Sebaik-baik Manusia Adalah Orang yang Bermanfaat Bagi Sesama (H.R Buchori Muslim)
“Hidup adalah perjalanan waktu dan perpindahan tempat. Kapan pun dan di mana pun kita berada, haruslah memberi manfaat bagi sesama, karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Learn, Share, Success! (Muhammad Ali Murtadlo)”

Tuesday, 6 November 2012

Bernostalgia dengan Masa Kanak-kanak (3)


Masih berkutat tentang masa kanak-kanak. Mengapa saya mengatakan masa kanak-kanak bukan masa lalu. Karena ketika mendengar kata kanak-kanak fikiran kita akan terbayang kepada masa menyenangkan dimana saat itu terukir kenangan-kenangan yang sulit terlupakan. Namun ketika menggunakan masa lalu kita hanya akan terjerambab dalam masa lalu yang penuh dengan kenangan yang harus dilupakan. Tentu kalian pernah dengar ungkapan ini “ Masa lalu biarlah berlalu”. Bagi saya masa kanak-kanak lebih menyenangkan daripada mengatakan masa lalu.
Saya menulis ini bukan maksud apa-apa, karena memang sekali lagi ini terlalu sulit untuk dilupakan. Siapa tahu dengan saya menceritakan segala kenangan tentang masa lalu itu bisa menjadi pemantik semangat untuk menggapai masa depan. Masa depan cerah seperti yang kita harapkan. Menjadi manusia-manusia yang bergelimangan kesuksesan.
Saya yakin, kalian yang membaca tulisan ini pasti punya masa lalu. Entah mengharukan, menyenangkan atau bahkan menyedihkan, pasti punya. Ternyata dengan mengingat-ingat masa lalu, kita akan merasakan kepuasan tersendiri. Terkadang bisa tersenyum sendiri, ketawa bahkan merenung. Itu yang sering saya rasakan, tak tahu dengan kalian.
Kalian pasti setuju dengan saya bahwa masa-masa sekolah adalah masa dimana kita mengukir kenangan. Masa dimana banyak aktifitas kita lakukan disekolahan. Bahkan boleh dibilang waktu kita tersita hanya karena sekolah. Waktu 24 jam yang kita punya 25% bahkan lebih, kita habiskan dibangku sekolahan.
Seperti yang saya ceritakan di catatan sebelumnya. Saya sekolah di Mts At-Tanwir. Sekolahan yang bagi sebagian orang dianggap sebagai gudangnya hafalan. Bahkan ada adagium yang mengatakan “Jika tidak kuat dengan hafalannya nanti bisa strees”. Saya tertarik dengan adagium yang mengatakan itu. Bener nggak sih seperti itu? Saya ingin membuktikan. Ternyata setelah saya menyelami proses pembelajaran, awalnya memang begitu.
Setiap minggu kami harus menghafalkan mulia dari pelajaran mahfudlot, hadist, tafsir, b.arab, dan lain-lain. Namun saya merasa itu belum seberapa dibanding dengan yang harus dihafal ketika belajar di pondok pesantren. Mulai dari hafalan nadhom imrity sampai alfiyah dan semacamnya. Saya berkomitmen bahwa tidak ada kata tidak bisa, tidak mampu dalam kamus hidup saya.
Namun Alhamdulillah setelah beberapa lama saya terbawa juga dengan atmosfer At-tanwir.  Saya terbawa dengan guru-guru yang menyenangkan, teman-teman yang meyenangkan pula, teman-teman yang super menurut saya. Saya masih ingat ketika berkumpul bersama sebelum berangkat. Kebiasaan kami berempat (Saya, Imam, Adi dan Athok) setiap berangkat sekolah berkumpul dahulu di Rumah Athok. Saya yang biasanya paling rajin, berangkat pertama. Karena rumah saya terbilang paling jauh. Saya harus mampir di rumah adi, imam, athok baru kemudian berangkat.
Dibawah teriknya matahari dan diatas jalan penuh batu bercadas kami kayuh sepeda penuh semangat. Teriknya matahari tak mampu menyurutkan semangat kami untuk berangkat menuju tempat mengais cahaya. Ya cahaya, kerena Ilmu itu adalah cahaya. Seperti apa yang disampaikan ust. Muadzin (Guru Mahfudlot kelas 2 Mts) (Ilmu Nuurun Wa Nuurullahi Laa Yuhdaa Lil ‘Aashiy). “Ilmu itu cahaya dan cahaya Allah tidak akan ditunjukan kepada orang-orang yang berbuat maksiat”. Seperti itulah kira-kira cuplikan mahfudlot yang merupakan curhatan Imam syafi’I kepada gurunya (Waqi’) terkait dengan sulitnya menghafal. Waqi’ mengatakan Sulitnya menghafal adalah karena sering melakukan maksiat.
Menarik sepertinya berbicara tentang mahfudlot. Pelajaran Mahfudlot merupakan pelajaran motivasi kata mutiara hikmah dalam bahasa arab. Jadwalnya seminggu sekali pertemuan. Mahfudlot inilah yang membedakan sekolahan kami dengan yang lain. Kami harus menghafalkan setiap syair yang diajarkan. Setiap ada materi baru kami harus menghafalkan. Belakangan saya tahu ternyata mahfudlot ini mengadopsi dari mata pelajaran Pondok Modern Gontor. Tidak bisa dipungkiri karena memang sekolahan kami mulai dari kurikulum sampai mata pelajarannya hampir sama dengan kurikulum yang diterapkan di Gontor, Guru-gurunya pun sebagian ada yang lulusan Gontor.
Mahfudlot juga merupakan pelajaran yang sangat penting menurut saya. Ketika sekarang saya sudah mengenyam bangku kuliah mutiara-mutiara hikmah itu masih terpatri dalam otak, dan menjadi pemantik semangat untuk terus berjuang menuju kebahagiaan di masa depan. Meskipun tidak semua saya ingat namun setidaknya masih ada beberapa yang masih saya ingat. Ketika saya malas saya teringat dengan pernyataan Sholahudin Asshofadiy (W 764 H) “al-jadu fil jidi wal hirmanu fil kasali# Fanshob Nusiib An Qoriibin Ghoyatal Amaali”. Kira maksudnya begini; Kemulyaan itu terletak pada kesungguhan dan penyesalan itu akan berakibat bagi pemalas# Berpayah-payahlah niscaya akan tercapai semua mimpimu dalam waktu secepatnya. Ungkapan yang sudah ber-abad-silam itu masih relevan jika kita terapkan dalam kehidupan kita saat ini.
 Bukan hanya itu, ketika berbicara masalah cinta, saya teringat wasiat Abdullah Bin Sydad (W 83 H). Ketika itu ada seorang pemuda yang sowan ke beliau. Beliau menuturkan “Hai Anak muda jika engkau mencintai sesuatu (seseorang) maka jangan berlebihan, begitu juga ketika engkau membenci sesuatu (seseorang) janganlah melampaui batas.” Lebih jelasnya beliau memaparkan:
“Ahbib Habibaka Haunan Ma # Asaa An Yakuuna Baghidoka Yauman Ma
Wabghid Baghidoka Haunan Ma # Asaa An Yakuuna Habibaka Yauman Ma
Waahbib Idza Ahbabta Hubban Muqoriban # Fainnaka Laa Tadri Mata Anta Naazi’un
Waabghid Ida Abghodta Bughdan Muqoriban # Fainnaka Laa Tadri Mata Anta Roji’un”
            Ketika berbicara tentang waktu saya teringat dengan pernyataan Mahmud Syami Basya Al-Baarudi (W 1322 H) dalam “ Fiintihazil Furshoti” (Memanfaatkan Waktu).
Baadiril furshota wahdar fautaha # fa buluughul izzi fi nailil furosi
Waghtanim umroka ibbaanas shiba # fahuwa in zaada ma’a syaibi naqoso
Wabtadir mas’aaka wa’lam # anna man baadaro shoida ma’al fajri qonaso
Inna dzal hajati in lam yaghtarib # an khimahu mistlu thoirin fi qofasi
Bait terakhir kira-kira maksudnya seperti ini: Sesungguhnya seorang yang mempunyai Hajat (Mimpi, cita-cita, asa dan semacamnya) apabila tidak bertindak dari tempat persinggahannya seperti burung yang terkurung dalam sangkarnya. Sebenarnya masih banyak sekali ungkapan motivasi yang saya dapat dari pembelajaran selama 6 Tahun di At-Tanwir.
Terlepas dari pelajaran mahfudlot saya ingin bercerita tentang masa-masa sekolah. Jangan dikira saya tidak pernah bertindak nakal. Hidup tanpa diselingi dengan sesuatu yang kontra rasa-rasanya kurang lengkap. Hanya akan stagnan dengan satu sisi, padahal hidup adalah beberapa sisi yang harus dilewati.
Awal saya melakukan tindakan yang kontra adalah ketika saya harus masuk pagi, tepatnya kelas 3 Mts. Setiap hari sabtu pasti diadakan upacara pagi, jam 06:30 harus sudah berada dilapangan. Saya berempat sering (tidak sering banget) datang terlambat, padahal kami sudah berusaha berangkat pagi. Tapi kami tidak pernah dihukum. Loh kog bisa? Iya, caranya kami tidak masuk ke sekolahan dulu, nunggu upacara selesai, baru ketika upacara selesai dan suasana aman (tidak ada satpam dan PPM Keamanan), kami baru berjalan menuju sekolah. Tas dan sepedah dititipkan di rumah warga kira-kira 100 Meter dari sekolahan, kami hanya menenteng beberapa buku dan Pulpen. Tindakan yang tak patut untuk ditiru. (Bersambung)
Muhammad Ali Murtadlo 
Surabaya, 06 November 2012 M
Reaksi:

2 komentar:

ArsyadaMohdAzmi said...

assalamualaikum saudara santri...!
salam kenal nih...ane Azmi dari alumni Darussalam Gontor,
ditunggu kiprahnya di masyarakat! BE YOUR BEST...Ma'an Najah !!

Ali Murtadlo El-Fauzy said...

Wa'alaikumusalam Ustadz..!
Insya'allah. Mudah-mudahan Allah memudahkan jalan hidup kita. Amiin.

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India