Sebaik-baik Manusia Adalah Orang yang Bermanfaat Bagi Sesama (H.R Buchori Muslim)
“Hidup adalah perjalanan waktu dan perpindahan tempat. Kapan pun dan di mana pun kita berada, haruslah memberi manfaat bagi sesama, karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Learn, Share, Success! (Muhammad Ali Murtadlo)”

Jumat, 25 Desember 2015

Backpackeran Menuju Mt Merbabu


Lama tak menuliskan catatan perjalanan membuat tangan saya canggung untuk mengetik di keybord. Apalagi tombol S dan W di laptop tidak berfungsi, itu menambah rasa malas saya untuk kembali menulis. Tapi kalau tidak dimulai sekarang dan hanya menuruti rasa malas, saya hanya menjadi manusia yang terbuai dengan kemalasan. Padahal kata orang bijak, kemalasan adalah awal dari sebuah kegagalan.

Catatan perjalanan kali ini adalah tentang pertama kalinya saya backpapckeran ke Jawa Tengah. Bersama teman-teman Teaching Clinic (TC) 6 Global English Pare, saya hendak menaklukan puncak Merbabu. Gunung Merbabu yang terletak di antara Kabupaten Magelang dan Boyolali itu menarik minat kami untuk menginjakan kaki di puncaknya. Rencana backpackeran ini terjadi begitu saja ketika kami sedang makan sore di sebuah warung sederhana dekat BEC. Karena libur periode yang panjang, sekitar seminggu, membuat kami ingin menghabiskan waktu tersebut dengan sesuatu yang unforgetable, tak terlupakan. Akhirnya, setelah berdiskusi, kami memutuskan untuk mendaki Gunung Merbabu.

Mempelajari Bahasa Penjajah


Oleh: Muhammad Ali Murtadlo*)
Menurut catatan sejarah, selama kurang lebih tiga setengah abad Belanda menjajah Indonesia. Bahkan menurut Rosihan Anwar (2010), Belanda tidak mengakui Proklamasi yang dikumandangkan Soekarno-Hatta pada 17 Agustus 1945. Belanda baru mengakui penyerahan kedaulatan tanggal 27 Desember 1949 sebagai bermulanya negara merdeka berdaulat berbentuk federasi, yaitu Republik Indonesia Serikat (RIS). Sedemikian tegakah Belanda memperlakukan bangsa Indonesia sebagai negara jajahan?
Penjajahan selama itu tentu banyak sekali pengaruh yang ditinggalkan. Namun jangan berharap bahwa peninggalan yang diberikan Belanda adalah peninggalan yang bernuansa keilmuwan. Berbeda dengan negara bekas jajahan Inggris atau Prancis yang banyak meninggalkan pengaruh positif terutama pengaruh bahasa, negara jajahan Belanda justru hanya dieksploitasi kekayaan alamnya dan banyak terjadi tindakan pembodohan. Namun sejak penjajahan itu dihapuskan dari muka bumi, sebagai bangsa yang santun kita tidak menaruh dendam sedikitpun. Bahkan hubungan bilateral antara Indonesia-Belanda semakin hari semakin membaik.

Selasa, 08 Desember 2015

Aparat Keamanan versus Penegak Hukum

Oleh: Muhammad Ali Murtadlo

Ketika militer dan polisi negara lain melangkah maju dan bersatu dalam menghadapi segala macam ancaman dan permasalahan bangsa di Indonesia, aparat militer dan kepolisiannya justru terlibat aksi kekerasan. Alih-alih memelihara perdamaian, kedua institusi ini malah menebar aksi yang tak sedap dipandang mata.

Aksi perusakan dan pembakaran Mapolres Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatra Selatan, pada Kamis (07/03) oleh sejumlah anggota TNI dari Batalyon Artileri Medan (Yon Armed) 15/105 Tarik Martapura merupakan aksi yang menggambarkan bagaimana kedua institusi ini belum bisa bersikap dewasa.

Sabtu, 21 Desember 2013

Refleksi Hari Ibu Bagi Para Guru


Oleh: Muhammad Ali Murtadlo*)
Ketika ditanya siapa orang paling berjasa dalam hidup? Pasti kebanyakan orang  akan menjawab, dia adalah ibu. Ibu adalah orang yang melahirkan, membesarkan, merawat dan mendidik kita mulai dari bayi hingga kita dewasa bahkan sampai tua. Tidak ada yang mampu menandingi jasa seorang ibu kepada anaknya, sekalipun ibu tidak pernah meminta balas jasa.
Meskipun ibu bukanlah dewa ataupun malaikat, kasih sayangnya lebih dari sekedar malaikat. Ibarat anggota tubuh, Ibu adalah mata dan anak adalah kaki. Ketika kaki luka, tanpa diminta mata akan mengeluarkan air mata. Begitu juga ibu, ketika anaknya sakit dia akan merasakan sakit pula. Bandingkan jika mata sakit, apakah kaki akan peduli? Hanya kaki yang berbakti yang akan peduli.

Senin, 19 Agustus 2013

Menyanyikan Indonesia Raya di Ketinggian 3265 Mdpl (Catatan Perjalanan Menaklukan Puncak Gunung Lawu Magetan)



Oleh; Muhammad Ali Murtadlo*)

Terinspirasi dari novel yang difilmkan karya Dhonny Dhirgantoro, 5 CM, kami melakukan pendakian gunung. Namun lokasi pendakiannya berbeda. Jika Genta, Arial, Zafran, Ian, Riani dan Arinda melakukan pendakian di puncak Mahameru, kami berempat melakukan pendakian di puncak Hargo Dalem. Mahameru adalah puncak gunung Semeru, Malang, sedangkan Hargo Dalem adalah puncak gunung Lawu, Magetan. Kedua-duanya masih berada di kawasan Provinsi Jawa Timur.
Kamis, 15 Agustus 2013 kami berangkat dari Surabaya menuju Magetan. Perjalanan ini membutuhkan waktu kira-kira 5-6 jam. Dengan menggunakan jasa transportasi bus jurusan Sby-Jogja kami turun di terminal Madiun. Sampai terminal Madiun sekitar pukul 21;00 WIB. Dari terminal kami dijemput kawan menuju kediamannya, di Dusun Gambiran, Desa Madigondo, Kecamatan Takeran, Kabupaten Magetan.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India