Sebaik-baik Manusia Adalah Orang yang Bermanfaat Bagi Sesama (H.R Buchori Muslim)
“Hidup adalah perjalanan waktu dan perpindahan tempat. Kapan pun dan di mana pun kita berada, haruslah memberi manfaat bagi sesama, karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Learn, Share, Success! (Muhammad Ali Murtadlo)”

Sunday, 28 February 2016

Catatan Perjalanan Mora Nederlands Cursisten Universitas Indonesia (MNC UI): Pekan Kelima


Hari Ke-29 (Kamis, 07 Jan 16) 
Hasil toets kedua dibagikan. Nilaiku merosot tajam dari yang toets pertama 77,8 menjadi 57,8. Nilai seperti itu mendapatkan urutan ketiga setelah Mas Dawam yang pakar Islam Nusantara itu urutan pertama dan Si Alan Nuari, teman op de kamers-ku. Diam-diam dia memiliki kemampuan di atasku.


Hari Ke-30 (Jum’at, 08 Jan 16)
Seperti biasa, kami sholat jumat di Masjid terletak di samping perpustakaan pusat sebelah danau yang luas. Aku biasa sholat jumat di sana. Teman-teman kursusku, Alan yang tinggal samen met me dalam satu kamar kos, kemudian Auli, teman yang aku nyaman jalan dengannya, dan teman-teman yang lain. Masjid UI itu menjadi sepeti rumah kedua bagi umat islam termasuk aku.
DM I
Oke, aku akan menceritakan teman-teman kursusku. Aku mulai dari yang paling tua kemudian berurutan. Pertama, Dawam Multazam, seorang Master Sejarah Islam asli Ponorogo dan sudah derdomisili di Jakarta sejak memutuskan kuliah di STAINU Jakarta. Dia merupakan peserta kursus yang paling cepat menangkap pelajaran. Bagaimana tidak, dalam tiga kali toets (ulangan), tempat pertama yang mempunyai nilai tertinggi ada di benaknya. Sedangkan aku hanya mampu bertengger di peringkat ketiga. (Eh, yang toets ketiga aku peringkat kedua, hehe). Perawakannya tak begitu tinggi namun berwibawa. Sepertinya, dia adalah sosok yang kuat untuk menjalani cinta jarak jauh. Bayangkan, istri dan anaknya berada di Ponorogo sedangkan dia berada di jakarta untuk beberapa tahun. Mereka sudah menikah sejak masih dalam satu organisasi BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa). Aku menobatkan dia sebagai sosok inspiratif dalam hal hubungan jarak jauh. (Pasalnya aku juga sedang LDR-an Hahaha). Namun untuk menikah sedini itu aku belum berani.
Kedua adalah Dahrul Muhtadin. Sosok pendiam yang lama-lama menjadi ramai juga. Diam-diam dia menyimpan berbagai potensi. Saat ini sedang menempuh S3 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ketika dikelas kebanyakan dia diam. Tapi sekali berbicara mengeluarkan kata-kata ‘berat’. Dia asli Pekalongan, Jawa Tengah. Sebuah kota yang terkenal dengan produk Batik Pekalongan. Berbeda dengan DM yang pertama (Dawam Multazam), DM (Dahrul Muhtadin) ini tinggal bersama istrinya di Jakarta.
Dua dulu ya, yang lain menyusul di hari berikutnya.

Hari Ke-31 (Sabtu, 09 Jan 2016)  
Hari dipertemukan dengan orang-orang hebat. Pertama, Mas Wahyu dari Makassar, salah seorang peserta Mentoring Rumah Perubahan, Rhenald Kasali. Kami ngobrol banyak tentang pengalaman masing-masing. Dia justru lebih keren dengan mendirikan komunitas sosial yang bergerak membangkitkan semangat orang kusta di Makasar. Nama komunitas tersebut adalah “Aksi Indonesia Muda” (AIM) Makasar. Komunitas inilah yang mengantarkan para pegiatnya untuk meraih kesuksesan. Teman kursus saya, Muhammad Yusuf adalah salah satu pendirinya, seorang arsitek yang telah berkali-kali memenangkan berbagai kontes Interpreuner dan mengikuti berbagai konferensi International. Mas Wahyu ini adalah partner sekaligus lawan berdebatnya. Kedua, bertemu dengan Mas Martin. Dia adalah anak buah TEMPO, media yang terkenal itu. Bermula dari AIM itulah mereka dipersatukan dan kemudian ada beberapa titik yang saling terkait sehingga ada titikku disitu yang bersambung dengan mereka.
Malam minggu itu, kami jalan ke MH. Thamrin di Patung Pancoran atau patung yang terkenal dengan nama Patung Selamat Datang. Kemudian kongkow di Bar & Restaurant Skye. Sebuah tempat nongkrong elit yang tak sembarang orang bisa masuk. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar bisa masuk kesana. Pertama, harus memakai sepatu. Itu syarat mutlak. Penjagaan super ketat oleh banyak satpam itu tak memungkinkan bisa masuk hanya dengan mengenakan sandal. Saat itu timbul masalah, Martin tak membawa sepatu. Lalu apa yang terjadi? Kami bisa masuk tapi dengan strategi. Setelah kami masuk, Yusuf membawa sepatu di dalam tas dan menjemput Martin di luar. Strategi itu berhasil dan Martin bisa ngumpul di atas, di Lantai 51 BCA Tower. Masalah lain timbul, lalu bagaimana cara keluar? Kami ngloyor saja. Sempat terpergok penjaga namun tak sampai hati menegur dan kita dibiarkan keluar. Mungkin pikirnya “pakai sandal kog bisa lolo dari penjagaan”. Inilah hebatnya mahasiswa. Hahaha
Syarat kedua, kita tak diperkenankan datang bergerombolan. Maksimal 2 atau 3 orang. Jadi jangan harap bisa masuk kalau kau datang beramai-ramai sekampung. Ketiga, harus menyiapkan fulus ekstra. Harga minuman minimal sebesar Rp. 50.000.00,- . Bisa dibayangkan toch kalau harga segelas minuman saja sebesar itu, apalagi harga sepiring makanan. Jadi saranku jangan sering kesana bila buat makan sehari-hari saja masih nebeng sana-sini. Haha.
Orang ketiga adalah Sahlan, peserta rumah perubahan mentoring dari makasar juga. Tak lama kami saling ngobrol, karena pagi sudah menjelang ketika kami sampai di kost. Aku yakin bahwa pertemuan itu adalah pintu membuat titik-titik yang kemudian bisa menghubungkanku dengan sebuah titik-titik yang lain untuk menuju kesuksesan. 

Hari Ke-32 (Minggu, 10 Jan 16)
Entah berapa kali aku berpikir bahwa waktu semakin hari semakin cepat. Dunia seperti sedang dilipat. Minggu yang biasanya digunakan untuk jalan-jalan, aku hanya berdiam diri di kos. Lebih tepatnya aku mengistirahatkan diri setelah seminggu berkutat dengan buku diktat belanda. Sambil membaca buku, bbman, whatsappan, smsan dan telfonan. Begitulah kira-kira.

Hari Ke-33 (Senin, 11 Jan 16)
Mulai lagi dengan rutinitas. Mulai lagi datang kebosanan. Namun sebisa mungkin aku mengusir kebosanan itu. Salah satunya adalah dengan banyak melakukan hal-hal yang tidak monoton. Untungnya, dosen-dosennya diganti di setiap level jadi dapat meminimalisir kebosanan. Teman-teman kursus mungkin juga sama. Seperti yang kurasakan ini tak mungkin hanya terjadi pada diriku. Mereka pasti merasakannya.
Akhir-akhir ini di kelas sedang heboh demam mevrouw Indira. Mevrouw adalah sebutan bagi dosen perempuan. Mevrouw Indira adalah dosen paling cantik diantara yang lain. Sebagai laki-laki normal temen-temen yang laki-laki merasa termotivasi untuk semangat belajar  ketika diajar oleh mevrouw Indira.

Hari Ke-34 (Selasa, 12 Jan 16)
Tak ada cerita menarik. Hanya belajar dengan berbagai rutinitas harian itu. Maar Ik heb een interesante ervaringen. Akan aku simpan sendiri. Karena ini rahasia.
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India