Sebaik-baik Manusia Adalah Orang yang Bermanfaat Bagi Sesama (H.R Buchori Muslim)
“Hidup adalah perjalanan waktu dan perpindahan tempat. Kapan pun dan di mana pun kita berada, haruslah memberi manfaat bagi sesama, karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Learn, Share, Success! (Muhammad Ali Murtadlo)”

Kamis, 18 Oktober 2012

Seharian di Shangri-la, Ikuti Seminar Lingkungan dan Penanggulangan Bencana


Minggu, 15 oktober lalu saya dan rekan-rekanita IPNU-IPPNU IAIN Sunan Ampel Surabaya mengikuti seminar nasional yang bertajuk Lingkungan Hidup Dan Penanggulangan Bencana. Acara tersebut dihelat di Hotel Shangri-la, Jl. Mayjend Sungkono, oleh Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) bekerjasama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Saya berangkat kesana bersama sekitar tiga puluhan anak. Kami agak sedikit telat. Schedule normalnya pukul 08.00 sudah dimulai, namun pukul 09.00 kami baru tiba disana. Kami masuk diruang seminar setelah sebelumnya sempat salah tempat. Lokasinya di lantai 2, kami malah naik di lantai 3. Maklum, karena tidak ada tanda-tanda sama sekali dari panitia dan informasi pun masih belum jelas, hanya tahu bahwa tempatnya adalah di Hotel Shangrila.
Saya masuk mendapat giliran ke-tiga dari ke-tiga puluh anak ini. Setelah saya mengisi daftar hadir langsung melangkahkan kaki menuju pintu masuk. Di dalam ruangan sudah banyak peserta seminar. Saya memilih tempat di deretan tengah bagian belakang. Bersama rekan Afwan (Ketua Ipnu) dan rekan shofi saya mulai mengikuti khidmat acara, kebetulan acara baru pembukaan dan memasuki sesi sambutan.
Saya dan beberapa rekan, masuk ke ruangan tanpa membawa apa-apa, tanpa dikasih apa-apa. Seyogyanya dalam seminar ataupun acara apapun pasti ada lah kalau hanya sekedar minum, tapi kali ini kami nggak dikasih. Mungkin karena kehabisan atau karena kami dating telat, saya nggak tahu. Akhirnya kira-kira hampr 3 jam kami menahan lapar dan haus, bukan itu saja saya malah harus bertahan melawan kantuk.
Namun, akhirnya setelah sabar menunggu, kira-kira pukul 12;30 seminar sesi pertama selesai dan dilanjutkan Coffe Break. Karena saking banyaknya peserta, Saya hanya kebagian teh, tidak kebagian makanan (jajan).
Setelah Coffe Break selesai, ini yang saya tunggu-tunggu, waktunya makan siang. Acara ini tergolong cukup mewah, tentu menu makanannya juga mewah. Apalagi lokasinya di Hotel bintang lima tentu menu makanannya enak-enak. Cara makannya bukan seperti di warung tapi berupa prasmanan, ambil sesukanya, tak ada larangan mau ngambil apa, tapi tentunya harus sesuai batas kewajaran.
Yang paling berkesan saat itu adalah ketika saling bercanda bersama rekan dan rekanita. Seolah-olah tak ada sekat, seolah-olah kita adalah keluarga. Padahal sebelumnya belum pernah mengenal sedekat ini, Apalagi ketika foto-foto, Hmmmm, pada narsis sendiri-sendiri. Maklum baru pertama kali berkunjung ke hotel bintang lima semacam shangrila.
Seminar yang bertemakan “Membangun Komitmen Kebersamaan dalam Penanganan Masalah Lingkungan dan Penanggulangan Bencana“ ini ada 2 sesi. Sesi pertama selesai sebelum Coffe Break. Kira-kira pukul 12:30 WIB kemudian dilanjutkan sesi kedua, 13:30 WIB. Waktu satu jam dianggap cukup untuk sekedar Istirahat Sholat dan Makan (Ishoma).
Yang saya herankan dari hotel-hotel mewah di negeri ini (padahal mayoritas beragama islam) namun tempat sholat saja sulit ditemukan. Salah satunya di hotel Shangri-la ini. Mushola sih ada cuma tidak terlalu diprioritaskan, hanya sekedar ada. Musholanya berada dilantai bawah, diluar hotel terletak di pojok, kecil, hanya kira-kira ukuran 4x4 M. Bisa dibayangkan tempat seluas itu pasti cuma bisa diisi bebrepa orang, sepuluh orang saja tidak muat. Tempat wudlunya pun hanya seadanya. Sehingga untuk sholat kami harus bergantian.
Dalam seminar tersebut yang dapat saya tangkap dan pahami adalah bahwa kita sebagai manusia selain mempunyai hubungan dengan sang pencipta (Hablum minaAllah) dan hubungan dengan manusia (Hablum minannas) kita juga mempunyai hubungan dengan lingkungan (Halum MinalAlam). Untuk itu kita sebagai penduduk bumi harus melestarikan lingkungan. Karena lingkungan sebenarnya adalah manusia itu sendiri. Siapa yang menjaga lingkungan berarti telah menjaga manusia. Sebaliknya, siapa yang merusak lingkungan berarti merusak manusia dan juga merusak peradaban manusia.
Dalam sambutannya Prof. Kacung Marijan (Guru Besar Unair) mengatakan bahwa Alam sebelum adanya eksplorasi dan eksploitasi manusia, itu apa adanya. Namun setelah adanya eksplorasi dan eksploitasi manusia maka alam menjadi adanya seperti sekarang. Beliau menambahkan bahwa tugas manusia bukan hanya mengeksplorasi dan mengeksploitasi , lebih dari itu, manusia berkewajiban mengelola untuk manusia sendiri demi keberlangsungan hidup. Eksplorasi dan eksploitasi secara berlebihan akan berimplikasi kepada bencana. Untuk itu diperlukan kesadaran dan tanggung jawab bersama, baik penguasa, pengusaha maupun masyarakat secara keseluruhan.
Saya tidak dapat menangkap secara keseluruhan apa yang disampaikan oleh masing pemateri, karena pemateri  ada Tujuh orang, bahkan saya tidak ingat nama-namanya. Namun yang paling berkesan dan mengena adalah apa yang disampaikan oleh Dr. H, Suparto Wijaya, Pakar Lingkungan Unair, Surabaya. Doktor asal lamongan ini membuat suasana ruangan sedikit mencair. Dengan gaya kocaknya dia menuturkan tentang ironi (maaf) sebuah tinja. Mengambil contoh di Surabaya sendiri, setiap hari orang akan buang air besar, katakanlah satu orang sekali buangan kira 1 Kg dalam sehari, jika dalam sebulan berarti 30 Kg tinja yang terbuang. Itu baru satu orang,  bisa dibayangkan penduduk Surabaya ada berapa sampai saat ini, tinggal mengalikan saja.
Pertanyaannya, apakah sudah ada yang memikirkan itu dan memikirkan langkah apa yang bisa dilakukan untuk memanfaatkan kotoran manusia tadi? Itu yang menjadi perbincangan unik sekaligus kocak pada seminar kali itu. Sontak peserta dibuat tertawa oleh Doktor suparto.
Dari pemaparan beberapa pemateri itu saya dapat menarik kesimpulan bahwa menjaga lingkungan berarti menjaga manusia. Menjaga manusia berarti menjaga keberlangsungan hidup. Menjaga keberlangsungan merupakan bukti cinta akan hidup, karena tugas kita hidup adalah sebagai khalifah fil Arld (Pemimpin, Perawat akan kehidupan di Bumi). Untuk itu melestarikan lingkungan adala tugas dan tanggung jawab kita bersama.
Seminar usai kira-kira pukul 15;30 kemudian dilanjutkan dengan upacara penutupan. Setelah selesai, kembali ada Coffe Break yang kedua. Kami dipersilahkan menikmati hidangan. Ada teh atau kopi, tinggal ambil sesuai selera. Ada juga makanan yang saya tidak tahu namanya, namun enak juga rasanya. Sekali lagi yang paling berkesan adalah saat bercengkerama, bercanda bersama rekan-rekanita. Ini tak mungkin akan pernah terlupa.
Pukul 17;00 kami harus sudah meninggalkan hotel, karena kontrak untuk menggunakan hotel berakhir setelah pukul 17:00. Setelah itu, akan dipakek prosesi pernikahan oleh sherly dan irawan. Sebenarnya saya tidak tahu mereka siapa, namun saya tahu namanya dari banyaknya ucapan selamat berbahagia yang berjajar di depan hotel.
Si kuning dan si hijau sudah lama menunggu. Pak sopir kami pun sudah tidak sabar lagi ingin menjalankan mobilnya dan mengangkut kami. Akhirnya, kami pulang dengan membawa sertifikat, uang transport dan tentunya membawa pengalaman berharga yang akan terkenang menjadi bagian dari sejarah hidup.
O ya, saya teringat dengan kata-kata Dr. Ali Masykur Moesa, M.Si, Ketua Umum PP ISNU, dan ini menjadi mottonya dan motto ISNU “Dari Kontemplasi Menuju Aksi”. Kita bisa renungkan dan syukur-syukur bisa mengamalkan.

Muhammad Ali Murtadlo, Sekretaris Umum PK.PT IPNU IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Rabu, 10 Oktober 2012

Bila Xanana Gus Trainer Beraksi

Sabtu (29/9) lalu Gedung Self Acces Center (SAC) IAIN Sunan Ampel Surabaya diramaikan mahasiswa Ambisi (Aliansi Mahasiswa Bidik Misi) yang melaksanakan pengenalan anggota baru ambisi (Penabara) sekaligus pelantikan pengurus baru Ambisi. Penabara menjadi gerbang awal calon anggota untuk mengetahui, memahami dan mengenal Ambisi. Penabara juga menjadi forum silaturrahmi antara senior dengan anggota baru untuk merekatkan emosional serta menyatukan visi dan misi mahasiswa berprestasi, sehingga nantinya mampu menciptakan gebrakan baru untuk perubahan bangsa.

Dengan tema Teguhkan Ambisimu, Create Your Dream itu dibuka langsung Pembantu Rektor III IAIN Sunan Ampel Surabaya, Prof Dr. Saiful Anam MAg. Dalam sambutannya beliau menuturkan, beasiswa Bidik Misi dikhususkan kepada mahasiswa berprestasi dari kalangan kurang mampu dalam segi ekonomi agar bisa menikmati pendidikan tinggi dan menjadi manusia unggul demi kemajuan bangsa.

Konsep Penabara tahun ini sengaja dibuat beda, selain pelantikan pengurus baru, panitia juga mendatangkan motivator sekaligus master mind empowerment dan hipnoterapy, Yustinus Arianto atau Xanana Gus Trainer yang mentraining hipnoterapi peserta. Xanana menjelaskan bahwa hipnotis itu tak selamanya digunakan untuk hal-hal negatif. Hipnotis dapat digunakan sebagai motivasi. Dalam dunia kedoteran dikenal dengan program hypnoseling. Di dunia pendidikan dengan menerapkan hypnoteaching, dan lain sebagainya.

Peserta dijelaskan mengenai kunci mengakses dan memanfaatkan kekuatan pikiran sendiri. Kunci itu adalah rileks, fokus, sugesti dan imajinasi. Dengan mengetahui kunci pikiran, kita juga bisa membantu orang lain dalam mengatasi masalah psikologisnya dengan cara mudah.

Diajarkan pula konsep hipnotis, dasar hypnotherapy, stage hypnosis, street hypnosis, hypnosleep, dan self hypnosis dengan cara pengajaran yang terbukti berhasil. Pelatihan ini sengaja didesain bagi pemula yang ingin langsung bisa mempraktikkan hipnotis untuk permainan terapi masalah psikologis maupun dalam penerapan dalam berbagai bidang.

Di sela-sela materi Xanana menampilkan tayangan-tayangan motivasi. Seperti Nick Vujicic, seseorang yang terlahir tanpa tangan dan kaki tidak sempurna namun mampu menjalani hidupnya dengan penuh semangat. Bahkan sampai saat ini ia menjadi motivator terbaik di Australia.

Di akhir acara, dengan gaya khas seorang motivator, Xanana mengajak peserta berselancar di dunia avatar, yakni dunia masa depan dengan cara berimajinasi di alam bawah sadar. Dalam keadaan tidur theta yakni tidur yang belum benar-benar tidur, masih setengah sadar, peserta digiring dengan sugesti seakan-akan berada di masa lima atau sepuluh tahun ke depan. Setelah peserta bangun mereka dapat merasakan energi semangat untuk mewujudkan apa yang telah dialami di masa depannya itu.

Minggu, 07 Oktober 2012

Mengenal Samin dan Ajarannya


Tulisan ini merupakan salah satu dari teks historis-sosiologis yang mencoba disuguhkan untuk mengenal suatu masyarakat secara komprehensif dan mendalam. Tulisan ini diharapkan menjadi suguhan kepada pembaca secara berbeda, karena sampai saat ini masih kentalnya pengetahuan masyarakat akan orang Samin tidak beda dengan masyarakat yang terbelakang, terisolir, dan anti kemajuan. Karena penulis khawatir dari kesekian kalinya kekerasan pada pemeluk aliran kepercayaan sering dipertontonkan, dan sangat mungkin terjadi pada pada entitas masyarakat Samin.
Tulisan ini merujuk dari berbagai sumber, termasuk buah tangan Sastroatmodjo (2003), film dokumenter mas Arto di Studio 12 Ungaran, dan hasil diskusi hasil KKL (Kuliah Kerja Lapangan) pada saat duduk di bangku kuliah di Program Studi Pendidikan Sosiologi & Antropologi Unnes.

Sejarah Munculnya Saminisme
Otak intelektual gerakan Saminisme adalah Raden Surowijoyo. Pengetahuan intelektual Kyai Samin ini didapat dari ayah, yaitu anak dari pangeran Kusumaniayu (Bupati Sumoroto, yaitu kawasan distrik pada kabupaten Tulungagung Jawatimur). Lelaki kelahiran tahun 1859 di Ploso ini sejak dini dijejali dengan pandangan-pandangan viguratif pewayangan yang mengagungkan tapabrata, gemar prihatin, suka mengalah (demi kemenangan akhir), dan mencintai keadilan.
Beranjak dewasa, dia terpukul melihat realitas yang terjadi, yaitu banyaknya nasib rakyat yang sengsara, dimana Belanda pada saat itu sangat rajin melakukan privatisasi hutan jati dan mewajibkan rakyat untuk membayar pajak. Pada saat itulah, Raden Surowijoyo melakukan perampokan pada keluarga kaya dan hasilnya dibagi-bagi kepada fakir miskin. Dia juga menghimpun para berandalan di Rajegwesi dan Kanner yang di kemudian hari menyusahkan pihak Gupermen. Pada saat itulah, Kyai keturunan bangsawan ini dikenal oleh masyarakat kecil dengan sebutan Kyai Samin yang berasal dari kata “sami-sami amin” yang artinya rakyat sama-sama setuju ketika Raden Surawijoyo melakukan langkah memberandalkan diri untuk membiayai pembangunan unit masyarakat miskin.
Kyai Samin Surosantiko tidak hanya melakukan gerakan agresif revolusioner, dia juga melakukan ekspansi gagasan dan pengetahuan sebagai bentuk pendekatan transintelektual kaum tertindas (petani rakyat jelata) dengan cara ceramah di pendopo-pendopo pemerintahan desa. Isi ceramah ini yaitu keinginan membangun kerajaan Amartapura. Adapun pesan substantif yang didengung-dengungkan yaitu meliputi; jatmiko (bijaksana) dalam kehendak, ibadah, mawas diri, mengatasi bencana alam, dan jatmiko selalu berpegangan akan budi pekerti.
Namun, akhir pergerakan dari Kyai Samin Surosantiko dicekal oleh Belanda dan ia dibuang ke Tanah Lunto pada tahun 1914, yang belum sempat mengaktualisasikan seluruh ide-idenya. Bukan hanya otak pergerakannya, bahkan kitab orang Samin yang ditulisnya juga disita yang berjudul Serat Jamus Kalimasada, demikian pula dengan kitab-kitab pandom kehidupan orang-orang Samin.
Kyai Samin Surosantiko merupakan generasi Samin Anom yang melanjutkan gerakan dari sang Ayah yang disebut sebagai Samin Sepuh. Sehingga pada masa kepemimpinannya, ajaran Saminisme terbagai dalam dua sekte, yaitu sekte Samin Sepuh dan sekte Samin Anom. Siklus kepemimpinan ini secara mati-matian berusaha menciptakan masyarakat yang bersahaja lahir dan batin. Kyai Samin memiliki sikap puritan, dia bukanlah petani biasa, namun dia adalah cucu dari seorang pangeran. Kyai Samin adalah orang yang gigih dalam menggoreskan kalam untuk membagun insan kamil dengan latar belakang ekonomi yang mapan.

Inti Ajaran
Masyarakat Samin (Saminisme) memiliki tiga unsur gerakan. Pertama, gerakan yang mirip organisasi proletariat kuno yang menentang sistem feodalisme dan kolonial dengan kekuatan agraris terselubung. Kedua, gerakan yang bersifat utopis tanpa perlawanan fisik yang mencolok. Ketiga, gerakan yang berdiam diri dengan cara tidak membayar pajak, tidak menyumbangkan tenaga untuk negeri, menjegal peraturan agraria dan pengejawantahan diri sendiri sebagai dewa suci.
Menurut Kartodirjo, gerakan Samin adalah sebuah epos perjuangan rakyat yang berbentuk “kraman brandalan” sebagai suatu babak sejarah nasional, yaitu sebagai gerakan ratu adil yang menentang kekuasaan kulit putih. Ajaran Samin bersumber dari agama Hindhu-Dharma. Beberapa sempalan ajaran Kyai Samin yang ditulis dalam bahasa Jawa baru yaitu dalam bentuk puisi tradisional (tembang macapat) dan prosa (gancaran).
Secara historis ajaran Samin ini berlatar dari lembah Bengawan Solo (Boyolali dan Surakarta). Ajaran Samin berhubungan dengan ajaran agama Syiwa-Budha sebagai sinkretisme antara Hindhu-Budha. Namun pada perjalanannya ajaran di atas dipengaruhi oleh ajaran ke-Islaman yang berasal dari ajaran Syeh Siti Jenar yang dibawa oleh muridnya yaitu Ki Ageng Pengging. Sehingga patut dicatat, orang Samin merupakan bagian masyarakat yang berbudaya dan religius.
Daerah persebaran ajaran Samin menurut Sastroatmodjo (2003) di antaranya di Tapelan (Bojonegoro), Nginggil dan Klopoduwur (Blora), Kutuk (Kudus), Gunngsegara (Brebes), Kandangan (Pati), dan Tlaga Anyar (Lamongan). Ajaran di beberapa daerah ini merupakan sebuah gerakan meditasi dan mengerahkan kekuatan batiniah guna menguasai hawa nafsu.
Perlawanan orang Samin sebenarnya merefleksikan kejengkelan penguasa pribumi setempat dalam menjalankan pemerintahan di Randublatung. Tindakan perlawanan ini dalam bentuk gerakan mogok membayar pajak, mengambil pohon kayu di hutan semaunya, bepergian tanpa membayar karcis kereta, dan sebagainya. Perbuatan di atas membuat Belanda geram dan menyinggung banyak pihak yang menimbulkan kontradiksi yang tak kunjung padam dan membara.
Pandangan orang Samin terhadap pemimpinnya sampai saat ini masih mengakui bahwa Kyai Samin tidak pernah mati, Kyai Samin hanya mokhsa dan menjadi penghuni kaswargan. Tokoh ini dimitoskan secara fanatik, bahkan pada momentum perayaan upacara rasulan dan mauludan sebagai ajang untuk mengenang kepahlawanan Kyai Samin. Setiap pemuka masyarakat Samin selalu berbegangan sejenis primbon (kepek) yang mengatur kehidupan luas, kebijaksanaan, petunjuk dasar ketuhanan, tata pergaulan muda-mudi, remaja, dewasa, dan antarwarga Samin.
Bahasa yang digunakan oleh orang Samin yaitu bahasa Kawi yang ditambah dengan dialek setempat, yaitu bahasa Kawi desa kasar. Orang Samin memiliki kepribadian yang polos dan jujur, hal ini dapat dilihat setiap ada tamu yang datang, orang Samin selalu menyuguhkan makanan yang dimiliki dan tidak pernah menyimpan makanan yang dimilikinya. Pengetahuan orang Samin terhadap rites perkawinan adalah unik, mereka menganggap bahwa dengan melalui rites perkawinan, mereka dapat belajar ilmu kasunyatan (kajian realistis) yang selalu menekankan pada dalih kemanusiaan, rasa sosial, kekeluargaan dan tanggung jawab sosial.

Mulai Mengalami Perkembangan
Seiring berkembangya zaman yang menuntut masyarakatnya untuk berkembang, membuat orang Samin pun harus mengalamu perkembangan. Mereka percaya, bahwa dalam menuju kemajuan harus dilalui dengan marangkak lambat. Maju itu melalui proses, dan proses itu perlu tahapan-tahapan yang menjadi tangga untuk menjadi mayarakat yang maju. Hal ini dapat dilihat dengan perilaku menolak mesin seperti traktor, huller, dan lain-lain yang sekarang sudah mulai menerima. Yang dulunya hanya memakai pakaian kain yang didominasi warna hitam dengan bahan yang terbuat dari kain kasar, saat ini sudah mengalami perubahan.
Dalam hal kepercayaan dan tata cara hidup suku Samin juga mengalami perkembangan. Kawasan daerah Pati dan Brebes, terdapat sempalan Samin yang disebut Samin Jaba dan Samin Anyar yang telah meninggalkan tatacara hidup Samin dahulu. Selain itu, di Klapa Duwur (Blora), Purwosari (Cepu), dan Mentora (Tuban) dikenal wong sikep, mereka ini dulunya fanatik, tapi kini meninggalkan arahan dasar dan memilih agama formal, yakni Budha-Dharma.
Selain itu ada beberapa pikiran orang Samin yang perlu kita cermati, di antaranya; menguasai adanya kekuasaan tertinggi (sang Hyang Adi Budha), ramah dan belas kasih terhadap sesama mahluk, tidak terikat kepada barang-barang dunia-kegembiraan-dan kesejahteraan, serta memelihara keseimbangan batin di kalangan antar warga. Orang Samin dengan jelas mencita-citakan membangun negara asli pribumi, yang bebas dari campur tangan orang kulit putih, tiada dominasi barat satupun.
Ajaran politik yang dikenalkan pada suku Samin dan patut untuk kita ambil pelajaran adalah bahwa orang-orang samin sangat cinta dan setia kepada amanat leluhur, kearifan tua, cinta dan hormat akan pemerintahan yang dianggap sebagai orang tua dan sesepuh rohani, hormat dan setia pada dunia intelektual. Itu yang harus kita tiru. (aldo el-fauzy)

Minggu, 23 September 2012

Antara HAM dan Liberalisme


Oleh: Muhammad Ali Murtadlo*)
Mungkin masih banyak yang belum mengerti bahwa setiap tanggal 10 Desember diperingati sebagai hari Hak Asasi Manusia (HAM) Sedunia. Namun, tidak jarang pula yang mengetahui bahwa tanggal tersebut diperingati sebagai hari HAM sedunia. Setidaknya, dengan membaca tulisan ini maka anda akan memahami.
Hak Asasi Manusia merupakan hak-hak alami yang dimiliki oleh manusia. Umat manusia memilikinya bukan karena diberikan oleh masyarakat atau berdasarkan hukum positif, melainkan semata-mata berdasarkan martabatnya sebagai manusia. Jadi, HAM adalah anugerah Tuhan kepada manusia dan menjadi hak paten bagi setiap individu.
Secara Internasional, Hak Asasi Manusia (Human Rights) diatur dalam Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (The High Commissioner of Human Rights) dibawah naungan Organisasi dunia, PBB. Di Indonesia sendiri badan khusus yang menangani HAM adalah Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) yang termasuk Lembaga Independen Negara.
Melihat fakta yang ada, sampai sejauh ini praktik penegakan HAM Indonesia masih belum terlaksana dengan baik. Meskipun sudah terdapat legislasi yang menjamin perlindungan HAM, namun masih banyak diskriminasi dan keberpihakan secara negatif oleh aparat hukum dan pemerintah. Mulai dari tragedi Tanjung Priok (1984) yang menewaskan banyak korban, tragedi pelanggaran HAM di Poso, Ambon, hingga kasus terbunuhnya tokoh pejuang HAM, Munir, dan yang baru-baru ini adalah maraknya protes atas film pelecehan nabi Muhammad "Ennounce of muslim" yang katanya atas nama kebebesan berekspresi, dan masih banyak kasus pelanggaran HAM lainnya.
Terlepas dari sederetan kasus pelanggaran HAM yang telah terjadi di Tanah Air yang mungkin tidak akan pernah tuntas untuk diusut. Sekarang kita lebih ke memaknai arti Hak Asasi Manusia dalam perspektif Islam. Dalam Islam, HAM bukan diartikan sebagai hak manusia untuk melakukan kebebasan berekspresi, namun lebih ke pemenuhan hak-hak sebagai manusia secara bebas dan merdeka. Akan tetapi, bebas dan merdeka disini berarti masih dalam koridor yang wajar-wajar saja, tanpa melewati batas-batas kebebasan yang ada. Dalam arti, manusia boleh melakukan segala sesuatu yang dikehendaki, namun juga harus tetap memperhatikan sejauh mana sesuatu itu diperbolehkan.

Apa itu Liberalisme?
Kata Liberalisme berakar dari bahasa Latin, liber, yang artinya “bebas” atau “merdeka”. Hingga penghujung abad ke-18 Masehi, istilah ini terkait erat dengan konsep manusia merdeka. Pakar sejarah Barat biasanya menunjuk motto Revolusi Perancis (1789): kebebasan, kesetaraan dan persaudaraan (liberté, égalité, et fraternité) sebagai piagam agung (magna charta) liberalisme modern.
Liberalisme juga bisa diartikan sebagai kebebasan untuk betindak, kebebasan untuk berbeda pendapat, kebebasan untuk memeluk agama, dan berbagai bentuk kebebasan yang berkaitan dengan terpenuhinya tuntutan Hak Asasi Manusia (HAM) dan demokratisasi.
Prinsip liberalisme yang paling mendasar ialah pernyataan bahwa tunduk kepada otoritas  adalah bertentangan dengan hak asasi, kebebasan dan harga diri manusia. Otoritas yang dimaksud disini yakni otoritas yang akar, aturan, ukuran, dan ketetapannya ada di luar dirinya. Di sini kita mencium bau faham sophisme dan relativisme ala falsafah Protagoras yang mengajarkan bahwa "manusia adalah ukuran dari segalanya", sebuah doktrin yang kemudian diberhalakan oleh para penganut teori Nihilisme. Teori yang percaya pada kenyataan bahwa semua yang dilakukan manusia adalah sia-sia.
Dalam politik, liberalisme dimaknai sebagai sistem dimana Negara tidak boleh mencampuri "privacy" warga-negara, Negara tidak boleh mencampuri urusan moral individu. Sementara di bidang ekonomi, liberalisme merujuk pada sistem pasar bebas di mana intervensi pemerintah dalam perekonomian tidak dibolehkan sama sekali. Dalam hal ini liberalisme identik dengan kapitalisme.
Di wilayah sosial, liberalisme berarti emansipasi perempuan, penyetaraan gender, pupusnya kontrol sosial terhadap individu dan runtuhnya nilai-nilai kekeluargaan. Perempuan dibiarkan menentukan nasibnya sendiri, tak seorang pun berhak dan boleh memaksa ataupun melarangnya untuk melakukan sesuatu. Ini yang kemudian melahirkan paham kebebasan yang sebebas-bebasnya bagi kaum hawa.

Liberalisme dalam Islam
Dalam urusan agama, liberalisme mereduksi agama menjadi urusan privat. Prinsip amar ma'ruf nahi mungkar bukan saja dinilai tidak relevan, bahkan dianggap bertentangan dengan semangat liberalisme. Oleh karena itu, kaum liberal beranggapan asal tidak merugikan pihak lain, orang yang berzina, berseks-bebas, jika dilakukan atas dasar suka sama suka, maka dianggap sah-sah saja dan tidak boleh dihukum. Anggapan semacam ini yang dinilai sebagai kebebasan yang keblabasan.
Di dunia Islam virus liberalisme juga berhasil masuk ke kalangan cendekiawan yang konon dianggap sebagai "pembaharu". Seperti: Rifa`ah at-Tahtawi (1801-1873 M), Qasim Amin (1863-1908 M) dan Ali Abdur Raziq (1888-1966 M) dari Mesir, Sayyid Ahmad Khan (1817-1898 M) dari India.
Pada abad ke-duapuluh muncul pemikir-pemikir islam yang juga tidak kalah liberal seperti Fazlur Rahman, Mohammad Arkoun, Nasr Hamid Abu Zayd, Mohammad Shahrour dan pengikut-pengikutnya di Indonesia yang bersekongkol dalam wadah yang menamakan dirinya Jaringan Islam Liberal (JIL).
Benih-benih liberalisme Islam sebenarnya sudah lama tertanam di Indonesia. Pada tahun 60-an Greg Balton telah membahas gagasan Islam liberal di Indonesia. Berawal dari penelitian disertasi Greg Balton, kemudian bertebarlah buku-buku wacana gerakan pemikiran umat Islam di Indonesia. Hingga akhirnya muncullah JIL (Jaringan Islam Liberal) dibawah naungan Ulil Abshor Abdalla dkk, yang pada pokoknya mengajarkan liberalisme yang dibungkus oleh kemasan Islami.
Pemikiran dan pesan-pesan yang ditawarkan para tokoh liberal itu sebenarnya adalah mengajarkan ajaran Islam yang harus disesuaikan dengan perkembangan zaman. Al-Qur'an dan Hadits yang kemudian dikritisi dan ditafsirkan ulang menggunakan pendekatan historis, hermeneutis dan sebagainya. Sehingga pada akhirnya melahirkan ajaran Islam yang menyimpang dari konsep yang sejatinya.
Kesimpulannya sekarang adalah bahwa Hak Asasi Manusia semata-mata adalah hak yang dianugerahkan oleh Allah untuk mentaati semua aturan-aturan yang sudah ditetapkan-Nya melalui syariat agama, bukan hak untuk merubah konsep-konsep agama dengan menafsirkan konsep tersebut dengan sebebas-bebasnya. Memang, zaman sekarang sudah tidak sama lagi dengan zaman terdahulu, namun konsep Islam tetaplah relevan walaupun zaman telah mengalami perubahan. Yang terpenting adalah jangan mudah terpengaruh dengan konsep baru yang ditawarkan, tetaplah berpegang teguh dengan keyakinan awal, yaitu islam berhaluan ASWAJA. Waallahu a’lam bishowab !
*)Mahasiswa Penerima Beasiswa Bidikmisi, Fakultas Syariah Jurusan Ahwalus Syakhsiyah (AS/III) IAIN Sunan Ampel Surabaya.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India