilakukan oleh siswa pada jenjang pendidikan dasar, menengah ataupun jenjang atas, akan tetapi budaya nyontek juga telah menjangkiti mahasiswa yang ada di perguruan tinggi, bahkan nyontekpun bisa dilakukan oleh orang yang telah berpredikat guru atau dosen.
Di sisi lain, dalam kehidupan sehari-hari nyontek bukan hal yang aneh, sudah biasa, bahkan kita harus nyontek kalau mau kerja yang benar. Ketika kita mau menulis artikel atau makalah atau buku teks, diakui atau tidak, pasti selalu mencontek. Ketika kita menyusun tugas makalah, di meja, di kos-kosan, pasti bertebaran buku-buku referensi untuk kita contek. Sekarang malah jauh lebih gampang. Tinggal klik profesor Google, maka semua pertanyaan sudah muncul jawaban. Sungguh itu cara instan yang menyenangkan namun memprihatinkan.
Perilaku ketidakjujuran akademis ini telah banyak terjadi di dalam lingkup pendidikan, mulai dari lingkup sekolah dasar sampai perguruan tinggi, dengan kadar pelanggaran yang berbeda. Pada masa kini, dalam lingkup akademik, perilaku ketidakjujuran akademis seperti ini dipandang sebagai perilaku yang wajar dan biasa saja.
Nyontek = Bohong
Nyontek identik dengan perilaku ketidakjujuran. Kejujuran yang seharusnya dipegang teguh kini telah luntur. Terbawa oleh budaya yang begitu mesra bersenggama dengan arus globalisasi yang kian tak terbendung. Mengalir menjadi sebuah kebiasaan yang sebenarnya harus kita lawan. Lawan dengan keyakinan bahwa yang jujur pasti “mujur” bukan malah menjadi ‘ajur”.
Sebenarnya kejujuran itu erat kaitannya dengan kebenaran dan moralitas. Bersikap jujur merupakan salah satu tanda kualitas moral seseorang. Dengan menjadi seorang pribadi yang berkualitas, kita mampu membangun sebuah masyarakat ideal yang lebih otentik dan khas sebagai manusia yang manusiawi.
Socrates mengatakan, jika seseorang sungguh-sungguh mengerti bahwa perilaku mereka itu keliru, mereka tidak akan memilihnya. Seseorang itu akan semakin jauh dari kebenaran jika ia tidak menyadari bahwa perilakunya itu sesungguhnya keliru. Kesadaran diri bahwa setiap manusia bisa salah dan mengakuinya merupakan langkah awal bertumbuhnya nilai kejujuran dalam diri seseorang.
Sinonim dari ketidakjujuran adalah kebohongan. Bohong, kebohongan dan pembohongan menjadi satu kesatuan dan telah menjadi bagian dari hidup manusia. Tak ada larangan yang begitu sering dilanggar seperti larangan jangan berbohong. Di dunia ini ada manusia yang tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berselingkuh, tetapi tak pernah ada manusia yang tidak berdusta atau berbohong.
Maka, kata novelis dan esais Jean Paul, bohong adalah kanker ganas di bibir hati terdalam manusia. Kata penyair Heinrich Heine, kebohongan bahkan bisa menyelip ke dalam ciuman dan kepura-puraan, membuat kepura-puraan dan penipuan menjadi nikmat dan manis. Kebohongan bisa menyelip ke mana-mana, apalagi ke dalam dunia pendidikan. Begitu mengentalnya praktik plagiasi, menyontek, instanisasi (mengerjakan tugas siap saji) dikalangan mahasiswa maupun dosen. Itulah yang sesungguhnya kita alami sekarang ini.
Pendidikan kita memang sedang bermantelkan kebohongan. Meminjam kata-kata sutradara teater dan esais di Paris dan Berlin, Benjamin Korn, pendidikan kita bagaikan mesin yang olinya adalah kebohongan. Dalam pendidikan macam ini, para akademisi tidak lagi menghargai proses, tetapi hanya bagaimana menyelesaikan tugas dengan cepat, tepat dan benar. Caranya dengan mempraktikkan kebohongan.
Kita diseret untuk hidup dalam sistem kebohongan. Kita pun tertipu dan terjerat total oleh kebohongan itu sampai kita seakan tak dapat lagi keluar. Kita jengkel, tetapi tak tahu mana jalan keluar. Lama-lama kita juga terninabobokkan oleh kebohongan itu. Itulah mungkin maksud Henrich Heine ketika ia bilang, ”Penipuan itu manis, tetapi ketertipuan lebih manis lagi rasanya.”
Kebohongan memang sulit diberantas. Filsuf Imannuel Kant mengibaratkan kebohongan bagaikan kayu bengkok, tidak mungkin ditukangi untuk diluruskan. Kalau demikian, mestikah kita membiarkan saja kebohongan? Sama sekali tidak. Sebab, kata Kant, pembohong dan kebohongannya telah melukai, menistakan, dan meniadakan martabat manusia.
Bohong = Induk Dosa
Prof Dr Hamka, Guru bangsa kita, telah mengulas habis tentang kebohongan dalam bukunya, Bohong di Dunia (cetakan III, 1971). Hamka mengulas apa itu kebohongan; bagaimana sikap agama-agama Nasrani, Yahudi, dan Islam terhadap kebohongan.
Dalam pengantar buku tersebut, Hamka mengutip sabda Nabi Muhammad SAW, ”Dusta adalah ibu dari segala dosa.” Hamka prihatin, betapa pada waktu itu kebohongan sudah merajalela dan betapa karena kebohongan, bangsa ini tetap melarat dan tidak bisa maju.
Menurut Hamka, pada fitrahnya, manusia sesungguhnya adalah benar dan jujur. Suara hati yang asli adalah jujur dan tidak mau berbohong. Keadaan lain yang datang tiba-tiba memaksa manusia menempuh jalan bohong. Seperti halnya menyontek saat ujian.
Realitas ini sungguh memprihatinkan sekaligus cermin atas krisis moral yang melanda bangsa, khususnya kalangan akademisi. Menyontek yang merupakan salah satu bentuk sikap anti kejujuran untuk melindungi kepentingan pribadi, kelompok, golongan tidak hanya lazim dilakukan oleh aparatur Negara, tapi sudah mengakar sampai pada ranah pendidikan. Sudah saatnya kita sebagai kaum intelektual untuk membendung segala macam kebohongan termasuk kebohongan akademis khususnya pada saat ujian.
Nilai akhir belajar memang penting, tetapi proses pembelajaran jauh lebih penting. Nilai tidak diukur berdasarkan angka-angka pragmatis melainkan kejujuran dan pribadi yang berkarakterlah  yang menjadi barometer berhasil tidaknya seseorang. Kita harus yakin bahwa orang yang menghargai proses akan menjadi pribadi berkualitas, unggul dan dapat dibanggakan
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India