Sebaik-baik Manusia Adalah Orang yang Bermanfaat Bagi Sesama (H.R Buchori Muslim)
“Hidup adalah perjalanan waktu dan perpindahan tempat. Kapan pun dan di mana pun kita berada, haruslah memberi manfaat bagi sesama, karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Learn, Share, Success! (Muhammad Ali Murtadlo)”

Selasa, 09 Februari 2016

Catatan Perjalanan Mora Nederlands Cursisten Universitas Indonesia (MNC UI): Pekan Pertama


Akhir tahun 2015 ini ditutup dengan banyak kejutan. Entah skenario apa yang Allah tetapkan dan  hendak diaplikasikan di hari-hari dalam kehidupanku. Semenjak keinginan untuk melanjutkan kuliah keluar negeri terhenti lantaran tidak lolos seleksi LPDP pada bulan september lalu, saya merasa drop, kehilangan semangat hidup. Terlalu banyak fikiran yang bersemayam di otakku. Hingga aku merasa berkecil hati dan ingin mengubur dalam mimpi-mimpiku untuk kuliah keluar negeri.


Kurang lebih selama 3 bulan saya seperti dalam kepura-puraan. Fisik terlihat sehat namun hati dan fikiran berantakan. Dalam kurun waktu itu, aku merubah haluan untuk mencari kerja. Kerja apapun, yang penting bisa untuk bertahan hidup selama di Surabaya. Namun, mendapatkan kerja tidak semudah itu, apalagi aku tak banyak memiliki keahlian. Hanya mengandalkan pengalaman mengajar bahasa Inggris dan sertifikat microsoft. Alhasil, tak ada satupun lamaran kerja yang dapat kudapatkan. Kesimpulannya aku menjadi penganguran.

Setelah mengalami proses seperti itu aku mencoba untuk sebisa mungkin husnudzon dengan apapun yang terjadi dalam hidupku. Rencana Allah lebih menggembirakan dari rencana yang ada dalam list kita. Pada akhir november aku mendapatkan pekerjaan sebagai penjaga penginapan baru di daerah sekitar Unesa (Universitas Negeri Surabaya), tepatnya sebelah kiri pas kantor PW PKB Jawa Timur. Namun hanya bertahan 5 hari dan aku memutuskan untuk berhenti. Setelah itu, angin segar berhembus aku dinyatakan lulus sebagai peserta pelatihan intensif kursus bahasa belanda yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Inilah ceritanya!

Hari Ke-1 (Kamis, 10 Des 15)
Rabu, 09 Desember 2015 saat negara ini mempunyai gawe besar yakni penyelenggaran Pilkada serentak di berbagai daerah, aku berada di kereta api ekonomi Gaya baru malam jurusan Surabaya-Jakarta Pasar Senen. Berangkat dari Stasiun Wonokromo pada pukul 12.00 dan tiba di Jakarta pada dini hari keesokan harinya. Ini merupakan kedua kalinya aku berada di stasiun pasar senen setelah pada jumat sebelumnya tiba di Jakarta untuk mengikuti seleksi di Kantor Kemenag samping masjid Istiqlal. Sedangkan, hari ini aku hendak mengikuti pembukaan sekaligus dimulainya kursus bahasa belanda selama 6 bulan kedepan di Pusat Bahasa Internasional Universitas Indonesia.

Foto dari angle berbeda
Kamis pagi itu, pertama kalinya aku naik moda transportasi Commuter Line atau bahasa kasarnya KRL menuju Depok. Perjalanan selama hampir satu jam itu diakhiri ketika sudah sampai di Stasiun Univ. Indonesia. Ya, hari itu juga adalah pertama kalinya aku menginjakan kaki di kampus UI yang terkenal itu. Kampus jaket kuning yang luasnya hampir 300 hectare itu memang megah dan aduhai. Jauh berbeda dengan kampus UINSA yang selama 4 tahun saya belajar di sana.


Sampai di Kampus langsung menuju Pusat Bahasa Internasional FIB dengan panduan satpam. Lumayan jauh dari stasiun UI. Jalan kaki sekitar 5 menit. Kemudian mencari masjid namun tak kutemukan, yang ada mushola FIB yang letaknya dekat dengan danau. Aku dengan bawaan tas carrier layaknya hendak mendaki gunung menuju mushola untuk mandi. 

Pembukaan dimulai pukul 09:00 WIB. Diawali dengan penandatanganan kontrak pencairan dana kemudian dilanjutkan dengan pengarahan serta tujuan program kursus ini diadakan. Aku bersyukur karena program yang pertama kali diadakan ini memang benar-benar untuk tujuan yang jelas. Kementerian agama melihat bahwa banyak literature keislaman yang berbahasa belanda, untuk itu Kemenag menginginkan hasil dari pelaksanaan pelatihan intensif bahasa belanda ini nantinya bisa menjadi pionir untuk melakukan penelitian kajian keislaman, terutama yang berbahasa belanda. Selain itu, bagi mereka yang tertarik untuk melanjutkan studi atau penelitian ke Belanda nantinya akan dibiayai dan diberi hak istimewa.

Pelatihan ini akan berlangsung selama 720 jam dengan jangka waktu 6 bulan, dimulai tanggal 10 Desember dan akan berakhir pada 10 Juni 2016. Seminggu lima hari dimulai hari senin hingga jumat. Dibagi menjadi 2 sesi. Sesi pertama dimulai pukul 09;00 s.d 12;00 dan dilanjutkan sesi kedua pada siang hari jam 13;00 hingga 16;00 WIB. Setelah pembukaan selesai, pembelajaran langsung dimulai. Mevrouw Indira adalah dosen pertama yang mengenalkan kami tentang dasar-dasar bahasa belanda dan bagaimana cara perkenalan dan menanyakan nama. Aku mulai tertarik mempelajarinya karena sesuatu yang baru itu menurutku menyenangkan. Apalagi dengan dosen dan tenaga pengajar yang profesional serta cantik.
Suasana Kelas

Giliran mevrouw Eliza yang mengisi sesi kedua. Tak jauh beda dengan sesi pertama sesi kedua ini kami mulai diajari bagaimana melafalkan alphabet dalam bahasa belanda. Dalam pelafalan ada banyak persamaan dengan bahasa indonesia, hanya beberapa yang berbeda. Huruf “G” dilafalkan khas seperti huruf kho’ dalam bahasa arab. Mulai saat itu aku mulai penasaran dan ingin mempelajari lebih dalam lagi tentang bahasa belanda.

Hari Ke-2 (Jumat, 11 Des 15)
Aku masih menumpang di kost Givo, temannya temanku yang kuliah di jurusan administrasi negara semester 4 asal padang. Sembari berusaha mencari kost yang cocok, sementara aku menginap di sana. Hari kedua pembelajaran dimulai lebih awal karena hari ini jumat. Menheer Munif yang memberi pelajaran di jam pertama dan Mevrouw Indira di jam kedua. Setelah program masih sama missi selanjutnya adalah mencari kost namun belum dapat.
Hari Ke-3 (Sabtu, 12 Des 15)
Hari ini sabtu, kami libur. Agendanya adalah mencari kost. Seperti biasa pagi-pagi adalah jadwal ngopi. Pukul 09 melihat kost tapi tidak cocok. Membeli buku Dwilogi Andrea Hirata Padhang Mbulan dan Maryamah Karpov dan kubaca di dekat danau di bawah jembatan TEKSAS. Jembatan yang menghubungkan fakultas Teknik dan Sastra. Konon karena mahasiswa teknik kebanyakan cowok dan sastra kebanyakan cewek maka jembatan ini lebih terkenal dengan nama Jembatan Cinta. Alhamdulillah, hari ini akhirnya aku mendapatkan tempat kost di Kutek (Kukusan Teknik) di Jl. Masjid al-faruq belakang pondok Al-hikam (Pondok Milik Hasyim Muzadi, mantan ketua umum PBNU).
Berjalan di Jembatan Teksas

Hari Ke-4 (Minggu, 13 Des 15)
Setiap akhir pekan di gang dekat kostku ada pasar kaget, semacam bazar di gang muayyad Surabaya. Pagi ini aku bersama beberapa teman penasaran ingin kesana sekalian membeli keperluan yang belum ada di kost. Selanjutnya, agak siang ke JCC (Jakarta Convention Center) ada Gramedia Book Fair. Ini pertama kalinya aku datang ke kawasan Istora Senayan. Pertama kali masih bingung untung aku bersama Auli, teman dari Malang alumni Ma’had Ali Tebuireng.

Setelah banyak tanya ke petugas stasiun dan busway akhirnya aku menemukan rute yang pas. Yakni dari stasiun UI naik KRL turun stasiun juanda kemudian naik Busway menuju Harmoni dari harmoni transit bus jurusan Blok M dan turun terminal Polda Metro Jaya. Dari sana harus jalan sekitar 500 M kearah kompleks Gelora Bung Karno. Oya, naik busway di Jakarta sekarang sudah memakai kartu dan tidak butuh uang cash.

Karena ini pertama kali kesini aku sempat tersesat sampai di pintu gerbang Gelora Bung Karno (GBK). Disana ada acara Run Fun yang diadakan oleh BPJS Ketenagakerjaan. Sayangnya ketika kami sampai sana acara sudah kelar. Kami sempat menyaksikan penampilan Aryo Wahab menyanyikan lagu Papa nggak pulang. Setelah tanya ke polisi dan beberapa orang arah ke JCC akhirnya sampai di lokasi pameran buku.

Seperti pameran buku biasanya, Gramedia Book Fair ini juga menyuguhkan beberapa agenda dan konsep lain selain menampilkan buku. Ada Game, aplikasi dan juga TV kompas. Selain itu ada panggung besar di depan sebagai tempat great and meet dan beberapa seminar. Karena pas kami kesana adalah hari terakhir maka tidak ada seminar ataupun talkshow hanya acara untuk anak-anak, dongeng for kids.

Setelah puas melihat-lihat ribuan buku yang terpampang di rak aku menuju stand buku obral. 3 buku dengan judul Napak Tilas Ke Belanda, Fatwa dan Canda Gusdur serta Travel with Heart menjadi buku yang membuat aku tertarik untuk membelinya. Hanya dengan Rp.35.000 tiga buku tersebut masuk kantong plastik dan kubawa pulang. Saat itu aku mencoba mengisi TTS bantal, produk baru dari Kompas Cetak. Setelah selesai mengisi aku dapat buku catatan Kompas Muda. Jam 14;00 pulang, naik busway dari terminal JCC turun terminal stasiun Cawang dan naik KRL menuju UI. Hujan deras di sepanjang perjalanan.

Hari Ke-5 (Senin, 14 Des 15)  
Senin bagi sebagian orang menjadi hari yang menakutkan karena keceriaan libur akhir pekan harus berakhir. Namun bagiku senin ini merupakan hari yang kutunggu, pasalnya kursus akan dimulai. Kursus belanda ini membuatku penasaran ingin tahu lebih dalam bahasa belanda. Ternyata bahasa belanda itu menyenangkan, unik dan tidak sesulit yang kubayangkan sebelumnya.

Selfie met Mevrouw Indira
Hari ini kami diajar oleh dua dosen baru. Baru maksudnya beliau baru masuk di kelas kami pada hari ini. Jam pertama diisi oleh dosen wanita dengan kerudung ungu dan baju kaos coklat tampak begitu anggun. Saat berkenalan namanya mevrouw Zahroh, perawakannya tinggi, berumur sekitar 40-an tahun. Cara ngajarnya lumayan enak dan menyenangkan. Jadi tak terasa kalau jam sudah menunjukan pukul 12;00. Sedangkan jam kedua diisi oleh mevrouw Christina. Melihat penampilan dan juga namanya, kesan pertamaku mengira kalau beliau beragama nasrani, eh ternyata salah. Beliau Islam tulen. Kami belajar sampai di less 6. Oh ya, kami sudah dikasih buku panduan bahasa belanda Delftse Methode, Theorieboek, Oefinengenboek dan Buku Bacaan Bahasa Belanda. Buku-buku inilah yang menemaniku selama 6 bulan kedepan mempelajari bahasa belanda. Semoga dia mau jadi teman!

Hari Ke-6 (Selasa, 15 Des 15)
Pagi ini bersama teman sekamar, Alan Nuari, selepas sholat jamaah shubuh aku jalan-jalan keliling kampung kukusan, beji, depok. Alan begitu panggilanya adalah mahasiswa S2 STAINU (Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama) Jakarta yang berlokasi di Bogor. Dia berasal dari Kalimantan dan bersuku melayu sambas. Kami berjalan mencoba rute baru yang belum dilewati, kearah masjid Al-hikam dan masuk komplek pondok Al-hikam. Kami saling bertukar pengalaman dan berbagi cerita. Selama 6 bulan ke depan kami akan berusaha menjadi dua sahabat seperjuangan yang mempunyai mimpi sama, kuliah ke luar negeri.

Masjid Al-Hikam
Selain itu, aku berkawan akrab dengan dengan Auli, mahasiswa STAINU Jakarta dan alumni Tebuireng. Kami sering bercanda dan saling memberi motivasi serta sharing pengalaman. Selepas maghrib kami berkunjung ke kantor Pondok Al-hikam untuk bertanya terkait program pondok. Kantornya terletak di bawah masjid di sebuah ruangan bawah tanah. Kami ditemui oleh Mas Syauqi, Alumni Gontor yang sudah menempuh sarjana dari Kairo Mesir. Setelah mendapatkan banyak informasi kami undur diri karena waktu itu sudah menjelang sholat isya’. Setelah sholat bertemu dengan dosen STAINU, beliau alumni Australia yang menjadi salah satu reviewer LPDP. Alhamdulillah mendapatkan banyak motivasi dan suntikan semangat lagi untuk mengejar beasiswa kuliah ke luar negeri.
 

Hari Ke-7 (Rabu, 16 Des 15)
Hari ini kursus libur. Koordinator program, mevrouw Indira, dalam satu kesempatan ketika beliau mengajar pernah mengatakan bahwa untuk bulan Desember ini banyak liburnya. Bertepatan, hari ini Ahmad Maskur, teman satu kelas di UINSA, baru pulang dari Jepang selepas mengikuti program Jenesis, semacam program pertukaran pemuda. Selama dua minggu dia berada di sana.

Kami mengadakan janji untuk ketemuan di rumah kakaknya di Perumahan Jabatan DPR-RI di Kalibata, Jakarta pada pukul 09;00. Jam 08;00 aku berangkat dari kost menuju stasiun UI untuk kemudian naik Comutter Line dan turun di stasiun Duren Kalibata. Commuter Line pada jam-jam pagi atau jam berangkat kerja selalu penuh. Aku ikut serta bergelantungan di kereta selama perjalanan. Sampai di stasiun aku dijemput menuju ke rumah kakaknya. Dia banyak bercerita tentang program tersebut dan tentang Jepang. Dia mengelu-elukan Jepang dengan keindahannya, kebersihan dan toleransi penduduknya. Sangat berbanding terbalik dengan Indonesia. Bahkan di desa terpencil di kawasan Nagasaki tak ada sampah sedikitpun. Inilah realita.

Siang hujan hingga akhirnya pada pukul 14;00 kami ke PGC (Pusat Grosir Cicilitan) untuk membeli sesuatu. Ya, PGC itu semacam pasar turi atau DTC kalau di Surabaya namun sedikit agak luas. Hingga hampir pukul 5 sore kami baru balik ke Kalibata. Setelah maghrib keliling mencari apotek Kimia Farma yang letaknya belum diketahui sehingga muter-muter tak jelas. Ketika hendak balik kemaleman akhirnya menginap.



Malam ini, Indonesia sedang gaduh. Ketua DPR, Setya Novanto mengundurkan diri menjadi ketua DPR periode 2014-2019 setelah melalui drama politik mirip dagelan. Kasus papa minta saham itu bergulir panas setelah menteri ESDM, Sudirman Said melaporkan Novanto ke MKD atas dugaan pencatutan nama Presiden. Dalam rekaman percakapan antara Setya Novanto dengan Direktur Freeport Indonesia, Maroef Syamsudin dan pengusaha Reza Chalid mereka hendak melakukan kongkalikong terhadap perpanjangan kontrak freeport di Indonesia. Kasus tersebut telah bergulir panas dan membuat republik ini gaduh dalam minggu-minggu terakhir ini. Keputusannya adalah Setya Novanto mengundurkan diri sebelum diberhentikan secara tidak hormat. Itulah politik, tak ubahnya seperti sandiwara dalam opera. Malam ini hujan rintik-rintik terus berjatuhan hingga pagi menjelang.


(Akan berlanjut setiap pekan selama 6 bulan kedepan)

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India