Sebaik-baik Manusia Adalah Orang yang Bermanfaat Bagi Sesama (H.R Buchori Muslim)
“Hidup adalah perjalanan waktu dan perpindahan tempat. Kapan pun dan di mana pun kita berada, haruslah memberi manfaat bagi sesama, karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Learn, Share, Success! (Muhammad Ali Murtadlo)”

Thursday, 18 October 2012

Seharian di Shangri-la, Ikuti Seminar Lingkungan dan Penanggulangan Bencana


Minggu, 15 oktober lalu saya dan rekan-rekanita IPNU-IPPNU IAIN Sunan Ampel Surabaya mengikuti seminar nasional yang bertajuk Lingkungan Hidup Dan Penanggulangan Bencana. Acara tersebut dihelat di Hotel Shangri-la, Jl. Mayjend Sungkono, oleh Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) bekerjasama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Saya berangkat kesana bersama sekitar tiga puluhan anak. Kami agak sedikit telat. Schedule normalnya pukul 08.00 sudah dimulai, namun pukul 09.00 kami baru tiba disana. Kami masuk diruang seminar setelah sebelumnya sempat salah tempat. Lokasinya di lantai 2, kami malah naik di lantai 3. Maklum, karena tidak ada tanda-tanda sama sekali dari panitia dan informasi pun masih belum jelas, hanya tahu bahwa tempatnya adalah di Hotel Shangrila.
Saya masuk mendapat giliran ke-tiga dari ke-tiga puluh anak ini. Setelah saya mengisi daftar hadir langsung melangkahkan kaki menuju pintu masuk. Di dalam ruangan sudah banyak peserta seminar. Saya memilih tempat di deretan tengah bagian belakang. Bersama rekan Afwan (Ketua Ipnu) dan rekan shofi saya mulai mengikuti khidmat acara, kebetulan acara baru pembukaan dan memasuki sesi sambutan.
Saya dan beberapa rekan, masuk ke ruangan tanpa membawa apa-apa, tanpa dikasih apa-apa. Seyogyanya dalam seminar ataupun acara apapun pasti ada lah kalau hanya sekedar minum, tapi kali ini kami nggak dikasih. Mungkin karena kehabisan atau karena kami dating telat, saya nggak tahu. Akhirnya kira-kira hampr 3 jam kami menahan lapar dan haus, bukan itu saja saya malah harus bertahan melawan kantuk.
Namun, akhirnya setelah sabar menunggu, kira-kira pukul 12;30 seminar sesi pertama selesai dan dilanjutkan Coffe Break. Karena saking banyaknya peserta, Saya hanya kebagian teh, tidak kebagian makanan (jajan).
Setelah Coffe Break selesai, ini yang saya tunggu-tunggu, waktunya makan siang. Acara ini tergolong cukup mewah, tentu menu makanannya juga mewah. Apalagi lokasinya di Hotel bintang lima tentu menu makanannya enak-enak. Cara makannya bukan seperti di warung tapi berupa prasmanan, ambil sesukanya, tak ada larangan mau ngambil apa, tapi tentunya harus sesuai batas kewajaran.
Yang paling berkesan saat itu adalah ketika saling bercanda bersama rekan dan rekanita. Seolah-olah tak ada sekat, seolah-olah kita adalah keluarga. Padahal sebelumnya belum pernah mengenal sedekat ini, Apalagi ketika foto-foto, Hmmmm, pada narsis sendiri-sendiri. Maklum baru pertama kali berkunjung ke hotel bintang lima semacam shangrila.
Seminar yang bertemakan “Membangun Komitmen Kebersamaan dalam Penanganan Masalah Lingkungan dan Penanggulangan Bencana“ ini ada 2 sesi. Sesi pertama selesai sebelum Coffe Break. Kira-kira pukul 12:30 WIB kemudian dilanjutkan sesi kedua, 13:30 WIB. Waktu satu jam dianggap cukup untuk sekedar Istirahat Sholat dan Makan (Ishoma).
Yang saya herankan dari hotel-hotel mewah di negeri ini (padahal mayoritas beragama islam) namun tempat sholat saja sulit ditemukan. Salah satunya di hotel Shangri-la ini. Mushola sih ada cuma tidak terlalu diprioritaskan, hanya sekedar ada. Musholanya berada dilantai bawah, diluar hotel terletak di pojok, kecil, hanya kira-kira ukuran 4x4 M. Bisa dibayangkan tempat seluas itu pasti cuma bisa diisi bebrepa orang, sepuluh orang saja tidak muat. Tempat wudlunya pun hanya seadanya. Sehingga untuk sholat kami harus bergantian.
Dalam seminar tersebut yang dapat saya tangkap dan pahami adalah bahwa kita sebagai manusia selain mempunyai hubungan dengan sang pencipta (Hablum minaAllah) dan hubungan dengan manusia (Hablum minannas) kita juga mempunyai hubungan dengan lingkungan (Halum MinalAlam). Untuk itu kita sebagai penduduk bumi harus melestarikan lingkungan. Karena lingkungan sebenarnya adalah manusia itu sendiri. Siapa yang menjaga lingkungan berarti telah menjaga manusia. Sebaliknya, siapa yang merusak lingkungan berarti merusak manusia dan juga merusak peradaban manusia.
Dalam sambutannya Prof. Kacung Marijan (Guru Besar Unair) mengatakan bahwa Alam sebelum adanya eksplorasi dan eksploitasi manusia, itu apa adanya. Namun setelah adanya eksplorasi dan eksploitasi manusia maka alam menjadi adanya seperti sekarang. Beliau menambahkan bahwa tugas manusia bukan hanya mengeksplorasi dan mengeksploitasi , lebih dari itu, manusia berkewajiban mengelola untuk manusia sendiri demi keberlangsungan hidup. Eksplorasi dan eksploitasi secara berlebihan akan berimplikasi kepada bencana. Untuk itu diperlukan kesadaran dan tanggung jawab bersama, baik penguasa, pengusaha maupun masyarakat secara keseluruhan.
Saya tidak dapat menangkap secara keseluruhan apa yang disampaikan oleh masing pemateri, karena pemateri  ada Tujuh orang, bahkan saya tidak ingat nama-namanya. Namun yang paling berkesan dan mengena adalah apa yang disampaikan oleh Dr. H, Suparto Wijaya, Pakar Lingkungan Unair, Surabaya. Doktor asal lamongan ini membuat suasana ruangan sedikit mencair. Dengan gaya kocaknya dia menuturkan tentang ironi (maaf) sebuah tinja. Mengambil contoh di Surabaya sendiri, setiap hari orang akan buang air besar, katakanlah satu orang sekali buangan kira 1 Kg dalam sehari, jika dalam sebulan berarti 30 Kg tinja yang terbuang. Itu baru satu orang,  bisa dibayangkan penduduk Surabaya ada berapa sampai saat ini, tinggal mengalikan saja.
Pertanyaannya, apakah sudah ada yang memikirkan itu dan memikirkan langkah apa yang bisa dilakukan untuk memanfaatkan kotoran manusia tadi? Itu yang menjadi perbincangan unik sekaligus kocak pada seminar kali itu. Sontak peserta dibuat tertawa oleh Doktor suparto.
Dari pemaparan beberapa pemateri itu saya dapat menarik kesimpulan bahwa menjaga lingkungan berarti menjaga manusia. Menjaga manusia berarti menjaga keberlangsungan hidup. Menjaga keberlangsungan merupakan bukti cinta akan hidup, karena tugas kita hidup adalah sebagai khalifah fil Arld (Pemimpin, Perawat akan kehidupan di Bumi). Untuk itu melestarikan lingkungan adala tugas dan tanggung jawab kita bersama.
Seminar usai kira-kira pukul 15;30 kemudian dilanjutkan dengan upacara penutupan. Setelah selesai, kembali ada Coffe Break yang kedua. Kami dipersilahkan menikmati hidangan. Ada teh atau kopi, tinggal ambil sesuai selera. Ada juga makanan yang saya tidak tahu namanya, namun enak juga rasanya. Sekali lagi yang paling berkesan adalah saat bercengkerama, bercanda bersama rekan-rekanita. Ini tak mungkin akan pernah terlupa.
Pukul 17;00 kami harus sudah meninggalkan hotel, karena kontrak untuk menggunakan hotel berakhir setelah pukul 17:00. Setelah itu, akan dipakek prosesi pernikahan oleh sherly dan irawan. Sebenarnya saya tidak tahu mereka siapa, namun saya tahu namanya dari banyaknya ucapan selamat berbahagia yang berjajar di depan hotel.
Si kuning dan si hijau sudah lama menunggu. Pak sopir kami pun sudah tidak sabar lagi ingin menjalankan mobilnya dan mengangkut kami. Akhirnya, kami pulang dengan membawa sertifikat, uang transport dan tentunya membawa pengalaman berharga yang akan terkenang menjadi bagian dari sejarah hidup.
O ya, saya teringat dengan kata-kata Dr. Ali Masykur Moesa, M.Si, Ketua Umum PP ISNU, dan ini menjadi mottonya dan motto ISNU “Dari Kontemplasi Menuju Aksi”. Kita bisa renungkan dan syukur-syukur bisa mengamalkan.

Muhammad Ali Murtadlo, Sekretaris Umum PK.PT IPNU IAIN Sunan Ampel Surabaya.
Reaksi:

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India