Sebaik-baik Manusia Adalah Orang yang Bermanfaat Bagi Sesama (H.R Buchori Muslim)
“Hidup adalah perjalanan waktu dan perpindahan tempat. Kapan pun dan di mana pun kita berada, haruslah memberi manfaat bagi sesama, karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Learn, Share, Success! (Muhammad Ali Murtadlo)”

Wednesday, 10 February 2016

Catatan Perjalanan Mora Nederlands Cursisten Universitas Indonesia (MNC UI): Pekan Kedua



Hari Ke-8 (Kamis, 17 Des 15)
Selama berada di Jakarta, lebih tepatnya Depok aku bertekad akan selalu bangun malam sebelum subuh untuk Sholat Malam dan berlanjut belajar ringan bahasa belanda. Alhamdulillah, selama seminggu ini tekad itu terlaksana. Meskipun malam ini, aku berada di kasur empuk para angota legislatif, Allah masih berkenan untuk membangunkanku dan mengarahkanku ke tempat wudlu untuk kemudian bersimpuh di hadapan-Nya. Diiringi hujan rintik-rintik yang kulihat lewat jendela kamar, aku berusaha menghadapkan diri sepenuhnya kepada Ilahi dengan harapan akan selalu mendapatkan ridlo dan pertolongan-Nya, kapanpun dan dimanapun aku berada.
Karena takut telat masuk kelas, pukul 07;00 aku minta diantar ke Stasiun Duren Kalibata. Aku diberi oleh-oleh dari Jepang yakni Syal dengan tulisan Timur Leste, Kupluk warna belang hijau hitam, sisir jepang serta gantungan kunci bertuliskan Vietnam. Selama berada di KRL Syal dan kupluk itu aku pakai hingga sampai di kelas. Sudah seperti di Belanda, mengenakan syal dan kupluk.
Selama pelajaran berlangsung aku mencoba untuk menikmati. Namun ketika masuk sesi kedua baru permulaan, rasa kantuk datang menyerang. Aku berusaha melawan namun tetap tak dapat. Anehnya, ketika pelajaran selesai pukul 16;00, kantuk itu, dengan sendirinya minggat. Padahal, inginnya ketika sampai kos mau tidur eh, malah tak bisa. Itulah godaan terbesar dalam belajar, ngantuk dan malas. Tapi, aku bertekad tak akan mau dikalahkan oleh rasa kantuk dan malas. Apalagi, Hanik, wanita cantik yang selama ini mengisi dan bersemayam di relung hatiku berulang-ulang memberi suntikan semangat. Dia akan memberi hadiah spesial katanya, kalau aku bisa mencapai target dapat berangkat ke Belanda. Ah, mana mungkin aku bisa bermalas-malasan, aku tak mau mengecewakannya.

Hari ke-9 (Jumat, 18 Des 15)
Jum’ah mubarok, begitu kata orang-orang. Semoga keberkahan akan selalu bersemayam di sepanjang hari. Seperti biasa menjelang sholat subuh aku pergi ke masjid al-Faruq untuk melaksanakan sholat berjamaah. Depok dilanda hujan semalaman. Tidak begitu deras namun cukup untuk membuat tidur nyenyak. Shubuh inipun hujan masih turun rintik-rintik. Sehingga tak banyak yang bisa datang ke masjid.
Setelah aktivitas harian ba’da shubuh selesai, aku mengulangi pelajaran yang diajarkan kemarin. Inipun akan menjadi aktivitas rutinku ba’da shubuh selain membaca quran dan menulis catatan. Sudah tujuh hari kami mendapatkan materi mengenai bahasa belanda. Semakin hari materi semakin banyak dan agak susah. Namun bagiku tak ada kata susah selagi mau dan niat belajar.
Seperti Jumat kemarin, aku mengikuti sholat jumat di Masjid UI. Kepanjangan UI bukan Universitas Indonesia melainkan Ukhuwah Islamiyah. Masjid UI berada di sebelah fakultas hukum dan perpustakaan pusat UI. Sekitar 200 meter dari fakultas ilmu budaya tempatku belajar. Masjid UI cukup besar jika dibandingkan dengan masjid Ulul Albab UINSA Surabaya. Yang paling membedakan antara masjid UI dan UINSA adalah kebersihan. Masjid UI jauh lebih bersih dan terawat dibandingkan masjid UINSA. Kebersihan suatu tempat dapat diukur dari kebersihan toilet dan kamar mandinya. Kalau kau berada di masjid UINSA pasti akan geram dengan kondisi toilet yang kumuh dan bau yang menyengat dengan pintu yang compang-camping.

Hari ke-10 (Sabtu, 19 Des 15)
Akhir pekan merupakan waktu yang paling ditunggu. Ngademne pikir kata orang jawa, setelah seminggu berkutat dengan buku pelajaran dan kosa kata bahasa belanda. Hari ini aku hanya melakukan aktivitas ringan di kamar. Yang paling spesial adalah bisa mendengar suara orang tersayang yang berada jauh di sana. Rindu itu sedikit terobati meskipun terus membuncah sulit terbendung.
Persiapan kecil-kecilan untuk menghadapi ulangan hari senin besok. Mereview materi yang sudah diajarkan mulai hari pertama. “Belajar bahasa belanda tak sesulit mempelajari bahasa arab” kata mevrouw Eliza. Itu yang menjadi pemantik semangatku. Kalau sudah menguasai bahasa arab tentu akan jauh lebih mudah untuk menguasai bahasa belanda. Aku berusaha untuk membuktikan itu. Rasa penasaran akan bahasa belanda tetap aku pupuk dalam pikiran agar semangat akan terus stabil tak berubah-ubah.
Langit Depok untuk beberapa hari kedepan akan ditutup mendung. Hujan ringan akan terus turun. Namun itu tak mampu memendungkan semangatku untuk terus melangkah ke depan. Sembari berselancar di dunia maya, aku mencoba mencari promo paket tiket pesawat murah. Dapat. 800 ribu pulang-pergi Jakarta-Kuala Lumpur untuk perjalanan Juni tahun depan. Airasia sedang banyak promo untuk perjalanan Januari hingga Juni tahun depan. Itu kesempatan emasku untuk bisa menginjakan kaki di negeri orang. Setidaknya dapat menghiurp udara negeri tetangga tak masalah.
Aku berkomunikasi dengan Aab, sahabatku dari Bandung yang sedang menempuh S1 di IIUM Malaysia. Dia siap untuk menerimaku di sana. Namun tiket belum aku dealkan karena harus berembuk dengan teman sekelas. Siapa tahu mereka pada mau untuk jalan bersama. Dilema, karena tanggal 20 besok adalah hari terakhir pemesanan. Namun kata seorang teman jangan terbur-buru nanti pasti ada promo lagi. Ya udah, semoga aja begitu. 

Hari Ke-11 (Minggu, 20 Des 15)
Minggu ini saya pergunakan untuk belajar menjelang ulangan (tots) besok senin. Awalnya ingin bangun malam seperti malam sebelumnya, namun kebablasan. Sekitar pukul 08:00 pagi bersama teman-teman kost aku ke pasar kaget untuk membeli keperluan makan seperti piring, mangkuk, sendok, lepek dan botol minuman. Seperti minggu kemaren harga barang-barang perkakas itu masih sama, sepuluh ribu dapat tiga.
Menjelang siang aku kedatangan teman kuliah dulu di UIN Sunan Ampel Surabaya. Syamsul Arifin, pemuda asal Jember itu sedang berkunjung ke Jakarta dan mampir ke Depok kemudian main ke tempat kostku. Syamsul begitu aku memanggil adalah mantan wakil presiden DEMA (Dewan Eksekutif Mahasiswa) UIN periode 2013-2014. Sebenarnya kami bukan satu kelas melainkan hanya satu jurusan. Dia kelas E, yakni kelas khusus anak-anak program Beasiswa dari KEMENAG, PBSB, sedangkan aku di kelas D yakni kelas campuran.
Kami saling mengenal dalam organisasi. Dulu ketika semester satu aku sempat ikut PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), namun berhenti ditengah jalan karena berbagai pertimbangan. Kemudian kami juga sering bertemu dalam organisasi IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama) kurang lebih selama  dua tahun dalam kepengurusan. Terakhir, kami bertemu di Kampung Inggris Pare saat dia hendak ikut seleksi beasiswa Teaching Clinic (TC) di Global English dan aku menjadi panitianya. Pertemuan kita sering terjadi lantaran kesamaan mimpi hendak melanjutkan kuliah ke luar negeri. Program ini, Kursus Bahasa Belanda ini pun, dia ikut mendaftar namun belum beruntung, tidak lolos di tahap pertama, seleksi administrasi. Dengan terpaksa, dia tetap stay di Pare dan mengajar di sana.
Kami ngobrol lama tentang perjalanan hidup dan rencana di masa depan. Saling bertukar cerita untuk menjadi pemantik semangat satu sama lain. Hingga selepas dluhur sekitar pukul 14;00 dia undur diri hendak kembali ke rumah kerabatnya di dekat Kukusan Kelurahan. Akhirnya kami berpisah, namun pertemuan itu akan tetap terkenang sebagai bukti perjalanan hidup yang tak akan terlupakan.
Mendung masih tetap menyelimuti langit depok. Hujan rintik-rintik terus berjatuhan hingga menjelang maghrib. Temanku dari Bogor balik dan suasana sepi sendirian kembali rame serta menyenangkan. Pasalnya, selain kedatangannya, aku juga sedang bahagia lantaran kekasihku di Surabaya sana meneleponku. Kami asyik ngobrol laksana dua sejoli sedang melepas kerinduan, hinga tak sadar waktu menunjukan pukul 5 sore. Aduh, rindu itu semakin menjadi.

Hari Ke-12 (Senin, 21 Des 15)
Ini adalah senin minggu kedua aku berada di UI. Suasana semakin nyaman dan aku mulai merasa kerasan. Beda dengan suasana di Surabaya. Mungkin karena sudah terlalu lama tinggal di Surabaya jadi merasa bosan berada di sana. Di UI mulai minggu ini sebagian mahasiswa sudah menjalani masa libur akhir semester. Suasana kampus masih sedikit lengang daripada biasanya.
Perjalananku menuju kampus tak begitu lama. Hanya butuh kira-kira 15 menit jalan kaki. Seperti biasanya, sebelum sampai di kampus aku dan kawan-kawan menyempatkan sarapan nasi uduk di warung yang berada di jalan menuju kampus. Hanya dengan Rp.5.000 perut kami sudah kenyang. Mungkin adalah menu sarapan termurah yang pernah aku rasakan. Di Surabaya, harga seporsi makanan minimal Rp.7.000. Aku jadi ingat masa-masa di Pare. Di mana aku dan teman-teman TC6, sebelum program kelas di mulai menyempatkan diri sarapan di warung Annur. Warung favorit dan terkenal dengan harga murah.
Oya. Hari ini kami ada Toets 1. Toets adalah ulangan atau latihan bahasa belanda untuk mengevaluasi pemahaman kami terkait materi-materi yang sudah diberikan. Toets berjalan lancar dan Alhamdulillah jawabannku banyak yang benar, meskipun ada beberapa yang salah tulis. Sorenya, kami mampir di toko/lapak buku cak Tarno yang terletak di belakang kantin FIB. Bukunya bagus-bagus aku tertarik dengan satu buku karangan Yasraf Amir Piliang. Tapi keinginan untuk memilikinya aku tahan dulu. Dompet lagi tipis dan uang beasiswa belum cair.

Hari Ke-13 (Selasa, 22 Des 15)
Pagi-pagi sekali aku bangun, sebelum shubuh. Setelah aktivitas harian selesai, aku kepikiran untuk menuliskan sebuah laporan berita atau citizen reporter untuk koran Surya Surabaya. Akhirnya, aku menyempatkan diri beberapa saat untuk menulis sebuah tulisan ringan mengenai kegiataan atau program yang sedang kulaksanakan saat ini, program khusus bahasa belanda. Koran surya mempunyai rubrik khusus yang diberi nama Citizen Reporter yakni rubrik yang menampung pembaca untuk menuliskan laporan terkait kegiatan atau aktivitas yang menarik dan bermanfaat untuk dibagikan. Dulu, rubrik ini bernama Warteg, dan di rubrik inilah tulisan pertamaku dimuat. Semakin lama, aku sering nulis untuk rubrik ini hingga akhirnya kenal dengan editornya, Mbak Tri Hatma Ningsih.
Kembali ke kursus bahasa Belanda. Menurut sebagian teman materi hari ini sedikit berat. Pada sesi pagi, bersama meneer Achmad, kami langsung membahas dua les sekaligus dan itu cukup menguras tenaga dan fikiran. Apalagi suasana kelas yang agak monoton sehingga mengubah rasa bosan menjadi kantuk. Namun,di akhir kami diberi sedikit hiburan dengan mendengarkan lagu belanda dan sedikit permainan menyusun lirik lagu tersebut. Sedangkan di sesi kedua, bersama mevrouw Barbara kami membahas Grammatica yang agak berat. Yakni tentang Imperfectum dan perfectum. Apa itu? Akan aku jelaskan di hari berikutnya.

Hari Ke-14 (Rabu, 23 Des 15)
Tulisan mengenai program kursus bahasa Belanda hari ini dimuat di koran cetak Surya (Tribun News Jawa Timur). Koran surya merupakan koran lokal Jawa Timur yang mempunyai oplah lumayan banyak. Itu artinya ada banyak masyarakat di Jawa Timur yang sedang membaca tulisan serta melihat fotoku. Hehe. Meskipun tanpa honor paling tidak bisa menyebar informasi dan menebar inspirasi. 
 
Nampang di Koran

Materi hari ini masih tetap sama tentang Imperfectum dan Perfectum. Dalam bahasa belanda juga mengenal adanya tenses atau penggunaan kata kerja berdasarkan waktu. Imperfectum itu seperti past tense dalam Bahasa Inggris sedangkan perfectum itu kayak present perfect dalam bahasa inggris. Penggunaannya hampir sama. Imperfectum menggunakan verba stamb dan di tambah huruf “de/te” untuk tunggal dan “den/ten” untuk jamak. Tentu harus tetap memperhatikan subjeknya. Sederhana tapi juga harus teliti dalam menggunakannya. Perfectum lebih rumit lagi. Rumus dasarnya menggunakan “Hebben/Zijn + ge+stam+d/t”. Itu hanya berlaku bagi yang regelmatig (Reguler verb) sedangkan untuk onregelmatig (Irreguler Verb) harus dihafalkan. 
Sesi kedua aku ngantuk banget. Sudah izin dua kali keluar ruangan untuk cuci muka dan jalan-jalan mengitari gedung namun tetap saja tak mampu mengalahkan rasa kantuk. Baru setelah pelajaran usai rasa kantuk itu terkalahkan karena mendengar bahwa uang beasiswa turun dan sudah bisa diambil. Alhamdulillah.

Baca Juga Episode Sebelumnya  MNC Pekan Pertamaa
Reaksi:

2 komentar:

Horas Sumut News said...

Baca Juga Berita Riau Terbaru hari Ini Disini Horas Sumut News

Artikel Bermanfaat, Trims.. Jgn Lupa Baca Berita Riau Terbaru di Horas Sumut News

Ali Murtadlo El-Fauzy said...

Term ksh sudah mampir. Salam..

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India