Sebaik-baik Manusia Adalah Orang yang Bermanfaat Bagi Sesama (H.R Buchori Muslim)
“Hidup adalah perjalanan waktu dan perpindahan tempat. Kapan pun dan di mana pun kita berada, haruslah memberi manfaat bagi sesama, karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Learn, Share, Success! (Muhammad Ali Murtadlo)”

Saturday, 15 December 2012

Dahlan Iskan Di Mata Para Tokoh


Identitas Buku
Judul               : Inilah Dahlan, Itulah Dahlan
Penyusun         : Taufik Lamade & Rohman Budijanto
Penerbit           : Penerbit Noura Books (PT Mizan Publika)
Cetakan           : Kedua, Nobember 2012
Tebal               : 240 + vi
ISBN               : 978-602-9498-88-2 

Oleh: Muhammad Ali Murtadlo*)
Membincangkan sosok Dahlan Iskan memang tidak ada habisnya. Tidak hanya orang terdekat yang memberi komentar atas sikap dan tindakannya. Dari politikus, olahragawan, budayawan, wartawan, sampai mantan pesaing bisnisnya pun memberikan tanggapan yang serupa. Seperti yang tertuang dalam buku “Inilah Dahlan, Itulah Dahlan”. Buku ini merupakan komentar-komentar dari para tokoh dari berbagai bidang, seperti Mahfud M.D, Syaifullah Yusuf, Rhenald Kasali, Ary Ginanjar A, Denny Indrayana, Djoko Pitono, J. Sumardijanta, Hasibullah Satrawi, dan beberapa tokoh lainnya.
Seperti yang dijelaskan penyusunnya, Taufik Lamade dalam kata pengantar, buku ini berisikan berbagai artikel “berbau” Dahlan Iskan yang masuk di redaksi Jawa Pos namun tidak dimuat di koran cetaknya. Ditambah dengan artikel tentang dahlan iskan yang berserakan di media massa lain. Selain itu, penyusun buku juga meminta para penulis khusus untuk memperkaya perspektif buku ini.
Menyimak kisah perjalanan hidup Dahlan Iskan benar-benar mampu memberi sinyal-sinyal optimitas bagi Indonesia untuk menjadi Negara  maju. Menteri BUMN itu telah banyak melakukan gebrakan-gebrakan kontroversial yang menurut para tokoh dikatakan sebagai aksi koboi, namun tindakan itu merupakan reaktif dari kecarut-marutan permasalahan bangsa. Seperti aksi “ngamuk” saat di Jalan Tol, naik Kereta Listrik (KRL), naik ojek ketika kunjungan kerja, sampai menginap di rumah petani di Sleman, Jogjakarta.
Mahfud MD, Ketua Mahkamah Konstitusi itu menjuluki Dahlan dengan Dahlan Iskan Al-Dakhil yang artinya Dahlan Iskan Sang Pendobrak. Mahfud menisbatkan Dahlan dengan Abdurahman Al-Daakhil, keturunan Bani Umayyah yang berhasil membangun pusat peradaban islam di Cordoba, Spanyol. Kata Mahfud, Meskipun tidak harus diresmikan, Pemberian sebutan Al-Dakhiil kepada Dahlan Iskan tidaklah berlebihan. Setiap langkah Dahlan memang berwatak pendobrakan terhadap kejumudan politik dan pemerintahan kita. Politik dan pemerintahan kita sekarang ini sedang ditumbuhi oleh munculnya orang-orang Al Jahiil (kebodohan) dan Al Baakhil (keculasan, korupsi) sehingga penyebutan Al Daakhil bagi orang-orang seperti Dahlan Iskan menjadi perlu untuk diteriakan. (Hal. 19)
Kata Owen Podger Dahlan adalah agen perubahan (change-agent) hidup. Indonesia mempunyai banyak selebriti yang menjadi pejabat publik, tetapi Dahlan adalah pejabat publik yang menjadi selebriti. (Hal. 82). Orang-orang menyukainya karena dia melakukan berbagai hal yang dirindukan publik itu sendiri. Masyarakat cenderung menyukai sosok Dahlan bukan karena citra melainkan karena cinta. Cinta dengan sikapnya yang pekerja keras, bersih, tulus, sederhana, bahkan berani melanggar aturan demi kebaikan dan kesejahteraan rakyat.
Berbeda denga Owen, Ahmad Djauhar menyamakan Dahlan Iskan dengan Jusuf Kalla, Mantan Wakil Presiden RI. Menurut Djauhar, antara Dahlan Iskan dan Jusuf kalla, keduanya sama-sama berani menciptakan terobosan untuk mengatasi kebuntuan, serta selalu punya alasan kuat dan hampir tidak terbantahkan. Selain itu, keduanya juga memiliki kenekatan yang nyaris sama, yaitu sering menganggap aturan yang ada terlalu membatasi gerak cepat meraka. (Hal. 43)
Soebodro, pelatih Persebaya mempunyai cerita menarik saat Dahlan menjadi manager Persebaya tahun 1998. Dia tidak heran dengan aksi Dahlan yang membuka paksa pintu tol, naik kereta ekonomi, atau tidur di dirumah petani di desa, karena memang begitulah karekter Dahlan sejak dulu. Ke mana-mana ditemani kemaja putih, dan sepatu kets memang merupakan ciri khas Dahlan Iskan sejak dulu. Menurut soebodro dua kata yang pas untuk Dahlan Iskan, yaitu terbuka dan apa adanya.
Dalam buku ini juga termaktub aktivitas Dahlan selama menjadi aktivis mahasiswa di IAIN Sunan Ampel (cabang) Samarinda. Jaringan para aktivis mahasiswa yang kemudian dijaring menjadi partner di Jawa Pos menjadi aktivis jurnalis. Menurut penuturan Rosdiansyah, langkah Dahlan merekrut mantan aktivis mahasiswa menjadi jurnalis sejajar dengan apa yang diteorikan Jurgen Hebermas tentang aktivis mahasiswa sebagai “As intellectuals who renounce their social claas and place themselves as an avant-garde” (Sebagai intelektual yang meninggalkan kelas sosial mereka dan menempatkan dirinya sebagai avant-garde). (Hal.168)
Banyak yang dapat kita ambil hikmah dari kisah yang dituturkan para tokoh tentang Dahlan Iskan. Sosok pekerja keras, bersih dan tulus (bekerja tanpa pamrih), optimis, kecintaan yang sepenuh hati kepada profesi dan profesionalitas tinggi, cepat dalam mengambil keputusan, sederhana, kreatif, respek dalam melihat berbagai permasalahan dan masih banyak lagi segudang pelajaran yang dapat kita ambil dari sikap dan tindakan Dahlan.
Terlepas dari itu semua, buku ini patut dibaca oleh siapapun yang ingin mengenal lebih dalam sosok Dahlan Iskan. Layak dikonsumsi pula oleh semua kalangan karena bahasanya yang ringan namun lugas. Berbeda dengan buku-buku lain tentang Dahlan Iskan, dalam buku ini dikupas sosok Dahlan dari berbagai aspek dan sudut pandang yang bermacam-macam. Selamat membaca !

*) Pustakawan di IAIN Sunan Ampel Surabaya




Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India