Sebaik-baik Manusia Adalah Orang yang Bermanfaat Bagi Sesama (H.R Buchori Muslim)
“Hidup adalah perjalanan waktu dan perpindahan tempat. Kapan pun dan di mana pun kita berada, haruslah memberi manfaat bagi sesama, karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Learn, Share, Success! (Muhammad Ali Murtadlo)”

Sabtu, 04 Februari 2012

Bidadari Tidurku Kemaren Malam


 Wajah cantik yang dulu aku damba dalam mimpi
Kini kutemui bahkan setiap hari
Senyum merekah dari bibirnya yang ranum
Bagaikan rembulan semu yang memancarkan sinarnya yang anggun

Kini aku tak lagi bermimpi untuk menyaksikannya
Kusentuh, kuraba dengan penuh kasih dan asmara
Indahnya,,
Mata molek yang menatap tajam itu
Mengingatkan aku pada sesosok bidadari
Yang aku temui di tidurku kemaren malam

Ingin sekali aku menjadikannya pasangan resmi
Menjadi pengantin
Saling tukar cincin
Merenda kasih dikelilingi lilin
Ah, mungkinkah itu menjadi kenyataan?

Surabaya, 23 januari 2012 M

Selasa, 24 Januari 2012

Penyakit Metropolitan

Jika kita disuruh memilih antara tinggal di desa atau tinggal di kota. Maka jawaban yang dominan adalah memilih tinggal di kota. Mengapa rata-rata kita senang untuk tinggal di kota?
Kehidupan di kota yang serba wah itulah yang menjadi daya tarik sendiri bagi kebanyakan masyarakat untuk menikmatinya. Sehingga bagi mereka yang tinggal dikota langkah yang dianggap tepat adalah melakukan urbanisasi. Sekilas, memang kehidupan di kota terlihat menyenangkan. Padahal secara kenyataan kehidupan di kota justru lebih soro dibanding tinggal di desa.
Ada kisah menarik yang patut kita cermati    . Ini adalah dialog Nabi Musa 'Alaihi Salam (AS) dengan ummatnya Bani Israil dalam pengembaraan mereka di gurun pasir selama 40 tahun. Tujuan Allah menyuruh mereka mengembara selama 40 tahun di gurun pasir itu adalah untuk mendapatkan generasi baru yang bermental ulet, tahan uji, tahan derita, berani, berjiwa merdeka, menggantikan generasi tua yang bermental budak dan manja. Dialog yang terjadi ini, adalah belum lama setelah mereka diselamatkan Allah dari kejaran Firaun (Parroh) bersama bala tenteranya.
Dialog ini adalah antara Nabi Musa AS dengan generasi tua. Seperti telah diketahui oleh, baik ummat Yahudi, maupun ummat Nasrani dan ummat Islam, Bani Israil selamat dari kejaran Firaun karena Allah memberikan mu'jizat kepada Nabi Musa AS. Laut Merah terbelah oleh pukulan tongkat Nabi Musa AS, bani Israil masuk dicelah-celah air laut yang terbelah, disusul oleh Fir’aun dan bala tenteranya. Setelah seluruh Bani Israil keluar dari celah-celah air itu, laut kembali bertaut, lalu tenggelamlah Fir’aun dan seluruh bala tenteranya.
Dalam pengembaraanya itu Allah SWT memberi anugerah khusus kepada mereka itu seperti firman Allah pada ayat ke-57 dalam Surat Al-Baqarah. Ada tiga jenis anugerah khusus: pertama, Al Ghama-mu atau awan pelindung dari teriknya matahari. Kedua,  Al Manna, sebangsa lumut rasanya manis yang mengandung zat yang terdiri dari hidrat arang. Ketiga, As-Salwa, sejenis burung yang mengandung protein dan lemak.
Dialog mulai dibuka oleh generasi tua tersebut: (Ya- Muwsa- lan nashbira 'ala- tha'a-min wa-hidin) wahai Musa kami sudah tidak tahan lagi dengan makanan yang dari itu ke itu saja. Kemudian mereka meminta lagi agar Nabi Musa berdoa kepada Allah SWT untuk minta makanan yang bermacam-macam, seperti yang telah pernah mereka rasakan dahulu. Maka Nabi Musa menjawab: (Atastabdiluwna lladzi- huwa adna- billadzi- huwa khairun,) mengapa kamu inginkan pengganti yang tidak baik atas yang sudah baik. Selanjutnya Nabi Musa berkata lagi: (Ihbithuw mishran, fainnalakum ma- saaltu), turunlah ke kota, di situ kamu akan dapatkan apa yang engkau kehendaki.
Selanjutnya Allah SWT menginformasikan kepada kita dalam Surat Al Baqarah ayat 61 seperti berikut: (Wa dhuribat 'alaihimu dzdzillatu walmaskanatu wa ba-u bighadhabin minaLla-hi dza-lika biannahum ka-nuw yakfuruwna bia-ya-ti Lla-hi wa yaqtuluwna nnabiyyi-na bi ghairi lhaqqi dza-lika bima- 'ashaw wa ka-nuw ya'taduwn), artinya: Dan ditimpakan kepada mereka kehinaan dan kesengsaraan, dan kenalah murka Allah disebabkan mereka itu ingkar akan ayat-ayat Allah, dan membunuh nabi-nabi dengan sewenang-wenang, demikianlah mereka itu kepala batu dan melanggar batas.
Ada dua hal yang dapat kita ambil pelajaran dari Q.S Al Baqarah, ayat 61 tersebut. Pertama, kecenderungan orang desa pergi turun ke kota (down town), berurbanisasi. Mereka itu mempunyai dorongan keinginan akan kehidupan yang lebih baik, makanan yang bermacam-macam, fasilitas yang lebih menyenangkan.
Nabi Musa AS memperingatkan mengapa kehidupan yang baik di gurun (baca: di desa) meminta ganti dengan kehidupan yang tidak baik di kota. Kita semua sudah tahu, betapa sekarang bahayanya makanan yang berjenis-jenis itu. Zat pewarna yang merusak hati, otak dan organ tubuh lainnya. Zat penyedap yang membahayakan kesehatan, makanan kaleng dengan zat pengawet penyebab kanker, belum lagi yang sudah kadaluarsa. Ini dari segi makanan, belum lagi udara sehat yang bersih di desa akan ditukar dengan udara yang sudah penuh dengan zat pencemar di kota.
Kedua, dan ini tidak kurang pentingnya yaitu secara sosiologis. Masyarakat desa merupakan suatu keluarga besar. Kehidupannya intim, namun kontrol sosial ketat, sehingga mudah terhindar dari kemaksiatan. Kontrol sosial yang ketat itu merupakan salah satu sisi mata uang, sedang sisi yang lain yaitu sistem perlindungan dan jaminan sosial yang cukup berkualitas. Lalu apa yang dialami oleh penduduk desa yang sudah berurbanisasi itu?
Frusturasi, karena sangat berlawanan dengan suasana desa. Suasana keluarga besar dengan kehidupan intim dan sistem perlindungan dan jaminan sosial seperti didesa sudah tidak ada lagi dalam suasana kota. Di kota kontrol sosial boleh dikatakan sudah sangat lemah, kehidupan menjadi nafsi-nafsi individual. Maka mudahlah terjerumus ke dalam kemaksiatan, karena lemahnya kontrol sosial.
Kehidupan intim lenyap, bahkan orang bertetangga sudah kurang saling mengenal, dipagari tembok tinggi, masing-masing sibuk sendiri. Orang menjadi kesepian di tengah-tengah orang ramai. Kesepian dicoba dihilangkan dengan kehidupan malam, tetapi penyakit kesepian itu tak kunjung-kunjung hilang.
Dan itulah penyakit di kota metropolitan, (adzdzillatu walmaskanatu) kehinaan dan kesengsaraan, (yakfuruwna bia-ya-tiLla-h) ingkar akan ayat-ayat Allah, (yaqtuluwna nnabiyyi-na) membunuh nabi-nabi, karena sekarang tidak ada nabi lagi, maka ayat itu berarti membunuh ajaran yang dibawa oleh para nabi. Jadi sudah lebih hebat dari hanya sekadar ingkar, kepala batu (ashaw) dan melampaui batas (ya'taduwn).
Maka kita yang hidup di kota sekarang ini, haruslah menyadari bahaya kedua penyakit itu. Penyakit yang diakibatkan makanan dan penyakit sosiologis, yang sudah ada sejak dahulu kala sekurang-kurangnya sejak zamannya Nabi Musa AS.

Minggu, 06 November 2011

Arafah dan Padang Makhsyar

Sabtu (05/11/2011) jutaan jamaah haji akan memadati Padang Arafah untuk melaksanakan wukuf. Mereka akan melakukan ritual sakral yang merupakan rukun pelaksanaan ibadah Haji. Bersamaan dengan itu seluruh umat islam di dunia disunnahkan untuk melakukan puasa arafah.

Arafah sesungguhnya adalah tempat mu’tamar akbar, pertemuan tahunan seluruh kaum muslimin di dunia. Wukuf di arafah merupakan miniatur padang mahsyar dimana seluruh umat manusia akan dibangkitkan dari kematian dan berkumpul di tempat tersebut. tanpa membedakan status yang disandangnya para jamah haji akan berkumpul di sana.ada pejabat, ada konglomerat, tukang cat, tukang becak, petani, nelayan, dan lain sebagainya.

Dalam kitab-kitab disebutkan, Padang mahsyar diperkirakan Matahari berada tepat sejengkal di atas kepala. Hanya manusia yang banyak amal ibadahnya saja, yang mampu merasakan kesejukan di tengah panasnya padang mahsyar.
Di sana manusia harus mempertanggungjawabkan semua amal perbuatan di hadapan Allah swt. perbuatan yang pernah dilakukan semasa hidupnya di dunia.

Wukuf di arofah seolah mengingatkan kita semua akan hari kebangkitan itu. Hari dimana manusia akan dibangkitkan dari kematiannya menuju alam yang kekal. Maka dari itu Sudah selayaknyalah manusia mempersiapkan diri untuk menyongsong hari pembalasan itu. Dengan berbuat baik, berbuat baik kepada sang pencipta (menjalankan Ibadah) dan berbuat baik sesama manusia, dengan bentuk kecil saling hormat-menghormati.
Pada hari itu pula di mana setiap manusia akan dihisap secara adil oleh Tuhan yang Maha Adil. Tidak ada sedikitpun kesalahan dalam prosesi penghisapan nanti. Keadilan betul-betul ditegakkan. Hukum tidak bisa dibeli oleh siapapun. Meskipun Gayus tambunan yang terkenal lihai dalam memafia hokum disana dia akan gigit jari. Begitu juag mafia-mafia lainnya.

Firman Allah “Barangsiapa berbuat kejahatan walaupun seberat "atom" maka dia akan mendapatkan balasannya. Begitu pula bila berbuat baik walaupun hanya sebesar "atom"maka diapun akan mendapat balasan.(Al-Qoriah)
Dhus, jangan pernah bersedih ketika kita sudah melakukan perbuatan baik di dunia dan patut untuk berbangga, karena Allah Maha Melihat dan Maha Adil. Besok di akhirat akan dibalas dengan pahala yang setimpal

Kembali ke “tema”, di Arafahlah jamaah haji digembleng dengan teriknya panas matahari yang hanya sejengkal diatas kepala itu. Asal mau bersabar dan selalu bertawakal. Insya Allah, Allah akan menjadikan mereka Haji yang Mabrur bukan Haji yang mabur (baca: terbang).

Jumat, 04 November 2011

Haji Cukup Sekali


Melaksanakan ibadah haji adalah kewajiban bagi muslim yang mampu. Mampu dari segi fisik maupun finansial. Serta mampu untuk memberikan sandang, pangan bagi keluarga yang ditinggalkan.
Indonesia mayoritas penduduknya beragama islam. Tak heran jika fenomena yang terjadi saat ini adalah banyak orang sudah mampu dari segi fisik, finansialpun siap. Namun terkendala jangka waktu keberangkatan. Statistik Kementerian Agama menunjukan jangka waktu daftar tunggu mencapai 6 tahun bahkan lebih. Di jawa timur sendiri, harus menunggu sampai 10 tahun baru bisa berangkat. Salah satu penyebabnya adalah banyaknya orang yang sudah pernah melaksanakan ibadah haji, kemudian kembali mendaftar. Akibatnya, ini akan menimbulkan resiko yang besar bagi Calon Jamaah Haji (CJH) yang nantinya akan berangkat, karena sudah mencapai lanjut usia.
Saya mengusulkan; alangkah baiknya pemerintah menghimbau bagi orang-orang yang sudah pernah bertandang ketanah suci tidak diperkenankan melaksanakan ibadah haji lagi. Beri kesempatan yang lain. Ini akan mengurangi resiko yang tidak diinginkan. Kita patut mencontoh Nabi Muhammad SAW yang selama hidupnya melakukan Haji hanya sekali meskipun punya kesempatan.

Kamis, 03 November 2011

Kurban dan Solidaritas Sosial**)

Tidak lama lagi umat islam akan merayakan Hari Raya Idul Adha. Idul Adha adalah hari penuh kemenangan besar. Dalam hari yang dirayakan kaum muslimin seluruh dunia itu terkandung nilai kepatuhan dan keikhlasan saat menjalankan perintah Allah SWT serta mengandung makna sosial yang tinggi.
Idul Adha merupakan wujud keikhlasan yang tidak tertandingi. Hari itu menjadi salah satu monumen terbesar umat manusia untuk menandai bahwa dalam membuktikan kepatuhan kepada Allah SWT, manusia harus ikhlas merelakan apapun yang paling berharga dalam hidup. Termasuk merelakan untuk berbagi kepada sesama.
Berbicara tentang Idul Adha tentu fikiran kita mengarah pada pelaksanan kurban (qurban). Ibadah ini disinyalir dalam Alqur-an dan Hadist sebagai bukti kepatuhan Nabi Ibrahim a.s akan perintah Tuhan-Nya untuk menyembelih putra tercintanya Ismail a.s.
Dekat dengan Allah, Dekat dengan Sesama
Dalam bahasa Arab, kurban (qurban) memiliki akar kata yang sama dengan qarib yang artinya 'dekat'. Dari sanalah istilah 'sahabat karib' dalam bahasa Indonesia berasal. Dalam konteks ini, kita membaca kurban sebagai usaha mendekatkan diri kepada Allah dengan cara mendekatkan diri dengan sesama manusia.
Pakar tafsir kontemporer, Abdullah Yusuf Ali dalam masterpicenya The Holy Qur’an; Translation and commentary, menjelaskan bahwa ibadah kurban memiliki makna spiritual dan dampak sosial yang tinggi. Kurban menjadi ungkapan kasih sayang, cinta dan simpati mereka yang berpunya kepada kaum papa. Kurban ini tidak sama dengan upacara persembahan agama-agama lain. Hewan kurban tidak kemudian dibuang dalam altar pemujaan dan tidak pula dihanyutkan di sungai, tetapi daging kurban dinikmati bersama dengan orang-orang miskin di sekitarnya.
Ulama besar Imam Al Ghazali jauh-jauh hari telah mengingatkan kita semua bahwa penyembelihan hewan kurban menyimbolkan penyembelihan sifat kehewanan manusia. Oleh karena itu, kurban semestinya bisa pula mempertajam kepekaan dan tanggungjawab sosial (social responsibility). Dengan menyisihkan sebagian pendapatan untuk berkurban diharapkan timbul rasa kebersamaan di masyarakat.
Kurban merupakan tindakan praksis sosial dari tauhid. Tuntunan kurban menggambarkan betapa luas dan beragam jalan manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah. Misalnya dengan cara sangat personal, yaitu berupa zikir dan shalat tahajud di keheningan malam. Tetapi harus ada juga tindakan nyata berupa penyerahan sebagian harta untuk dibelikan hewan kurban yang  kemudian dibagikan kepada saudara kita yang membutuhkan. Keduanya sama pentingnya, sebagaimana dikiaskan dalam gerakan shalat, yang dimulai dengan mengagungkan nama Allah (takbiratulihram) dan dipungkasi dengan memberi salam menengok ke kanan dan kiri.
Mendekatkan diri kepada sesama manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah merupakan fondasi untuk menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi sekalian alam (rahmatan lil alamin). Islam akan menjadi rahmat apabila Islam mampu mewujudkan kedamaian dan kerukunan hidup berlandaskan nilai-nilai kebenaran dan keadilan. Sebaliknya, jika Islam yang hadir adalah Islam yang tidak dekat kepada sesama manusia, baik dalam usaha memperbaiki hidup maupun menjaga hidup bersama yang damai, kita masih belum komprehensif dalam mewujudkan misi dasar kita sebagai umat Islam.
Saya tertarik terhadap isi khutbah Shalat Idul Adha 1429 H yang disampaikan H.A.M.Romli Kepala Kanwil Departemen Agama Prov. Banten di alun-alun Kota Serang pada 8 Desember 2008 M. Ditegaskan bahwa lebih baik umat muslim memperhatikan warga miskin serta memperbaiki sarana ibadah dan pendidikan yang rusak, dari pada pergi haji dan umrah berkali-kali. Ada kecenderungan umat Islam ingin berhaji berulang kali, sementara di sekitar tempat tinggalnya banyak masalah kehidupan yang perlu segera diatasi. Sikap seperti itu dinilainya sebagai tidak mencontoh Nabi Muhammad yang hanya satu kali berhaji walaupun ada kesempatan berkali-kali (Tempointeraktif.com 8/12/2008). Isi ceramah Romli tersebut perlu dihayati dengan hati jernih karena disitulah letak hakekat perayaan Idul Adha, yaitu saling berbagi.
Membagikan daging kurban kepada kaum miskin hanyalah salah satu wujud harfiahnya, karena setelah daging kurban habis dikonsumsi, orang miskin kembali lagi ke habitatnya semula. Ada bentuk kepedulian sosial yang sifatnya lebih abadi. Hasil penelitian sebuah lembaga pemerintahan Arab Saudi menemukan angka dana untuk membiayai naik haji pertahunnya tidak kurang dari US$ 5 miliar. Jika dirupiahkan setara dengan Rp 50-an triliun uang yang dikeluarkan oleh umat muslim diseluruh dunia. Sebanding dengan itu, data Organisasi Pangan Dunia (FAO) melaporkan masih ada sekitar 830 juta orang Islam yang sangat miskin dan membutuhkan bantuan. Jika dana untuk penyelenggaraan ibadah haji (khususnya dana ibadah haji dari mereka yang sudah pernah naik haji) dimanfaatkan untuk membantu sesama muslim yang miskin tersebut, tentu kemiskinan di dunia akan lebih cepat teratasi.
Dua Dimensi
Dari sedikit penjelasan di atas, dapat difahami bahwa kurban memiliki makna yang luas dalam kehidupan, terutama dalam rangka meningkatkan solidaritas, kesetiakawanan sosial dan introspeksi. Paling tidak, ada dua dimensi yang ditekankan di sini, yaitu dimensi vertikal (hablum minallah) dan dimensi horisontal (hablum minannas). Kurban disyari’atkan sebagai bentuk kepatuhan, keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Hewan yang disembelih bukan berarti tumbal kepada sang pencipta (khaliq). Yang dipersembahkan kepada Allah, esensinya hanyalah ketakwaan. “lan yanalallah luhumuha wala dimauha, walakin yanaluhu al-taqwa”.
Sedangkan dimensi kedua, secara horizontal. Kurban sebagai bagian dari upaya menumbuhkan kepekaan sosial terhadap sesama anak bangsa, khususnya kepada golongan yang lemah atau mereka yang dilemahkan (baca; didzhalimi) dan tertindas. Ibadah kurban pun mengajarkan kepada manusia untuk rela berkorban demi kepentingan yang lebih universal baik kepentingan agama, bangsa, maupun kemanusiaan.
Dipenghujung tulisan ini, menekankan bahwa ibadah kurban adalah manifestasi keimanan dan simbol perlawanan terhadap syetan dan hawa nafsu yang hadir lewat iming-iming harta dan kekuasaan. Mampukah kita “menyembelih” semua ujian itu guna mewujudkan kebersamaan serta membebaskan negeri ini dari keterpurukan. Dengan semangat solidaritas tentu hal itu akan mudah terwujud.

*)Wakil Ketua Aliansi Mahasiswa Bidikmisi (AMBISI) IAIN Sunan Ampel Surabaya


**)Artikel ini dimuat di Duta Masyarakat Edisi Senin, 07 November 2011 M

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India