Sebaik-baik Manusia Adalah Orang yang Bermanfaat Bagi Sesama (H.R Buchori Muslim)
“Hidup adalah perjalanan waktu dan perpindahan tempat. Kapan pun dan di mana pun kita berada, haruslah memberi manfaat bagi sesama, karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Learn, Share, Success! (Muhammad Ali Murtadlo)”

Jumat, 09 November 2012

Mengukir Kenangan dalam Kebersamaan (Pengalaman Mengikuti AICIS)


          Rabu, 07 November lalu saya bersama kawan-kawan Ambisi menghadiri acara AICIS (Annual International Conference On Islamic Study). Acara tersebut bertempat di Empire Palace Hotel, Surabaya. Sebenarnya acara ini sudah berlangsung sejak 5 November lalu, mala mini adalah malam puncak, malam penutupan. Kami berangkat pukul 17:00 WIB, bersama kira-kira 80 anak dengan berbagai latar belakang dan niat berbeda-beda.
AICIS merupakan agenda tahunan yang dihelat oleh Direktoral Jenderal Pendidikan Tinggi Islam Kementerian Agama RI. Tahun ini bekerjasama dengan IAIN Sunan Ampel Surabaya. Acara yang dihadiri oleh kalangan intelektual dari berbagai Perguruan Tinggi Islam di Indonesia itu terlihat begitu mewah. Dengan tempat begitu nyaman, fasilitas mendukung, dan pelayanan terjamin membuat acara kondusif dan pastinya eksklusif.
Bagi saya menghadiri acara yang bertempat di Hotel Bintang Lima serta bertaraf International merupakan kebanggaan tersendiri. Meskipun bukan merupakan peserta aktif, setidaknya bisa menikmati jalannya acara, dan menikmati segala fasilitas layaknya peserta penuh. Bisa menikmati sajian makanan, minuman dan berbagai hidangan lainnya. Seperti raja dalam semalam, ungkapan itu kira-kira yang cocok untuk saya khususnya, dan bagi kawan-kawan Ambisi pada umumnya.
Satu Jam Bersama Dahlan Iskan
Selain itu, yang paling berkesan adalah saya bisa bertemu langsung dengan Pak Dahlan Iskan, Menteri BUMN, yang saat itu menjadi pemateri dalam seminar terbuka. Pak Dahlan merupakan tokoh favorit saya dan jutaan masyarakat Indonesia. Bukan sekedar bertemu, bahkan saya berdampingan langsung ketika beliau menandatangani pakta anti plagiarisme di atas kain putih yang memanjang di depan ruangan. Meskipun harus berdesak-desakan dengan wartawan saya berusaha untuk lebih dekat dengan beliau.
Ketika memasuki ruangan, saya pun ikut mengekor di belakangnya, namun tidak sampai di depan, hanya di tengah-tengah. Kemudian saya bergegas mencari tempat duduk. Saya duduk di deretan kursi yang sebenarnya khusus untuk para dosen-dosen, guru besar dan orang top lain. Tapi tidak masalah, tidak ada yang mengusir saya.
Ketika Pak Dahlan naik ke podium sontak ruangan ramai oleh suara tepuk tangan. Tepuk tangan semakin riuh saat beliau memulai menyampaikan seminar terbuka. Bagi saya yang membuat istimewa adalah kesederhanaan, kewibawaan, kharismatik, komitmen dan optimitas dari beliau sungguh sangat besar.
Saat itu beliau menceritakan perjalanan hidup dari kecil sampai sekarang, menjadi Menteri BUMN. Sedikit banyak saya sudah paham mengenai perjalanan hidup beliau waktu kecil sampai dewasa lewat novel Sepatu Dahlan. Dari sepatu dahlan itu saya mendapat suntikan semangat, optimis bahwa orang miskin bukan berarti harus selalu menderita. Lulusan MA bukan menjadi alasan untuk tidak bisa menjadi orang sukses. Menyimak perjalanan hidup P. Dahlan membuat saya semakin yakin suatu saat nanti saya akan meraih kesuksesan seperti beliau.
Dari kisah pak Dahlan setidaknya mampu menginspirasi semua orang yang benar-benar mempunyai harapan. Pak dahlan menjelaskan bahwa kehidupannya berubah semenjak beliau merantau ke Samarinda, setelah beliau lulus MA. Beliau pun memberi tips bahwa merantau adalah kunci kesuksesan. Merantau merupakan momentum besar untuk lepas dari belenggu masa lalu. Dengan merantau itu terputuslah hubungan apapun, beban social, dan akan lepas dari romantisme masa lalu, termasuk lepas dari cinta.
Meskipun dari keturunan pesantren beliau tidak mau menjadi Kyai. Karena beliau keturunan pesantren dari pihak ibu tentunya tidak patut untuk menggantikan menjadi kyai. Yang lebih berhak meneruskan estafet pesantren adalah keturunan dari pihak ayah. Untuk itu dari pada nantinya menjadi mantan kyai akhirnya beliau memutuskan untuk merantau. Terbukti dengan merantau sekarang beliau bisa menjadi Menteri BUMN.
Beliau membayangkan, seandainya dulu tidak merantau paling-paling hanya bisa menjadi kepala desa. Jabatan itu sudah termasuk wah, seukuran orang kampung. Seandainya tidak merantau mungkin saat ini sudah menjadi suami dari cewek kampung yang dulu dekat dengan beliau, dst. Intinya, dengan merantau akan mendapat ganti yang lebih baik. Seperti apa yang dikatakan Imam Syafi’I (Syaafir Tajid Iwadlon Amman Tufarikuhu).
Ketika kuliah di IAIN Samarinda, beliau masuk dalam sebuah organisasi Pergerakan Islam. Bahkan pernah mencalonkan sebagi ketua pimpinan pusat pada saat itu. Namun akhirnya kalah dengan lawannya. Beliau pun sering diskusi dengan kawan-kawannya pada saat itu mengenai banyak hal. Salah satunya tentang, kenapa setiap sekolah yang terbaik pasti katholik, setiap Rumah sakit terbaik pasti dari katholik, surat kabar terbaik pun punyanya khatolik, namun mereka tampaknya tidak bisa menemukan titik temu.
Berawal dari “Ruuhul Jihad” untuk menjadikan Surat kabar terbaik adalah milik orang islam, akhirnya beliau mulai menggeluti dunia Jurnalistik. Beliau aktif di Ikatan Pers Mahasiswa pada saat itu. Awal karier beliau All Out tidak diganggu dengan apapun, termasuk ganguan dari kekalahannya mencalonkan sebagai Pimpinan Pusat Sebuah organisasi pergerakan Islam. Dan itu akhirnya terbukti beliau berhasil menjadi wartawan Tempo, dan bahkan mampu menjadi Direktur Utama Jawa Pos Group (Koran terbesar) sampai saat ini, dan menjadi Big Bos di JP Group. Dan ditengah kesibukannnya menjadi menteri, beliau masih menulis yang setiap hari senin dimuat di Manufacturing Hope (MH) Jawa Pos. Tulisannya pun tidak sembarang tulisan, namun enak dibaca dan mengena. Saya menjadi pembaca setia tulisan-tulisan beliau.
Acara semakin seru saat beliau memaparkan ke optimisannya, bahwa 15 tahun kedepan Indonesia akan menjadi Negara Maju. Indonesia akan mengalahkan spanyol, Italia, Prancis, Jepang, Tiongkok dll. Optimitas itu bukan hanya sekedar omongan, dengan bukti pertumbuhan Indeks Ekonomi Makro Indonesia yang mengalami kenaikan setiap tahunnya. Lihat saja sekarang, berapa banyak mobil yang memadati jalan raya, sampek terjadi kenacetan setia harinya. Bisa jadi, 5 tahun kedepan jumlah mobil akan menjadi 2x lipat jumlah mobil sekarang.
Untuk menjadi Negara maju, akan menjadi keniscayaan bagi Indonesia. Caranya harus dengan by design, by kesadaran. Dengan cara memetakan SDM yang ada di Indonesia. Berapa persen sarjana tehnik, berapa persen sarjana geologi, berapa persen pula sarjana akuntasi dan sarjana-sarjana lain agar ada kesinambungan saling membangun di bidangnya masing-masing. Jangan-jangan Indonesia saat ini sedang over di sarjana social, itu yang harus dipecahkan.
Ada 136 juta penduduk Indonesia yang sudah mempunyai fikiran untuk maju. mereka sudah tidak lagi memikirkan besok akan makan apa, minggu depan akan makan apa, lebaran tahun depan bisa beli baju baru atau tidak. Mereka sudah tidak lagi mikir tentang itu. yang mereka fikirkan adalah masa depan. Besok harus bisa membeli motor baru, mobil baru, bahkan membeli rumah baru, dll. Itu yang mereka fikirkan. Sehingga mau tidak mau mereka harus bekerja, bekerja dan bekerja.
Namun masih banyak jebakan untuk merealisasikan hal itu. Jebakan utama adalah masalah birokrasi. Tidak dapat dipungkiri birokrasi merupakan kendala utama. Bisa jadi para elite dan politisi di senayan tidak menginginkan Indonesia menjadi Negara maju, karena akan mengganggu posisinya sebagai elite birokrasi yang boleh dibilang “Dancuk”, kata arek suroboyo. Akan tetapi, jika memang elite dan politisi tidak menginginkan Negara Indonesia menjadi negara maju, 136 Juta penduduk tadi akan terpaksa maju. Demikianlah yang dapat saya paparkan ulang dari pemaparan Pak Dahlan.
Seminar selesai, pak Dahlan pun meninggalkan tempat. Selama kurang lebih satu jam yang penuh makna menurut saya. Mudah-mudahan terulang di lain kesempatan dan mampu membuat saya beroptimis untuk mengikuti jejak-jejak beliau dalam meraih kesuksesan.
Acara dilanjutkan dengan penutupan dan pemberian penghargaan kepada pemakalah  terbaik. Kemudian ditutup dengan penampilan Tim Paduan Suara IAIN Sunan Ampel Surabaya. Serta foto bersama kawan-kawan Ambisi. Hmmm.. Kebersamaan penuh kenangan.

Muhammad Ali Murtadlo
Surabaya, 09 November 2012

Rabu, 07 November 2012

Bernostalgia dengan Masa Kanak-Kanak (4)


Sebagaimana di catatan sebelumnya saya menganggap bahwa masa kanak-kanak merupakan masa yang paling indah untuk dikenang. Masa kanak-kanak merupakan bagian dari masa lalu, namun masa lalu yang tidak mungkin dapat terlupakan. Saya tegaskan, kisah saya bukan cerita bersambung layaknya Novel, Roman atau Sinetron. Melainkan hanya sebuah cerita yang dapat saya ingat dan layak untuk diceritakan. Tidak mungkin setiap jengkal langkah di masa kecil dapat saya ceritakan secara mendetail, jam demi jam, hari demi hari, atau minggu demi minggu dan seterusnya. Sekali lagi, saya hanya bercerita tentang masa lalu yang tak terlupakan.
Jika catatan sebelumnya berkutat masalah dunia pendidikan formal (sekolahan) di catatan ini saya hendak bercerita tentang pendidikan non formal yang pernah saya geluti. Banyak teman-teman, bahkan orang yang mengenal saya bertanya, Antum lulusan pondok pesantren mana? Saya jawab, saya tidak pernah mengenyam pendidikan pesantren sama sekali. Mereka banyak yang tidak percaya. Sebenarnya dulu pernah punya keinginan untuk mondok namun tidak diperbolehkan oleh ortu, dengan alasan kakak sudah berada di Pondok pesantren waktu itu, jadi saya harus di rumah untuk membantu beliau mengurusi urusan rumah. Perlu diketahui, Saya hanyalah lulusan MtsAi At-Tanwir Talun, bukan lulusan Pondok Pesantren.
Berikut ini saya ceritakan perjalanan gerilya saya dalam mendalami ilmu agama. Saya masih ingat, ketika awal-awal belajar mengaji. Masih berumur Balita (Bawah Lima Tahun) sebenarnya saya sudah diajak sama kakak mengaji. Setiap Ba’da Maghrib di Mushola agak jauh dari rumah, orang-orang dikampung menyebutnya dengan Langgar Tengah, karena lokasinya di tengah kampung. (Saat itu Mushola depan rumah belum dibangun). Kebetulan di Mushola itu memang disediakan untuk mengaji. Dulu belum ada TPQ, ngajinya masih program Sorogan (baca simak). Kebetulan yang mengajar adalah kakak saya sendiri dan beberapa temannya serta Sesepuh di Mushola tersebut. Saya paling senang ketika diajar oleh Mbah Adnan, Imam Sholat waktu itu. Beliau sudah meninggal ketika saya masih duduk di bangku MI. Allahumagfirlahu.
Setiap hari menjelang magrhib saya bersama kakak berangkat menuju mushola. Kira-kira 300 M dari rumah. Selain mengaji di Mushola terkadang juga mengaji di rumah dengan ibu sebagai tutornya. Maka tidak heran, jika saya paling menonjol dalam hal mengaji diantara teman-teman sebaya pada saat itu. Kira-kira umur empat tahun saya sudah hafal Huruf-Huruf Hijaiyah. Dan sebelum lulus MI saya sudah berhasil menghatamkan Al-Qur’an.
Waktu terus berjalan menelusuri lembah-lembah kehidupan yang semakin hari bertambah usia. Sistem pembelajaran pun dituntut untuk mengalami perkembangan. Ketika duduk dibangku kelas 3 dibentuklah TPQ (Taman Pendidikan Qur’an). Saat itu bukan di Langgar Tengah, tapi di Mushola Jami’atul Nurul Umah, TPQnya juga diberi nama sesuai nama mushola, TPQ Nurul Ummah . Pendirinya adalah Kyai Syami’an, beliau masih kerabat dengan saya. Lebih tepatnya beliau adalah sepupu bapak saya, Ibunya adalah saudara kandung nenek saya.
Metode yang dipakai adalah An-Nahdliyah yakni menggunakan ketukan sebagai irama lagunya. Satu ketukan untuk bacaan pendek, dua ketukan untuk bacaan yang dibaca dua harokat (satu alif) dan enam ketukan untuk bacaan yang dibaca Enam Harokat (3 alif). Kira-kira seperti itulah metode An-nahdliyah yang dapat saya ingat.
Saat pembentukan awal TPQ saya masih duduk di kelas 3 MI. Sebelum dimulai pembelajaran kami dikelompokan sesuai kemampuan. Kami ditest terlebih dahulu. Anak-anak kampung saat itu lumayan banyak sekitar tiga puluhan anak, laki-laki dan perempuan. Saat itu kami dikelompokan menjadi 3 kelompok, yakni Jilid 1, 2 dan 3. Kebetulan saya di kelompok jilid 3. Ngaji dimulai sore hari berikutnya.
Banyak kenangan yang terjadi waktu mengaji. Maklum masih seusia-usia segitu, pasti jiwa kekanak-kanakan kami masih begitu kuat. Kadang main sendiri, rame, kejar-kejaran satu sama lain. Yang paling penting adalah bisa buat hati senang. Ada sesuatu yang paling ditunggu-tunggu, yakni jalan-jalan. Ya, Setiap seminggu sekali semua santri TPQ diajak jalan-jalan memutari desa, biasanya pada hari kamis sore. Dengan berseragam, bersama para Ustadz dan Ustadzah kami memutari desa sambil menyanyi bersama. Lagunya seperti ini saya masih ingat : “Adibu Awladakum Ala Tsalaatsati Khisolin: Bihubi Nabiyikum, Wa ahli Baitihi, Wa Qiro’atil Qur’an (Didiklah Anak-anakmu mencintai tiga perkara: cintailah nabimu, cintai keluarganya, cintai baca al-Qur’an). Dengan penuh semangat sambil bertepuk-tepuk tangan kami berjalan mengelilingi desa lalu menuju kembali ke Mushola. Moment seperti inilah yang kami tunggu, karena selain bisa menikamti udara luar, kami akan disaksikan oleh orang-orang kampung, terkadang ibu juga menyaksikan.
Yang paling berkesan lagi adalah setiap ada Peringatan Hari Besar Islam (PHBI), Seperti Mauludan, Isro’ Mi’roj, dll. Pegurus TPQ pasti mengadakan pengajian. Sebelum pengajian pasti diadakan lomba, seperti lomba adzan, baca kitab, makan krupuk, balap karung, balap kelereng, dll. Moment seperti itu yang saya sukai. Setiap lomba dapat dipastikan saya pasti dapat juara. Yang menjadi langganan adalah juara lomba adzan dan baca kitab. Hadiahnya berupa buku, pensil, pulpen, dan jajan, diserahkan pada saat pra-Acara pengajian. Seneng banget waktu itu.
Perlombaan seperti itu biasanya juga diadakan menjelang acara Muslimatan. Muslimatan adalah acara berkumpulnya para Jama’ah Fatayat Muslimah Nahdlatul Ulama’ dari beberapa desa di satu kecamatan. Biasanya diadakan setiap bulan sekali. Tempatnya bergilir. Jika desa saya kebagian jadwal pasti para santri TPQ kegirangan, termasuk saya, karena pasti akan ada perlombaan, dan akan panen hadiah.
***
Setelah saya khitan, kelas 5 MI waktu itu, saya sudah khatam 6 jilid. Di Depan rumah saya pun sudah dibangun mushola. Jadi selain mengaji di TPQ, setiap ba’dla maghrib saya mengaji pula di Mushola depan rumah, Mushola Mubarokah namanya. Metode mengajinya berbeda, hanya berupa baca simak. Waktu itu saya sudah mengaji Al-Quran, yang mengajari saya Mas Tholib, Pemuda Lulusan salah satu Pondok Pesantren Salaf di Tuban.
Ketika sudah mengkhatamkan jilid 6, otomatis akan naik di PSQ (Program Sorogan Qur’an), namun tidak begitu lama karena semakin hari yang mengaji semakin sedikit. Saya terkadang hanya sendiri. Paling banyak yang datang hanya 3 anak, nggak lebih. Lama-lama saya merasa bosen, akhirnya saya memutuskan untuk pindah tempat mengaji. Di Madrasah Diniyah desa sebelah.
Di Madrasah Diniyah ini saya tidak lagi belajar mengaji Qur’an, melainkan mengaji kitab. Kitab yang kami kaji bermacam-macam. Saya masih ingat. Diantaranya: Aqidatul Awam (Tauhid), Alala (tata cara mencari ilmu), Ngudi Susilo (Akhlaq), dan Syifaul Jinan (Tajwid). Ini bagi kelas pemula, seperti saya. Kelas yang lain sudah belajar Taqrib, Nadlom Matan Jurumiah dan kitab-kitab lain.
Proses belajar mengajar di Madin ini dimulai pukul 14:00 s.d 15:00 WIB. Jadi setelah saya pulang sekolah masih ada waktu sekitar 2 jam untuk istirahat, main dan terkadang belajar kelompok sama temen-temen. Lokasi Madin lumayan jauh, saat itu saya belum punya sepeda, setiap hari saya harus pinjam sepeda tetangga. Sampek-sampek sungkan sendiri, masak setiap hari pasti pinjam. Terkadang saya berangkatnya nebeng sama temen. Pernah juga jalan kaki. Meskipun demikian tak menyurutkan semangat saya untuk tetap mengaji.
Seperti di TPQ dulu, di Madin ini setiap Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) juga mengadakan pengajian, sebelum pengajian juga diadakan lomba. Saya pernah menyabet 4 juara sekaligus. Juara adzan, baca kitab, hafalan kitab, dan meletuskan balon. Seingat saya saat itu adalah peringatan Isro’ Mi’roj. Penyerahan hadiahnya diserahkan di Podium sebelum acara pengajian. Seperti biasa, hadiahnya berupa buku tulis, sama Pulpen.
Kira-kira seperti itulah pengalaman masa kecil saya pada saat menimba ilmu di TPQ dan Madin. Namun belajar ngaji di madin itu harus saya tinggalkan ketika masuk di Madrasah Tsanawiyah (Mts). Karena sekolahan masuk siang, otomatis pada jam-jam ngaji itu saya harus sekolah. Namun sebagai alternative saya mengikuti yang jadwal malam, yakni ba’dla maghrib. Perlu diketahui di madin ini saya tidak sampai mengkhatamkan semua kitab. Hanya kitab-kitab dasar ringan yang dapat saya khatamkan. Seperti Aqidatul Awam, Alala, syifaul jinan. Semenjak kelas 3 Mts, saya sudah tidak lagi mengaji di Madin. Hanya berkonsentrasi di Mts, karena saya rasa di Mts sudah mencakup materi-materi yang ada di Madin. Belakangan saya menyesal kenapa dulu tidak menyelesaikan sampai selesai di Madin.
Setidaknya apa yang saya lakukan dulu adalah aplikasi dari mahfudlot yang saya pelajari di Mts. At-ta’alumu fi Shigori kan Naqsi alal Hajari (belajar diwaktu kecil bagaikan mengukir di atas batu). Belajar waktu kecil memang perlu perjuangan namun hasilnya tidak meragukan. Layaknya ukiran batu, sulit untuk mengukirnya namun indah dan abadi hasilnya. Senada dengan ungkapan tadi “Ta’alam shogiron Wa’mal bihi Kabiron” (Belajarlah pada waktu kecilmu dan amalkan pada waktu besarmu). Ketika sudah mumpuni kita juga harus mengamalkan, karena “Al-ilmu bi Laa Amalin Kas Syajari Bi Laa Tsamrin”, ilmu yang tidak diamalkan itu bagaikan pohon yang tidak berbuah. 

Muhammad Ali Murtadlo
Surabaya, Kamis, 08 November 2012 M

Selasa, 06 November 2012

Bernostalgia dengan Masa Kanak-kanak (3)


Masih berkutat tentang masa kanak-kanak. Mengapa saya mengatakan masa kanak-kanak bukan masa lalu. Karena ketika mendengar kata kanak-kanak fikiran kita akan terbayang kepada masa menyenangkan dimana saat itu terukir kenangan-kenangan yang sulit terlupakan. Namun ketika menggunakan masa lalu kita hanya akan terjerambab dalam masa lalu yang penuh dengan kenangan yang harus dilupakan. Tentu kalian pernah dengar ungkapan ini “ Masa lalu biarlah berlalu”. Bagi saya masa kanak-kanak lebih menyenangkan daripada mengatakan masa lalu.
Saya menulis ini bukan maksud apa-apa, karena memang sekali lagi ini terlalu sulit untuk dilupakan. Siapa tahu dengan saya menceritakan segala kenangan tentang masa lalu itu bisa menjadi pemantik semangat untuk menggapai masa depan. Masa depan cerah seperti yang kita harapkan. Menjadi manusia-manusia yang bergelimangan kesuksesan.
Saya yakin, kalian yang membaca tulisan ini pasti punya masa lalu. Entah mengharukan, menyenangkan atau bahkan menyedihkan, pasti punya. Ternyata dengan mengingat-ingat masa lalu, kita akan merasakan kepuasan tersendiri. Terkadang bisa tersenyum sendiri, ketawa bahkan merenung. Itu yang sering saya rasakan, tak tahu dengan kalian.
Kalian pasti setuju dengan saya bahwa masa-masa sekolah adalah masa dimana kita mengukir kenangan. Masa dimana banyak aktifitas kita lakukan disekolahan. Bahkan boleh dibilang waktu kita tersita hanya karena sekolah. Waktu 24 jam yang kita punya 25% bahkan lebih, kita habiskan dibangku sekolahan.
Seperti yang saya ceritakan di catatan sebelumnya. Saya sekolah di Mts At-Tanwir. Sekolahan yang bagi sebagian orang dianggap sebagai gudangnya hafalan. Bahkan ada adagium yang mengatakan “Jika tidak kuat dengan hafalannya nanti bisa strees”. Saya tertarik dengan adagium yang mengatakan itu. Bener nggak sih seperti itu? Saya ingin membuktikan. Ternyata setelah saya menyelami proses pembelajaran, awalnya memang begitu.
Setiap minggu kami harus menghafalkan mulia dari pelajaran mahfudlot, hadist, tafsir, b.arab, dan lain-lain. Namun saya merasa itu belum seberapa dibanding dengan yang harus dihafal ketika belajar di pondok pesantren. Mulai dari hafalan nadhom imrity sampai alfiyah dan semacamnya. Saya berkomitmen bahwa tidak ada kata tidak bisa, tidak mampu dalam kamus hidup saya.
Namun Alhamdulillah setelah beberapa lama saya terbawa juga dengan atmosfer At-tanwir.  Saya terbawa dengan guru-guru yang menyenangkan, teman-teman yang meyenangkan pula, teman-teman yang super menurut saya. Saya masih ingat ketika berkumpul bersama sebelum berangkat. Kebiasaan kami berempat (Saya, Imam, Adi dan Athok) setiap berangkat sekolah berkumpul dahulu di Rumah Athok. Saya yang biasanya paling rajin, berangkat pertama. Karena rumah saya terbilang paling jauh. Saya harus mampir di rumah adi, imam, athok baru kemudian berangkat.
Dibawah teriknya matahari dan diatas jalan penuh batu bercadas kami kayuh sepeda penuh semangat. Teriknya matahari tak mampu menyurutkan semangat kami untuk berangkat menuju tempat mengais cahaya. Ya cahaya, kerena Ilmu itu adalah cahaya. Seperti apa yang disampaikan ust. Muadzin (Guru Mahfudlot kelas 2 Mts) (Ilmu Nuurun Wa Nuurullahi Laa Yuhdaa Lil ‘Aashiy). “Ilmu itu cahaya dan cahaya Allah tidak akan ditunjukan kepada orang-orang yang berbuat maksiat”. Seperti itulah kira-kira cuplikan mahfudlot yang merupakan curhatan Imam syafi’I kepada gurunya (Waqi’) terkait dengan sulitnya menghafal. Waqi’ mengatakan Sulitnya menghafal adalah karena sering melakukan maksiat.
Menarik sepertinya berbicara tentang mahfudlot. Pelajaran Mahfudlot merupakan pelajaran motivasi kata mutiara hikmah dalam bahasa arab. Jadwalnya seminggu sekali pertemuan. Mahfudlot inilah yang membedakan sekolahan kami dengan yang lain. Kami harus menghafalkan setiap syair yang diajarkan. Setiap ada materi baru kami harus menghafalkan. Belakangan saya tahu ternyata mahfudlot ini mengadopsi dari mata pelajaran Pondok Modern Gontor. Tidak bisa dipungkiri karena memang sekolahan kami mulai dari kurikulum sampai mata pelajarannya hampir sama dengan kurikulum yang diterapkan di Gontor, Guru-gurunya pun sebagian ada yang lulusan Gontor.
Mahfudlot juga merupakan pelajaran yang sangat penting menurut saya. Ketika sekarang saya sudah mengenyam bangku kuliah mutiara-mutiara hikmah itu masih terpatri dalam otak, dan menjadi pemantik semangat untuk terus berjuang menuju kebahagiaan di masa depan. Meskipun tidak semua saya ingat namun setidaknya masih ada beberapa yang masih saya ingat. Ketika saya malas saya teringat dengan pernyataan Sholahudin Asshofadiy (W 764 H) “al-jadu fil jidi wal hirmanu fil kasali# Fanshob Nusiib An Qoriibin Ghoyatal Amaali”. Kira maksudnya begini; Kemulyaan itu terletak pada kesungguhan dan penyesalan itu akan berakibat bagi pemalas# Berpayah-payahlah niscaya akan tercapai semua mimpimu dalam waktu secepatnya. Ungkapan yang sudah ber-abad-silam itu masih relevan jika kita terapkan dalam kehidupan kita saat ini.
 Bukan hanya itu, ketika berbicara masalah cinta, saya teringat wasiat Abdullah Bin Sydad (W 83 H). Ketika itu ada seorang pemuda yang sowan ke beliau. Beliau menuturkan “Hai Anak muda jika engkau mencintai sesuatu (seseorang) maka jangan berlebihan, begitu juga ketika engkau membenci sesuatu (seseorang) janganlah melampaui batas.” Lebih jelasnya beliau memaparkan:
“Ahbib Habibaka Haunan Ma # Asaa An Yakuuna Baghidoka Yauman Ma
Wabghid Baghidoka Haunan Ma # Asaa An Yakuuna Habibaka Yauman Ma
Waahbib Idza Ahbabta Hubban Muqoriban # Fainnaka Laa Tadri Mata Anta Naazi’un
Waabghid Ida Abghodta Bughdan Muqoriban # Fainnaka Laa Tadri Mata Anta Roji’un”
            Ketika berbicara tentang waktu saya teringat dengan pernyataan Mahmud Syami Basya Al-Baarudi (W 1322 H) dalam “ Fiintihazil Furshoti” (Memanfaatkan Waktu).
Baadiril furshota wahdar fautaha # fa buluughul izzi fi nailil furosi
Waghtanim umroka ibbaanas shiba # fahuwa in zaada ma’a syaibi naqoso
Wabtadir mas’aaka wa’lam # anna man baadaro shoida ma’al fajri qonaso
Inna dzal hajati in lam yaghtarib # an khimahu mistlu thoirin fi qofasi
Bait terakhir kira-kira maksudnya seperti ini: Sesungguhnya seorang yang mempunyai Hajat (Mimpi, cita-cita, asa dan semacamnya) apabila tidak bertindak dari tempat persinggahannya seperti burung yang terkurung dalam sangkarnya. Sebenarnya masih banyak sekali ungkapan motivasi yang saya dapat dari pembelajaran selama 6 Tahun di At-Tanwir.
Terlepas dari pelajaran mahfudlot saya ingin bercerita tentang masa-masa sekolah. Jangan dikira saya tidak pernah bertindak nakal. Hidup tanpa diselingi dengan sesuatu yang kontra rasa-rasanya kurang lengkap. Hanya akan stagnan dengan satu sisi, padahal hidup adalah beberapa sisi yang harus dilewati.
Awal saya melakukan tindakan yang kontra adalah ketika saya harus masuk pagi, tepatnya kelas 3 Mts. Setiap hari sabtu pasti diadakan upacara pagi, jam 06:30 harus sudah berada dilapangan. Saya berempat sering (tidak sering banget) datang terlambat, padahal kami sudah berusaha berangkat pagi. Tapi kami tidak pernah dihukum. Loh kog bisa? Iya, caranya kami tidak masuk ke sekolahan dulu, nunggu upacara selesai, baru ketika upacara selesai dan suasana aman (tidak ada satpam dan PPM Keamanan), kami baru berjalan menuju sekolah. Tas dan sepedah dititipkan di rumah warga kira-kira 100 Meter dari sekolahan, kami hanya menenteng beberapa buku dan Pulpen. Tindakan yang tak patut untuk ditiru. (Bersambung)
Muhammad Ali Murtadlo 
Surabaya, 06 November 2012 M

Minggu, 04 November 2012

Akhir Pekan yang Mengesankan


Matahari masih malu-malu menampakan sinarnya pagi ini, Sabtu, 02 November 2012 M. Entah kenapa, mungkin ia iri dengan saya atau karena bosan dengan manusia yang kebanyakan masih memejamkan mata. Saya hari ini terlalu bersemangat, bangun pagi dengan berbalut senyum. Ya, karena Hari ini saya berniat untuk keliling kota Gresik-Surabaya untuk berziarah ke makam wali. Saya tidak sendiri, ada satu kawan yang menemani, tak perlu saya sebutkan nama, yang jelas dia kawan spesial bagi saya.
Rute yang akan saya lalui adalah Makam Sunan Giri- Maulana Malik Ibrahim- dan terakhir di Sunan Ampel. Tiga makam ini yang menjadi tujuan utama. Pukul 07:30 kami berangkat. Ternyata, rencana kami tepat, tiba disana kira-kira pukul 08;45, perjalanan kami tempuh kurang lebih satu jam lebih. Sebenarnya kalau mau ngebut sih bisa lebih cepat, tapi pikir-pikir, lebih baik pelan tapi sampai tujuan dari pada ngebut tapi berujung benjut.
Setiba di Makam Giri kami disuguhi pemandangan yang lumayan bagus. Bagi yang sudah sering kesana pasti merasa bosan, tapi bagi yang belum pernah mungkin akan menjadi pengalaman menarik. Saya sudah sering kesana, karena selain dekat, makam sunan giri ini merupakan tempat yang harus saya lewati ketika pulang kampung. Biasanya ketika pulang kampung atau balik ke Surabaya saya menyempatkan diri mampir kesana. Selain sebagai ziarah, itung-itung sebagai tempat persinggahan istirahat. Pernah juga hanya mampir untuk makan nasi goreng tapi tidak masuk ke makam. Hehe, O ya, saat kami disana kemarin sisi depan makam sedang dalam tahap renovasi.
Saya pernah dengar teman saya bercerita. Katanya dia pernah menghitung tangga berundak yang harus dilewati menuju makam sunan giri ini. Menghitung pada saat naik dengan menghitung saat turun katanya berbeda jumlahnya. Entah apa alasanya, mungkin dia salah menghitung atau lupa dengan hitungannya saya nggak tahu, tapi setiap dia berkunjung kesana pasti menghitung dan jumlahnya pasti berbeda. Saya nggak tahu itu benar apa salah, saya hanya mempercayainya saja. Dan saat ini saya nggak kepingin menghitung, toh nggak ada manfaatnya untuk saya. Itu hanya sebuah mitos belaka.
Sampai di makam masih sepi, hanya ada beberapa rombongan yang datang. Meskipun begitu, tak mengurangi semangat kami untuk berziarah di makam sunan giri ini. Setelah selesai ziarah kami menyempatkan untuk makan pagi terlebih dahulu di warung terdekat. Dengan sepiring nasi dan segelas es teh saya nikmati makan pagi ini dengan penuh syukur, karena masih bisa melahap makanan, sedangkan banyak orang diluar sana yang mungkin tidak bisa makan pagi.
Dengan menikmati hidangan sarapan, sesekali kami ngobrol santai. Ngobrol seputar apapun, seputar pengalaman kami, kenangan-kenangan kami, dan seputar yang lain. Sempat juga ngobrol dengan si penjual makanan. Ketika saya tanya asli mana, dengan ramah dia menjawab madiun adalah kota asalnya, tapi sudah lama di gresik sekitar 20 Tahun. Kami beranjak dari Giri sekitar pukul 10:00 WIB.
***
Tujuan selanjutnya adalah makam Sunan Maulana Malik Ibrahim. Setiba disana kami dikagetkan dengan banyaknya kendaraan yang parkir di kanan kiri jalan. Banyak orang yang berseragam putih-putih memadati Alun-Alun Kota Gresik. Sampai-sampai saya kesulitan untuk memarkir motor. Terakhir saya tahu, bahwa ada acara Haul.
Kami harus jalan kaki dari Alun-Alun menuju makam karena parkir sebelah makam sudah penuh. Meskipun panas menyengat tidak meyurutkan semangat kami untuk berziarah di makam waliyullah ini. Setelah tahlil dan berdzikir di sana kami menyempatkan diri melewati lorong penjual oleh-oleh disekitar makam. Penjualnya tidak sebanyak yang ada di Makam Giri tadi, hanya beberapa penjual yang memadati lorong. Saya tidak hendak membeli apa-apa, kawanku yang hendak membelikan untuk temanya, Dodol Garut. O ya, makam Maulana Malik Ibrahim sedang dilaksanakan pemugaran cungkup, jadi kami tadi tidak diperbolehkan masuk, hanya boleh di halaman luar.
Beranjak dari makam bertepatan dengan buyarnya acara haul. Otomatis jalanan super ramai. Kami harus melawan arus ingin menuju masjid jami’ untuk melaksanakan sholat dluhur. Kami melepas lelah dan penat di masjid jami’ ini setelah selesai melaksanakan sholat.
Tanpa rencana sebelumnya kami berniat untuk berkunjung ke Pantai Pasir Putih, Wisata Segoro Indah Dalegan (WISID), Panceng Gresik. Kira-kira perjalan satu setengah jam dari kota gresik. Setelah melalui perjalanan yang cukup menguras keringat, kira-kira pukul 14:30 kami sampai disana. Lelah kami terbayar ketika semilirnya angin laut menabrak tubuh kami. Hmmm, Subhanallah menakjubkan.
Ini kali kedua saya berada disana. Tapi pertama kali bagi kawan saya ini. Serasa berada di pantai kuta bali katanya. Iya, memang pantai dalegan ini menjadi obyek wisata menarik bagi warga gresik dan sekitarnya. Selain dekat, tidak perlu merogoh kocek banyak-banyak, cukup Rp.6.000 sudah bisa menikmati keindahan panorama pantai. Namun jika membawa motor akan dikenai biaya tambahan Rp. 2.500. Tempatnya juga bagus, ada wahana menarik juga. Yang ingin mandi di laut disediakan ban pelampung. Pengen sebenarnya kami mandi, tapi kami tidak membawa pakaian ganti. Niat untuk mandi kami urungkan.
Disana kami menghabiskan waktu untuk istirahat di gubuk sebelah selatan. Ditemani dengan sebotol Mizone untuk berdua, kami menikmati keindahan panorama pantai. Sempat juga menuju tepi pantai untuk menyentuh asinnya air laut. Saya sempat cuci muka dengan air laut. Terakhir kami foto-foto dengan kamera seadanya, yang penting bisa dijadikan kenang-kenangan. O ya, kami membawa kulit kerang untuk dibawa pulang. Pukul 16:00 kami meninggalkan pantai dengan perasaan senang dan mengesankan.
Tujuan terkahir kami adalah makam Sunan Ampel Surabaya. Kami tiba pukul 18:00 WIB. Setelah memarkir motor saya langsung menuju kamar mandi yang berada di samping makam, untuk mandi membersihkan badan setelah seharian berjibaku dengan polusi dan teriknya matahari. Seusai sholat magrhib kami baru berdzikir dan tahlil di makam. Dengan suasana sepi karena waktunya sholat isya’ dan bagian dalam makam ditutup kami membaca tahlil di bagian luar makam.
Setelah tahlil selesai, kami menyempatkan melewati lorong-lorong pedagang. Kiri kanan jalan banyak kami temui oleh-oleh khas Ampel. Mulai dari busana muslim, kurma, acesoris, tasbih, mainan anak-anak sampai penjual makanan. Perut kami berontak ketika melihat lapak penjual mie ayam. Akhirnya kami memutuskan untuk mengunjunginya, eh ternyata mie ayam habis, bukan rizki kami berarti. Kami berbelok di Penjual Bakso sebelahnya, dan mengisi ulang perut dengan semangkuk bakso. Sambil menikmati bakso kami asyik Ngobrol dengan dibalut saling senyum membuat suasana makin akrab. Kamipun saling bertukar cerita. Setelah melihat arloji menunjukan pukul 20:00 WIB, kami memutuskan untuk pulang. Hmmmm, Akhir pekan yang mengesankan.

Muhammad Ali Murtadlo
Surabaya, 02 November 2012 M

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India