Sebaik-baik Manusia Adalah Orang yang Bermanfaat Bagi Sesama (H.R Buchori Muslim)
“Hidup adalah perjalanan waktu dan perpindahan tempat. Kapan pun dan di mana pun kita berada, haruslah memberi manfaat bagi sesama, karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Learn, Share, Success! (Muhammad Ali Murtadlo)”

Friday, 25 December 2015

Backpackeran Menuju Mt Merbabu


Lama tak menuliskan catatan perjalanan membuat tangan saya canggung untuk mengetik di keybord. Apalagi tombol S dan W di laptop tidak berfungsi, itu menambah rasa malas saya untuk kembali menulis. Tapi kalau tidak dimulai sekarang dan hanya menuruti rasa malas, saya hanya menjadi manusia yang terbuai dengan kemalasan. Padahal kata orang bijak, kemalasan adalah awal dari sebuah kegagalan.

Catatan perjalanan kali ini adalah tentang pertama kalinya saya backpapckeran ke Jawa Tengah. Bersama teman-teman Teaching Clinic (TC) 6 Global English Pare, saya hendak menaklukan puncak Merbabu. Gunung Merbabu yang terletak di antara Kabupaten Magelang dan Boyolali itu menarik minat kami untuk menginjakan kaki di puncaknya. Rencana backpackeran ini terjadi begitu saja ketika kami sedang makan sore di sebuah warung sederhana dekat BEC. Karena libur periode yang panjang, sekitar seminggu, membuat kami ingin menghabiskan waktu tersebut dengan sesuatu yang unforgetable, tak terlupakan. Akhirnya, setelah berdiskusi, kami memutuskan untuk mendaki Gunung Merbabu.
Bagi saya ini bukan pertama kalinya naik gunung tapi ini pertama kalinya saya mendaki gunung yang berada di Jawa Tengah. Jawa Tengah ada beberapa gunung, seperti Merbabu, Merapi, Slamet, Sindoro, Sumbing, Andong dan lain-lain. Untuk sementara, kami memilih Merbabu menjadi tujuan pertama untuk ditaklukan, kedepannya insya’Allah kami akan mengunjungi gunung-gunung lainnya.
Kami bersembilan orang, beranggotakan Saya, Hans, Dul, Dede, Bella, Lili, Aab, Fiki dan Taufik. Enam orang berangkat dari Pare, sisanya tiga orang yang disebutkan terakhir di atas menunggu di Yogyakarta (Jogja). Enam orang termasuk saya berangkat dari Pare pukul 12:00 menuju Jogja via Bus lewat Jombang. Kami tiba di terminal Giwangan pukul 10 malam. Di sana sudah Taufik sudah menunggu kedatangan kami, kemudian mencari makan dan tempat bermalam. Kami bermalam di Masjid At-Taqwa kelurahan Giwangan Kecamatan Umbulharjo Kota Yogyakarta. O ya, tarif dari Pare ke Jombang Rp. 10.000/orang dan Jombang ke Jogja Rp. 46.000/orang.
Pukul 10 pagi kami menunggu dua teman lagi yang baru datang dari Tasikmalaya, Aab dan Fiki di Masjid Terminal, setelah meraka datang kemudian kami menuju ke Pos pendakian jalur Wekas. Sebenarnya, Merbabu mempunyai tiga jalur pendakian, Cunthel, Selo dan Wekas, namun kami memilih jalur Wekas karena beberapa pertimbangan, yakni banyak sumber air dan lebih cepat dari pada lewat jalur lainnya. Untuk menuju Wekas kami harus naik bus menuju terminal Magelang kemudian transit via bus jurusan Kopeng dan turun di desa Wekas. Tarif dari terminal Giwangan menuju Magelang Rp. 12.000 dan Magelang menuju Wekas Rp. 8.000. Untuk menuju Pos TPR harus naik angkutan lagi, biasanya ojek dengan tarif Rp. 25.000 /orang atau nyarter mobil. Namun kami memilih jalan kaki untuk menuju ke sana. Hitung-hitung sebagai pemanasan.
Kami tiba di Wekas sekitar pukul 2:00. Sebelum mulai jalan kaki menuju pos pendakian, kami menyiapkan bekal yang kurang, sholat dan mengisi perut di warung dekat pertigaan jalan. Setelah semua beres, kami melanjutkan perjalanan. Perjalanan pertama memang menantang, kami disuguhi dengan track menanjak dari awal sampai menuju di Pos TPR. Melewati hutan dengan pohon tua yang menjulang tinggi dan pemukiman penduduk membuat rasa semangat kami membuncah. Perjalanan yang jika ditempuh dengan ojek bertarif Rp. 25.000/orang itu terasa sebentar meskipun kami jalan kaki.
Akhirnya, setelah sampai di Pos TPR kami melakukan pendaftaran. Kami harus merogoh Rp. 5.000/orang untuk bisa mendapatkan izin dan selembar peta serta penjelasan dari ranger. Pukul 4:00, setelah berdo’a agar lancar, kami start pendakian yang sebenarnya. Wekas memang track yang menantang dari awal hingga akhir kami harus melewati track yang menanjak. Beda dengan track Arjuna-Welirang via tretes yang sudah tersusun batu, track Merbabu via Wekas ini belum berbatu, masih tanah tapi menanjak.
Merbabu mempunyai tiga puncak, puncak syarif, kentheng songo dan ............ untuk menuju ke puncak-puncak tersebut harus melewati Pos 1, Camping Ground, Pemancar, Pos 2, Pos 3, Watu Tulis, Jembatan Setan. Jarak antara Pos satu dan lainnya variatif. Kami sampai di Camping Ground sekitar pukul 8;00 malam, singgah sebentar untuk memasak dan menunaikan sholat. Udara dingin sekali, apalagi air yang kami pakai wudlu, membuat tulang dan kulit kami mati rasa. Meskipun waktu itu bulan purnama kami baru melihat kemunculan bulan setelah melakukan sholat. It is so amazing, beautiful scenery, full-moon beside of twice mount. Tanpa berpikir panjang, kami langsung mengabadikan momen tersebut.
Kami mendirikan tenda dan bermalam di bawah Watu Tulis. Waktu mendirikan tenda kami mengalami tragedi yang mengherankan. Badai menerjang kencang ketika kami sedang mendirikan tenda. Tiang tenda yang sedang kami dirikan berubah-rubah jumlah, padahal sebelum kami masukan di flying sheet jumlahnya sama tapi setelah dimasukan jumlahnya beda dan memaksa kami untuk mengganti. Namun anehnya, setelah kami ganti dengan jumlah yang sama dan didirikan lagi jumlahnya berbeda. Kejadian ini terjadi berulang-ulang. Hingga akhirnya kami berhasil mendirikan satu tenda sempurna dan yang satunya asal-asalan.
Keesokan harinya, udara dingin begitu menggigilkan kulit kami. Dari kejauhan di arah barat terlihat dua puncak gunung, sepertinya itu adalah puncak Sindoro-Sumbing.  Setelah mempersiapkan sarapan, membereskan tenda dan sebagainya kami melanjutkan perjalanan. Sayangnya, kabut tebal dan kerasnya tiupan badai mengiringi perjalanan dan menghalangi pemandangan kami untuk menikmati keindahan alam sekitar. Setelah berjalan kurang lebih 2-3 jam kami sampai di Puncak Syarif. Lagi-lagi kabut mengurangi penglihatan kami untuk menikmati keindahan pemandangan alam yang begitu menakjubkan.
Setelah puas dengan Puncak Syarif kami melanjutkan perjalanan menuju Puncak Kentheng Songo. Jembatan setan yang diceritakan di internet begitu mencengangkan ternyata tidak sedramatisir itu. Jembatan setan hanya tebing kecil yang bisa dilewati dengan jalan pintas. Memang untuk mencapai Puncak Kentheng Songo dibutuhkan energi ekstra pasalnya kemiringan bisa sampai 60 derajat dengan track batu licin. Kami tidak begitu lama di Kentheng Songo, setelah menjamak qhosor shalat dhuhur dan asyar, pukul 03;30 sore kami harus meninggalkan puncak karena hujan turun.
Untuk perjalanan turun kami memilih jalur Selo. Menurut keterangan internet yang kami baca Selo merupakan jalur dengan pemandangan yang menakjubkan. Gunung Merapi yang menjulang tinggi dapat kami nikmati. Namun sayang, lagi-lagi kabut tebal menghalangi pemandangan kami. Meskipun demikian, selama perjalanan turun itu sesekali kami bisa melihat kemegahan Merapi dan mengambil gambar.
Perjalanan turun ini sedikit menguras tenaga dan adrenalin. Badai kencang, kabut serta hujan rintik-rintik menemani perjalanan turun kami. Kami sempat kehilangan arah setelah sampai di Sabana I, untungnya sebelum hari mulai gelap kami menemukan jalan. Namun lagi-lagi jalan yang kita temukan ternyata jalur yang jarang dilewati. Itu bisa kita ketahui karena track yang kita lewati berupa alang-alang lebat dan rumput panjang serta banyak jalan bercabang, selain itu sebelum pos 1 ternyata ada arah panah yang menunjukan bahwa untuk menuju puncak bukan ke arah yang kita lewati melainkan ke arah lain. Saya yang berada di depan sebagai penunjuk jalan merasa was-was, takut kalau salah arah, namun dengan bekal yakin kami sampai di Base Camp Selo dengan selamat.
Kami bermalam di Base Camp Selo dengan kondisi yang kusut dan lelah. Setelah bersih-bersih diri, sholat dan sebagainya kami merebahkan badan. Pada keesokan harinya kami diantar oleh yang punya Base Camp ke pasar Selo dengan mobil Pick Up bertarif Rp. 150.000. Dari pasar Selo menuju terminal Boyolali kami harus membayar Rp. 10.000/orang. Perjalanan berlanjut dari terminal Boyolali ke Solo. Untuk ke Solo kami tidak menggunakan angkutan umum melainkan menumpang truck yang kami berhentikan di dekat lampu merah. Sampai di stasiun Purwosari kami naik KA Prameks (Prambanan Ekspres) menuju stasiun Tugu dan kemudian menikmati satu malam satu hari jalan-jalan di Jogja.
Dengan moda Trans Jogja kami jalan-jalan di sekitar Malioboro dan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Baru pada Rabu malam setelah Isya’ kami meninggalkan Jogja dengan segala kenangannya. Kami balik pada malam hari dengan pertimbangan bisa tidur di bus dan akan sampai di Pare pada pagi hari. Namun, ketika sampai di terminal Jombang, handphone seorang teman dan juga kamera dlsr yang kita gunakan mengambil gambar selama perjalanan raib beserta file yang ada di dalamnya.
Pare, 09 April 2015.
Muhammad Ali Murtadlo
Reaksi:

2 komentar:

cewe alpukat said...

boro2 saya ke mt merbabu ke bromo aja udah loyo :'(

tapi asyik juga ya mas kalo backpakeran bareng temen, saya kalo ke mana2 solo traveler mulu :'(

Ali Murtadlo El-Fauzy said...

Iya mbak. Belum coba sih. Backpackeran bisa bikin stress hilang! :D

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India