Sebaik-baik Manusia Adalah Orang yang Bermanfaat Bagi Sesama (H.R Buchori Muslim)
“Hidup adalah perjalanan waktu dan perpindahan tempat. Kapan pun dan di mana pun kita berada, haruslah memberi manfaat bagi sesama, karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Learn, Share, Success! (Muhammad Ali Murtadlo)”

Monday, 19 August 2013

Menyanyikan Indonesia Raya di Ketinggian 3265 Mdpl (Catatan Perjalanan Menaklukan Puncak Gunung Lawu Magetan)



Oleh; Muhammad Ali Murtadlo*)

Terinspirasi dari novel yang difilmkan karya Dhonny Dhirgantoro, 5 CM, kami melakukan pendakian gunung. Namun lokasi pendakiannya berbeda. Jika Genta, Arial, Zafran, Ian, Riani dan Arinda melakukan pendakian di puncak Mahameru, kami berempat melakukan pendakian di puncak Hargo Dalem. Mahameru adalah puncak gunung Semeru, Malang, sedangkan Hargo Dalem adalah puncak gunung Lawu, Magetan. Kedua-duanya masih berada di kawasan Provinsi Jawa Timur.
Kamis, 15 Agustus 2013 kami berangkat dari Surabaya menuju Magetan. Perjalanan ini membutuhkan waktu kira-kira 5-6 jam. Dengan menggunakan jasa transportasi bus jurusan Sby-Jogja kami turun di terminal Madiun. Sampai terminal Madiun sekitar pukul 21;00 WIB. Dari terminal kami dijemput kawan menuju kediamannya, di Dusun Gambiran, Desa Madigondo, Kecamatan Takeran, Kabupaten Magetan.
Sampai di Takeran kami disambut hangat oleh tuan rumah dengan disuguhi teh serta mie ayam yang sama-sama hangat. Setelah ngobrol ala kadarnya, kami sholat kemudian istirahat.
Jum’at, 16 Agustus 2013 petualangan dimulai. Setelah sholat, mandi dan packing-packing kami memulai perjalanan. Pukul 05;30 kami diantar ke pasar Sambirejo untuk mencari angkutan menuju terminal Gorang-Gareng. Setelah dapat angkutan kami pamitan dan mengucapkan banyak terima kasih kepada Mbak Riska dan keluarganya. Bersama nenek-nenek tua kami berada di lyn tua yang mesinnya mungkin keluaran tahun 80-an. Pagi-pagi seperti ini nenek-nenek tua itu sudah pulang membawa belanja dari pasar. Sungguh pelajaran berharga, betapa semangatnya nenek-nenek itu, meski usianya tidak muda lagi tapi masih kuat belanja di pasar. Kami pun tak mau kalah dengan mereka, kami harus kuat menaklukan puncak gunung Lawu yang ketinggiannya mencapai 3265 Mdpl.
Sesampainya di terminal Gorang-gareng kami transit bus langsung menuju Magetan. Dari Magetan kemudian naik lyn menuju Sarangan. Ketika di terminal Plaosan kami ditetel bersama penumpang lain yang barang bawaannya adalah berbagai macam sayuran. daging bahkan kayu bakar. Sampai di Telaga Sarangan kami tak sempat turun dan menikmati karena harus mengejar waktu agar tidak kesiangan sampai Cemoro Sewu.
Perjalanan dari Sarangan menuju Cemoro Sewu kami tempuh dengan jalan kaki. Jarak antara kedua tempat itu sekitar 5 KM. 5 KM Sarangan-Cemoro Sewu tentu beda dengan 5 KM Bungurasih-Wonokromo. 5 KM Sarangan-Cemoro Sewu jauh lebih berat karena jalannya menanjak. Baru jalan 1 KM saja kami sudah berulang kali istirahat. Untungnya ketika hendak mencapai 2 KM kami mendapat tumpangan mobil tepak L300. Tanpa berfikir panjang kami berteriak-teriak kegirangan di atas bak tepak. Sampai di pintu masuk Cemoro Sewu, kami ucapkan terima kasih kepada sang sopir yang baik hati tersebut.
Pukul 09;00 WIB kami berada di Pintu Gerbag Cemoro Sewu. Inilah pendakian sesungguhnya dimulai. Setelah melakukan registrasi di loket dan diintergosai oleh petugas, kami langsung melanjutkan perjalanan. Sebelum memulai perjalanan kami tidak lupa berdo’a. Sambil berharap perjalanan nanti lancar dan mengasyikan kami membaca umul Qur’an. Ternyata memang benar-benar asyik. Kiri-kanan kami disuguhi pemandangan yang tidak mungkin dapat kami temukan di kota metropolitan. Hamparan pohon cemara ada di mana-mana, hijau dan mempesona. Saya baru tahu kenapa dinamakan cemoro sewu, karena di sana banyak berdiri pohon cemara yang jumlahnya mencapai ribuan.
Menurut keterangan, untuk mencapai puncak lawu (Hargo Dalem) harus melewati 5 Pos. Jarak antara pos satu dan pos lainnya bervariasi. Perjalanan dari pintu gerbang menuju Pos 1 adalah perjalanan adaptasi. Medan dan treknya masih biasa saja tidak terlalu terjal namun membutuhkan semangat yang membara. Sebelum sampai di Pos 1, tidak terhitung berapa kali kami istirahat. Di sela-sela istirahat itu kami minum, foto-foto dan menuliskan prasasti di batu-batu besar “AMBISI IAIN Sunan Ampel Surabaya” dan menuliskan nama-nama kami berempat. Sebelum sampai di Pos 1 kami mengisi perbekalan air di Sendang Panguripan di belakang gubuk.
Sampai di Pos 1, istirahat kami agak lama. Sambil menikmati tahu yang kami beli di warung Pos 1, kami ngobrol-ngobrol lama dengan para pendaki lainnya. Ada yang dari Surabaya, Kediri, Nganjuk, Madiun, Solo, Jogja dan lain-lain. “Dari sinilah perjalanan yang agak menantang selanjutnya dimulai” kata seoarang pendaki dari Madiun. Dia sudah berulang kali naik turun Gunung. Ternyata memang benar, treknya semakin menanjak dan membutuhkan tenaga ekstra.
Untuk menuju Pos 2 kami lakukan dengan santai yang penting sampai. Saya yang notabene adalah pendaki pemula, tentu butuh sesuatu yang dapat membangkitkan semangat. Karena yang dibutuhkan oleh pendaki hanyalah tekad dan semangat yang tinggi. Tanpa itu para pendaki tidak akan mungkin dapat mencapai puncak. Begitu juga dengan kita. Jika kita menginginkan mencapai puncak (kesuksesan hidup) tentu membutuhkan tekad yang kuat dan semangat yang tinggi. Dalam fikiran saya sudah teringiang-ngiang tekad yang kuat dan semangat untuk mencapai puncak itu. Maka segala lelah dan payah akan terbayar ketika menyaksikan keindahan alam dari tempat yang lebih tinggi lagi.
“Masak mau kalah dengan orang yang tadi berpapasan di Pos 1, berjalan dengan 1 kaki dan bantuan egrang saja dia mampu mencapai pos 2. Saya yang dianugerahi kaki sempurna pasti jauh lebih bisa” Gumam saya. “Atau masak kalah sama Mbok yem”. Mbok yem adalah pemilik warung yang berada di atas Pos 5. Setiap hari beliau dan para pekerjanya naik turun gunung dengan membawa bahan-bahan masakan, seperti beras, minyak, telur, mie dan lain-lain.
Sampai di Pos 2 kami beristirahat sebentar, kemudian naik lagi mencari tempat yang nyaman untuk mengisi perut. Kami diberi bontot empat bungkus nasi oleh ibunya Mbk Riska. Dua bungkus sudah kami makan sebelum sampai Cemoro Sewu, sisanya dua bungkus lagi kami makan di sini, di atas Pos 2. Pelajaran berharga dari pendakian ini adalah sikap ramah-tamah kepada orang lain. Para pendaki meskipun belum saling mengenal pasti menyapa “Monggo Mas/Mbak”, “Mari” dan lain-lain. Pelajaran lain adalah betapa nuansa kekeluargaan tercipta di sini. Kami saling akrab layaknya keluarga sendiri, meskipun berasal dari keluarga yang berbeda.
Sampai di Pos 3 sekitar pukul 13;30 WIB. Pos 3 adalah pos pertengahan. Pos ini kondisinya sudah memprihatinkan. Atapnya sudah tidak terlihat lagi, entah hilang kemana. Kami tidak begitu lama di sini. Perjalanan masih membutuhkan tenaga ekstra lagi. Di pos 3 ini kami mulai merasakan kabut dingin. Suara angin yang menyerupai bunyi suling juga kami dengarkan. Juga awan dan dan bukit-bukit kami saksikan. Betapa indahnya ciptaan Allah SWT. Sungguh luar biasa. Subhanallah !
Sampai di Pos 4 kami benar-benar menyaksikan samudra di atas awan (The Sea on The Sky). Perjalanan selama 6 jam ini terbayar sudah dengan menyaksikan pemandangan yang begitu eksotis. Hamparan langit dan bukit yang diselimuti awan dengan disoroti pancaran matahari membuat pemandangan ini begitu mempesona. Sesekali disuguhi dengan terpaan hawa dingin. Saya berulang kali takjub dengan mengucapkan Subhanallah berkali-kali. Tanpa banyak bicara, kami pun berpose ria mengambil gambar.
Perjalanan menuju Pos 5 tambah menantang. Agak menanjak dan hawa semakin dingin. Kami sampai di Pos 5 sekitar pukul 17;00 WIB. Pemandangan pun semakin eksotis. Pos 5 lokasinya agak luas dan datar. Banyak yang camp dan mendirikan tangga di sini. Kami singgah di Pos 5 sebentar untuk melaksanakan sholat. Tak ada air, kami terpaksa bersuci dengan bertayamum. Saya berbincang-bincang dengan pendaki lain dari Sanata Dharma, Jogjakarta, namanya Mahendra. Mahendra sering naik turun gunung, bahkan setiap satu bulan setengah dia bersama kawan-kawannya mendaki. Gunung Lawu adalah puncak kesekian kali yang telah ditaklukan. Menurut penuturan Mahendra Gunung Lawu adalah Gunung terdingin yang pernah ditaklukan. Memang benar, suhu disini bisa mencapai 10º C. Saya yang memakai kaos rangkap 2 dan jaket rangkap 2 masih merasa kedinginan.
Dari ketinggian ± 3000 Mdpl ini saya dapat menyaksikan pemukiman penduduk. Telaga Sarangan yang luas dan lebar itu terlihat seperti kolam renang kecil. Rumah dan pemukiman warga layaknya rumah-rumahan dalam permainan monopoli. Apalagi mobil, sepeda motor dan benda lain yang lebih kecil tidak terlihat sama sekali. Saya bahkan tidak dapat melihat manusia sama sekali di bawah. Itulah pertanda, bahwa manusia sejatinya adalah makhluk kecil yang tidak berdaya tanpa hadirnya makhluk lain. Maka tidak pantas jika ada manusia yang berlaku sombong. Apa yang hendak  disombongkan? dari ketinggian 3000 Mdpl saja sudah tidak terlihat apalagi dari tempat yang lebih tinggi lagi. Perjalanan ini semakin menyadarkan diri, siapa sejatinya diri ini.
Selesai sholat, kami packing dan melanjutkan perjalanan menuju puncak. Di atas Pos 5 ada warung Mbok Yem yang saya ceritakan di awal tadi. Sampai di dekat warung Mbok Yem kami mencari tempat yang strategis untuk mendirikan tenda. Akhirnya kami menemukan tempat di tanah datar atas warung Mbok Yem. Kami berempat langsung berbagi tugas. Dua orang mendirikan tenda dan yang lain mencari air dan kayu bakar. Saya yang kebagian mencari air dan kayu bakar. Air dapat diambil di sendang kecil depan warung Mbok Yem. Waktu itu hari sudah mulai gelap, saya harus memakai senter kecil yang melekat di kening. Sampai di camp kami menyalakan api, memasak mie dan kopi. Malam ini kami habiskan dengan bermain api unggun sambil menyaksikan langit yang berhias bulan dan bertabur bintang malam.
Menjelang pagi, setelah sholat shubuh kami menanti kemunculan matahari. Akhirnya sekitar pukul 05;35 saya benar-benar menjadi saksi terbitnya matahari 17 Agustus 2013. Tidak mau kehilangan momen kami pun berpose ria mengambil gambar sambil menyaksikan sang surya. Sungguh pengalaman menarik yang akan terekam dalam memori otak dan tak mungkin dapat terlupakan. Setelah matahari meninggi kami berkemas dan bergegas menuju puncak. Sampai di puncak kami langsung mengambil gambar dengan berbagai pose. Di puncak sudah berkibar ratusan merah-putih. Setelah puas mengambil gambar, saya menjadi perhatian banyak pendaki karena menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan memberi hormat kepada sang Saka Merah Putih.
Ini adalah pengalaman pertama dan paling menarik. Pertama kali mendaki gunung, pertama kali mbolang, pertama kali menyaksikan sun rice 17 Agustus secara langsung dan pertama kali menyanyikan Indonesia Raya di ketinggian 3265 Mdpl. Pengalaman ini tak mungkin dapat saya lupakan. Saya memang bukan anggota komunitas Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA), tapi saya mencintai alam ini, negeri ini, Indonesia tercinta sampai saya mati.

Magetan, 18 Agustus 2013 M
*) Muhammad Ali Murtadlo, Sang Petualang dari Bumi Angling Dharma, Bojonegoro.
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India